Kisah Bayi Aryo Penangsang Dihanyutkan di Sungai dan Ususnya Dikalungkan di Keris

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 04 Juni 2021 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 04 337 2420080 kisah-bayi-aryo-penangsang-dihanyutkan-di-sungai-dan-ususnya-dikalungkan-di-keris-bIaq6OTZ8k.jpg Ilustrasi (Foto:Istimewa)

DESA JIPANG zaman dulu merupakan pusat Kadipaten Jipang-Panolan dengan Aryo Penangsang sebagai Adipatinya. Kadipaten Jipang-Panolan, dulu membawahi kabupaten Blora, Rembang, Pati dan mungin juga Jepara.

Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan, Aryo Penangsang merupakan putra dari Pangeran Sekar Sedalepen, Adik dari Raja Demak yang kedua : Pangeran Pati Unus, dan merupakan anak kedua dari Raden Patah, Raja pertama dan pendiri kerajaan Demak.

Pati Unus hanya sebentar menjadi Raja di Demak, karena kemudian ia gugur ketika memimpin pasukan yang mencoba mengusir sepasukan bangsa Portugis yang menguasai Malaka.

"Karena Pangeran Sekar Sedalepen adik kedua dari Pati Unus juga meninggal. Ia meninggal di tepi sungai dalam sebuah peperangan dan ia menghanyutkan anaknya, Aryo Penangsang yang masih bayi di sungai agar selamat. Ia sendiri mendapat nama tambahan Sedalepen, Seda = Meninggal, Lepen = Sungai, karena peristiwa ini,"kata penggiat sejarah, Mohammad Al Mahdi.

Baca Juga: Ssst... Ada Tes Keperawanan dan Keperjakaan di Candi Sukuh, Kain Sobek atau Terkencing-kencing

Posisi Raja di Demak kemudian di ambil alih oleh Sultan Trenggono, anak ketiga dari Raden Patah. Bayi anak dari Pangeran Sekar kemudian ditemukan oleh sunan Kudus.

"Ia diberi nama Aryo Penangsang karena saat ditemukan ia tersangkut pada tumbuhan di pinggir sungai ( Penangsang = Temangsang = Tersangkut ),"jelasnya

Setelah Dewasa Aryo Penangsang menjadi Adipati Jipang dan berebut kekuasaan bekas kerajaan Demak dengan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir yang memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang.

Jaka tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya ini merupakan menantu dari Sultan Trenggono. Dalam peperangan ini terjadi banyak peristiwa yang hingga kini melegenda di masyarakat.

Pada saat perang itu untuk pertahanan di digalilah semacam parit yang melingkari Jipang lalu dihubungkan dengan Bengawan Solo hingga terbentuk lingkaran sungai melingkari Jipang.

Pada sore hari, karena pengaruh gravitasi bulan, air sungai bengawan solo pasang sehingga sungai yang melingkari Jipang tadi menjadi penuh. Oleh karena itu sungai ini dinamai Bengawan Sore.

”Sungai ini juga diberi semacam kutukan bahwa siapa yang menyeberanginya akan celaka. Dan kutukan tersebut akhirnya menjadi bumerang buat Aryo penangsang sendiri,”ungkapnya.

Dengan cerdiknya ki Jurumertani, seorang penasehat pasukan Pajang menyuruh prajurit pajang menunggangi kuda betina di luar sungai bengawan sore.

Saat itu Aryo Penangsang sedang menaiki kudanya yang terkenal bernama Gagak Rimang, seekor kuda jantan yang sangat gagah dan berbulu sehitam burung gagak, sedang berada di seberang dalam sungai.

Kontan saja Gagak rimang langsung berlari menyeberangi sungai bengawan sore karena tertarik dengan kuda betina prajurit pajang dengan Aryo Penangsang masih menungganginya.

Akhirnya terjadilah peperangan sengit antara Aryo Penangsang dengan Sutawijaya, seorang senopati Pajang, yang membawa tombak pusaka kerajaan Demak, Tombak Kyai Pleret.

Sebenarnya Sutawija sendiri merupakan keponakan Aryo Penangsang dan saat itu masih muda sekali sehingga Aryo Penangsang meremehkannya dengan tidak menghunus kerisnya.

Dan dengan tombak Kyai Pleret Sutawijaya dapat merobek perut Aryo Penangsang. Tetapi dengan kesaktiannya Aryo Penangsang tidak apa-apa walaupun ususnya terburai keluar. Lalu usus yang terburai tadi dikalungkanya pada keris di pinggangnya. Dengan kesaktiannya Sutawijaya dapat dikalahkan.

Namun Aryo Penangsang tidak berniat membunuhnya, mengingat Sutawijaya masih keponakannya sendiri. Ki Jurumertani yang berotak cerdik lalu malah memanas manasi Aryo Penangsang untuk membunuh saja Sutawijaya.

Aryo Penangsang akhirnya terprovokasi juga dan mencabut kerisnya yang terkenal dengan nama Keris Setan Kober. Aryo Penangsang lupa bahwa ia masih mengalungkan ususnya di keris tersebut hingga akhirnya ususnya terpotong lalu meninggal.

”Sampai sekarang peristiwa Aryo Penangsang yang mengalungkan ususnya di keris masih diabadikan dalam acara temanten tradisional di daerah utara dan timur jawa tengah, dimana temanten lelaki mengalungkan rangkaian kembang melati di keris yang terselip di pinggangnya,”katanya.

Dan setelah kekalahan itu tampaknya Jipang tidak lagi menjadi pusat Kadipaten dan sekarang Jipan hanya menjadi sebuah desa yang tanahnya begitu subur karena Bengawan Solo yang setiap selesai banjir meninggalkan lumpur humus yang subur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini