Share

Kisah Ki Ageng Mangir yang Kepalanya Dibenturkan di Batu oleh Mertuanya Panembahan Senopati

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 06 Juni 2021 08:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 06 337 2420878 kisah-ki-ageng-mangir-yang-kepalanya-dibenturkan-di-batu-oleh-mertuanya-panembahan-senopati-zOtOqBUbem.jpg Panembahan Pasopati.(Foto:Wikipedia)

WATU GILANG merupakan batu hitam berbentuk persegi, berukuran 2 m di setiap sisinya, tingginya 30 cm dan terletak di sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk untuk melindungi batu ini.

Batu ini dipercaya dulunya merupakan singgasana Panembahan Senopati. Dulu tempat berukuran 3×3 m ini dipercaya terletak di tengah pelataran yang dulunya berupa keraton.

Di sisi sebelah timur batu terdapat cekungan. Cekungan ini konon muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati, hingga tewas.

Ki Ageng Mangir sendiri merupakan musuh dari Panembahan Senopati. Untuk menaklukkannya, Panembahan Senopati melakukan taktik apus krama atas usulan dari Ki Juru Mertani.

Baca Juga: Cerita Ratu Kidul "Kesemsem" Panembahan Senopati

Taktik Apus Krama ini adalah taktik dengan cara mengirimkan Roro Pembayun –puteri Panembahan Senopati-menjadi penari tayub untuk memikat Ki Ageng Mangir.

Setelah Ki Ageng Mangir tertarik dan menikahi Puteri Pembayun, maka ia harus menghadap ke mertuanya yang yaitu Panembahan Senopati.

Sesampai di Keraton Kotagede, pengawal melarang Ki Mangir masuk karena masih membawa senjata (tombak ki baru klinthing).

Atas dasar etika kerajaan yang melarang membawa senjata bila menghadap raja, maka Ki Mangir meletakkan senjatanya dan menghadap mertuanya untuk meminta restu.

Saat Ki Ageng Mangir sungkem inilah ia kemudian dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan membenturkan kepalanya ke singgasana Watu Gilang hingga ia tewas seketika.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

“Saat itu Ki Ageng Mangir datang menghadap sebagai seorang menantu. Ketika dia sedang sungkem, Panembahan Senopati membenturkan kepala menantunya ke Watu Gilang," kisah ujar Yanto, juru kunci situs Watu Gilang.

Makam Ki Ageng Mangir bisa ditemui di Kompleks Makam Kotagede yang memiliki keunikan tersendiri. Makam Ki Ageng Mangir sebagian berada di dalam benteng makam, sedangkan sebagian lainnya berada di luar benteng. Ini terjadi karena Ki Ageng mangir yang dianggap musuh dalam selimut Kerajaan Mataram.

Sementara Roro Pembayun setelah meninggal malah tidak dimakamkan di makam Kotagede. Menurut cerita, sejak meninggalnya Mangir, Roro Pembayun kemudian dititipkan pada Ki Ageng Karanglo dan dimakamkan di Karang turi, 2 km sebelah timur Kotagede.

Awalnya situs ini berada pada ruang terbuka, namun untuk melindungi situs ini dibangunlah suatu bangunan yang melindungi situs ini pada tahun 1934 atas perintah Hamengkubuwana VIII.

Pada sisi timur batu ini terdapat kikisan seperti bekas bekas pukulan sesuatu. Dulu batu ini terletak di Pendopo, tapi peninggalan Pendopo sudah tidak ada lagi sejak runtuhnya kerajaan Mataram.

Di atas watu gilang terdapat pahatan-pahatan tulisan dalam beberapa bahasa yang sudah tidak dapat terbaca lagi karena sudah terkikis. Tulisan ini konon berisi tentang keluh kesah dan kepasrahan terhadap nasib.

Konon di batu ini pula, Sutawijaya atau Panembahan Senopati mendapat wangsit melalui Lintang Johar. Batu andesit hitam ini dibawa dari hutan Lipuro yang kini dikenal dengan daerah Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY. Di atas singasana batu inilah Kerajaan Mataram digerakkan oleh Panembahan Senopati.

"Orang yang datang ke tempat ini biasanya untuk menjalankan ’lelaku’ atau semacam ritual terkait dengan kepercayaan tertentu. Ada juga yang ingin hajatnya terkabul misalnya naik pangkat, sekolahnya lancar dan rejekinya bertambah,"ucapnya.

Kotagede, terletak di selatan Kota Yogyakarta. Dulu merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam pada abad XVI-XVII, sebelum akhirnya berpindah ke Kartosuro tahun 1614.

Di daerah ini kita bisa melihat peninggalan-peninggalan Mataram yang didirikan tahun 1575 oleh Panembahan Senopati.

Di antara beberapa peninggalan Mataram Islam di Kotagede adalah situs Watu (batu) Gilang dan Watu Gatheng.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini