Kabaintelkam Polri Paparkan Awal Mula Konflik di Papua, Dimulai dari Reformasi 98

Erfan Maaruf, iNews · Rabu 02 Juni 2021 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 337 2419060 kabaintelkam-polri-paparkan-awal-mula-konflik-di-papua-dimulai-dari-reformasi-98-aqgE9IXFNt.jpg

JAKARTA - Kabaintelkam Polri, Komjen Paulus Waterpauw menyebut reformasi 1998 selain memiliki banyak dampak positif juga memberi sejumlah catatan yang menimbulkan sejumlah peristiwa di Papua.

Hal itu dikatakan saat mengisi seminar Dialog Kebangsaan Lintas Generasi Papua yang digelar oleh Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada Rabu (2/6/2021).

"Adanya reformasi 1998 itu membuka ruang demokrasi di seluruh negeri ini sudah menimbulkan gerakan perlawanan di tanah Papua. Memang dampak reformasi banyak nilai plus tapi juga ada catatan bersama. Artinya tuntutan keadilan di tanah Papua semakin menguat," katanya Paulus.

Paulus Waterpauw menjelaskan rentetan peristiwa pasca reformasi 1998. Saat tahun pertama jatuhnya orde baru dan dibuka ruang mengeluarkan pendapat termasuk masyarakat Papua yang telah lama dipendam.

"Orang Papua dibebaskan untuk mengekspresikan aspirasi dan kebebasan mereka yang telah lama terpendam termasuk melakukan protes dan bahkan meminta kemerdekaan. Atas peristiwa itu terjadilah perkara kasus Biak berdarah," jelasnya.

Dia menyebut, dalam peristiwa 2 Juli 1998 tersebut tercatat ada kurang lebih 1000 orang lebih dipimpin oleh Filep Jacob Samuel Karma mengibarkan bendera bintang kejora yang dikenal sebagai peristiwa Biak Berdarah.

"Akibat peristiwa tersebut mengakibatkan hampir ratusan orang mengalami luka berat, 3 orang hilang, serta kurang lebih 6-8 orang meninggal dunia," jelasnya.

Peristiwa lain yang terjadi setelah reformasi adalah pada Senin 26 Februari 1999 sebanyak 100 tokoh mewakili Papua datang menghadap Presiden RI. Mereka menghadap untuk meminta berpisah dengan NKRI.

"Waktu itu presiden mengatakan bahwa saya bukan satu satunya orang yang mengambil keputusan di Republik Indonesia ini dan selahkan pulang dan pikirkan kembali. Beliau mengatakan itu hal penting tapi bukan perkara mudah pulanglah dan renungkan kembali aspirasi itu," jelasnya.

Gerakan lain yang terjadi setelah reformasi adanya adalah garakan separatisme Papua. Seiring dengan otonomi khusus terjadi pergerakan separatisme yang menyarakan perjuangan kemerdekaan melalui kekerasan bersenjata.

"Ada pihak yang menyuarakan perjuangan kemerdekaan melalui kekerasan bersenjata yang kemudian kita kenal separatis yang kita kenal sekarang ada wadah-wadah salah satunya The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)," jelasnya.

Tidak hanya itu, kemudian ada kelompok-kelompok diaspora yang terus bergerak seperti Oktavianus Mote di Amerika Serikat, Jakob Rumbiak di Australia, Rex Rumakiek di Vanuatu dan Benny Wenda di Inggris.

"Kemudian yang bergerak dengan menggunakan senjata ada KNPB, AMP dan lain sebagainya," pungasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Forum Senior Milenial (Forsemi) Papua, Ambassador Freddy Numberi menjelaskan, dengan memahami dan merevitalisasi semangat Nasionalisme di era milenial, diperlukan pendalaman nilai-nilai Pancasila yang hakiki.

“Sehingga di era digitalisasi dewasa ini, jiwa, semangat dan roh Pancasila benar-benar terinternalisasi dalam jiwa para generasi milenial Papua khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya”, lanjut Ambassador Freddy Numberi

Dengan demikian momentum hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2021 menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi negara dalam mewaspadai perbedaan pandangan dan perbedaan nilai-nilai ideologi transnasional yang radikal diera digitalisasi dewasa ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini