Misteri Pesantren Sunan Bonang yang Lenyap Tak Berbekas

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 05 Juni 2021 18:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 05 337 2420744 misteri-pesantren-sunan-bonang-yang-lenyap-tak-berbekas-GaX34eiWNs.jpg Misteri Pesantren Sunan Bonang yang lenyap (Foto: Doddy Handoko)

BABAD Tanah Jawi menceritakan bahwa setelah Sunan Bonang mengundurkan diri dari kedudukannya di Masjid Demak, dia berjalan menyisir pantai ke arah timur. Tujuannya ialah pulang ke kampung halamannya di Tuban, Jawa Timur

Ketika dia tiba di Desa Bonang, Lasem, niatnya kembali ke Tuban berubah. Dia merasa terenyuh melihat keadaan penduduk desa yang miskin dan kekurangan sumber air.

Kebetulan dia memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk menolong penduduk. Dia tahu tanda-tanda tanah yang mengandung sumber air.

Baca Juga:  Bekas Dahi dan Tapak Kaki di Batu Pasujudan Sunan Bonang yang Misterius

Dalam beberapa hari saja beberapa sumur digali di Bonang dan penduduk tidak lagi kekurangan sumber air.

"Sumur buatan Sunan Bonang masih dapat ditemui sampai sekarang," ujar penggiat sejarah Lasem, Abdullah Hamid

Sejak itu, Sunan Bonang memutuskan untuk tinggal di Bonang dan mendirikan pesujudan di Watu Layar.

Kabar bahwa Sunan Bonang mendirikan pesujudan terdengar di seluruh pulau Jawa. Murid-murid nya segera berdatangan. Kemudian dibangun sebuah pedepokan yang dilengkapi pentas pertunjukan wayang. Pedepokan ini berfungsi sebagai pesantren.

Selain berkebun dan bertani, Sunang Bonang dan santri-santrinya mengembangkan usaha kerajinan dan pertukangan. Para santri juga menangkap ikan dan udang kecil yang kemudian diolah menjadi terasi.

"Sampai sekarang terasi Bonang masih dijual penduduk Bonang," katanya.

Baca Juga:  Kisah Sunan Bonang Temukan Kitab Sultan Minangkabau yang Tenggelam di Laut

Sampai kini masyarakat sampai masih bertanya-tanya tentang keberadaan pesantren Bonang yang lenyap tak berbekas.

Di sekitar pasujudan Sunan Bonang ditemukan reruntuhan batu gunung dan batu bata merah yang biasa dibuat untuk candi.

Lokasi reruntuhan di dekat makam Jejeruk, desa Bonang. Batu bata itu tebal dan besar seperti di candi majapahit di Trowulan .

Kisah penemuan itu berawal dari seorang santri bernama Gus Syaiful yang akan membuat pesantren di atas Pasujudan Sunan Bonang. Ia membuat pesantren di pinggir hutan Bonang. Sekitar 100 meter dari pesantren itu terdapat reruntuhan yang menyerupai bukit tertutup dedaunan.

“Lokasi batu bata dan batu candi berserakan dekat pesantren yang mau saya buat di pinggir hutan di Bonang,” katanya ketika ditemui di Masjid Lasem, beberapa waktu lalu.

Ia menduga bangunan itu pesantren peninggalan Sunan Bonang. “Saya duga bekas bangunan itu pesantren sunan Bonang . Ia melihat di bawah bangunan itu ada semacam pondasi masih tertimbun di bawah tanah. Dari jauh kelihatan seperti gundukan tanah yang agak tinggi.

Selain itu, ia juga menemukan pecahan-pecahan gerabah dan sumur tua di sekitar lokasi bangunan itu. Terdapat juga juga lempengan batu yang tertata rapi.

Desa Bonang terletak di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Bonang bisa ditempuh dari kota Rembang ke arah Tuban sekitar 17 km.

Sunan Bonang diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-15 M dan wafat pada awal abad ke-16 M. Ada yang memperkirakan wafat pada tahun 1626 atau 1630, ada yang memperkirakan pada tahun 1622 (de Graff & Pigeaud 1985:55).

Dia adalah ulama sufi, ahli dalam berbagai bidang ilmu agama dan sastra. Juga dikenal ahli falak, musik dan seni pertunjukan. Sebagai sastrawan dia menguasai bahasa dan kesusastraan Arab, Persia, Melayu dan Jawa Kuno.

Nama aslinya ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dan dari sumber-sumber sejarah lokal ia disebut dengan berbagai nama gelaran seperti Ibrahim Asmara, Ratu Wahdat, Sultan Khalifah dan lain-lain (Hussein Djajadiningra 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1968).

Nama Sunan Bonang diambil dari nama tempat sang wali mendirikan pesujudan (tempat melakukan `uzlah) dan pesantren di desa Bonang, tidak jauh dari Lasem di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sekarang ini.

Tempat ini masih ada sampai sekarang dan ramai diziarahi pengunjung untuk menyepi, seraya memperbanyak ibadah seperti berzikir, mengaji al-Quran dan tiraqat (Abdul Hadi W. M. 2000:96- 107).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini