Hancurnya Perasaan Ibunda saat Soekarno Bercerai dari Utari dan Inggit

Widi Agustian, Okezone · Selasa 08 Juni 2021 07:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 337 2421545 hancurnya-perasaan-ibunda-saat-soekarno-bercerai-dari-utari-dan-inggit-N9drs8MC70.jpg Foto:Ist

JAKARTA - Ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai merupakan seorang perempuan luar biasa. Sebagai seorang ibu, ada beberapa momentum luar biasa yang dia alami.

(Baca juga: Hikayat Radjiman Wedyodiningrat, Dokter Keraton Solo Pendiri Republik Indonesia)

Peristiwa yang paling mengharukan di Blitar adalah saat menikahkan Soekarno dengan Utari putri HOS Cokroaminoto namun kemudian Soekarno mohon untuk menceraikan Utari.

(Baca juga: Inggit Ganarsih, Istri Soekarno yang Lebih Memilih Cerai Ketimbang Dimadu)

Perasaan hancur dan sekaligus terharu menyelimuti hati Nyoman Rai Srimben, namun dirinya hanya bisa berkata "pilihlah jalan yang terbaik, dan kalau itu niatmu, silahkan jalani dengan baik". Demikian dikutip dari "Ibu Indonesia Dalam Kenangan" karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk, seperti dilansir dari Perpusnas.

(Baca juga: Saat Bung Karno Kebelet Pipis di Pesawat Pembom Jelang Kemerdekaan RI)

Rasa terharu kembali terulang ketika di Bandung, putranya Soekarno menulis surat bahwa dirinya akan menikah dengan seorang janda bernama Inggit Ganarsih.

Kehidupan di Blitar kembali bergemuruh ketika Nyoman Rai Srimben mendengar bahwa putranya bercerai dari Inggit dan kemudian menikah dengan Fatmawati, semua beritanya diterima dengan tabah.

Hasil pernikahan Soekarno dengan Fatmawati memberikan seorang cucu yang sangat diharapkan oleh Nyoman Rai Srimben dan R Soekeni. Nyoman Rai Srimben dan R Soekeni menyaksikan kelahiran cucunya di Jakarta.

Kebahagiaan Nyoman Rai Srimben tidaklah lama karena pada saat berjalan-jalan di Jakarta R Soekeni terjatuh dan sakit keras hingga akhirnya meninggal pada tanggal 8 Mei 1945. Kemudian Nyoman Rai Srimben kembali ke Blitar.

Di hari tuanya ketika Soekarno telah menjadi orang pertama di Republik Indonesia, Nyoman Rai Srimben tidak pernah mau menginjakkan kakinya di Istana Negara. Nyoman Rai Srimben menjadi pelopor perkawinan campur antar suku, sehingga mungkin memberikan inspirasi kepada Soekarno untuk menyatukan Nusantara menjadi Republik Indonesia.

Pada tanggal 12 September 1958, Nyoman Rai Srimben meninggal dunia dan dimakamkan berdampingan dengan makan putranya Soekarno dan suaminya R Soekeni Sosrodihardjo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini