Ssst... Ada Tes Keperawanan dan Keperjakaan di Candi Sukuh, Kain Sobek atau Terkencing-kencing

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 02 Juni 2021 18:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 337 2419133 ssst-ada-tes-keperawanan-dan-keperjakaan-di-candi-sukuh-kain-sobek-atau-terkencing-kencing-YI0ZI8BhTg.jpeg Candi Sukuh. (Foto: Dok Pemkab Karanganyar)

DI CANDI Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terdapat relief ‘berani’ terpahat di lantai. Relief ini menggambarkan phallus yang berhadapan dengan alat kelamin wanita.

Menurut Agus, petugas Candi Sukuh, sebenarnya relief itu bukan vulgar atau porno, tapi relief ini adalah lambang kesuburan, ada filosofi yang terkandung di dalamnya. 

Relief itu mengandung makna yang mendalam, sengaja dipahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief itu segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena `suwuk`.

Relief ini mirip lingga-yoni, lambang kesuburan dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya, Parwati.

"Dari cerita buyut yang dulu juru kunci Candi Sukuh juga, relief ini untuk tes keperawanan calon pengantin,"ucapnya.

Baca juga: Kisah Bung Karno Jempol Kakinya Sakit, Lalu Pakai Sepatu Tenis Bolong Temui Dubes Asing

Pengantin laki-laki yang ingin menguji kesetiaan calon istrinya, dia akan meminta kekasihnya melangkahi relief ini. Jika kain kebaya yang dikenakannya robek atau terjatuh, maka dia masih perawan.

"Tapi sebaliknya, jika kainnya terlepas, sang isteri diyakini telah sudah tidak perawan," ungkapnya.

Sebaliknya untuk mengetes keperjakaan, calon pengantin laki-laki harus melangkahinya juga.

"Jika laki laki tersebut terkencing-kencing, maka menjadi bukti bahwa lelaki tersebut sudah tidak perjaka atau pernah melakukan perselingkuhan," paparnya. 

Baca juga: Sarung Dikenal sebagai Simbol Perlawanan pada Penjajah

Namun ia yang bertahun-tahun bertugas di Candi Sukuh tidak menjumpai lagi tes keperawanan seperti itu. Sekarang yang masih dilakukan untuk kesuburan wanita.

Jika ada suami istri yang belum dikarunai anak, mereka melakukan ritual di Candi Sukuh. Selain itu kadang diadakan acara ruwatan dengan menggelar pertunjukan wayang kulit.

Sebelah selatan candi, terdapat candi kecil yang di dalamnya ada arca dengan ukuran kecil pula. Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh, penguasa gaib kompleks candi tersebut.

Ada juga arca garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu terdapat prasasti menandai tahun saka 1363. Juga terdapat prasasti yang diukir di punggung relief sapi yang menyiratkan bahwa Candi Sukuh adalah candi untuk pengruwatan.

Dengan bukti-bukti relief cerita Sudamala, Garudeya serta prasasti-prasasti, maka dapat dipastikan Candi Sukuh pada zamannya adalah tempat suci untuk melangsungkan upacara-upacara besar (ritus) ruwatan. 

Sedangkan ditilik dari bentuk candi yang mirip dengan “punden berundak”, candi ini ditujukan sebagai tempat pemujaan roh-roh leluhur. 

Tradisi `ruwatan` juga masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat penganut Hindu yang berdiam di sekitar kawasan candi sampai sekarang. 

Candi Sukuh dibangun pada sekitar abad ke-15 oleh masyarakat Hindu Tantrayana. Dalam catatan sejarah, candi ini merupakan candi termuda dalam sejarah pembangunan candi di Bumi Nusantara.

Candi ini dibangun pada masa akhir runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kompleks situs purbakala Candi Sukuh berada di ketinggian 910 meter diatas permukaan laut. Berhawa sejuk dengan panorama indah.

Memasuki kompleks candi, pintu masuknya melalui sebuah gapura. Pada sisi gapura sebelah utara terdapat relief `manusia ditelan raksasa` yakni sebuah `sengkalan rumit` (candrasengkala) yang bisa dibaca `Gapura (9) buta (5) mangan (3) wong (1)` atau gapura raksasa memakan manusia, merujuk tahun yakni 1359 Saka, atau tahun 1437 Masehi, tahun dimana pembangunan gapura pertama selesai.

"Di sisi selatan gapura juga terdapat relief raksasa yang berlari sambil menggigit ekor ular,"jelasnya.

Menurut candrasengkalanya berbunyi `Gapura buta anahut buntut` (gapura raksasa menggigit ekor ular), yang merujuk pula tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini