Menyedihkan, di Atas Situs Kerangka Manusia Prasejarah Dibangun Puskesmas

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 02 Juni 2021 07:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 337 2418686 menyedihkan-di-atas-situs-kerangka-manusia-prasejarah-dibangun-puskesmas-hUFXRGG4p3.jpg Situs manusia prasejarah Plawangan (Foto: Doddy Handoko)

JAKARTA - Situs kerangka manusia prasejarah Austronesia Plawangan di desa Plawangan, Kecamatan Kragan, Rembang, Jawa Tengah ditemukan secara tidak sengaja oleh sebuah tim dari Balai Arkeologi Jakarta.

"Kisahnya, tahun 1976 tim di bawah pimpinan Prof Dr Soejono sedang melakukan penggalian di sekitar situs batu megalitikum di Desa Terjan, selatan desa Plawangan," ujar juru kunci situs Plawangan, Junaedi, yang juga ikut membantu penggalian sejak 1977, Rabu (2/6/2021).

Pada 1977, seorang warga Desa Plawangan iseng-iseng datang ke Terjan menunjukkan sebuah tulang kepada anggota tim.

Ternyata tulang itu yang dicari selama ini oleh tim dari Balai Arkeologi. Kemudian dari 1977 hingga 1983 dilakukan penggalian terus-menerus hingga menemukan ribuan kerangka manusia prasejarah Austronesia.

Lantas tahun 1985 di desa Plawangan ditemukan dua rangka manusia dikubur dalam nekara perunggu.

"Nekara adalah semacam bejana atau dandang perunggu yang bentuknya terbalik. Pada umumnya nekara mempunyai berbagai macam ornamen atau hiasan, seperti bentuk bintang, binatang (burung, kodok, kadal, ikan dan sebagainya) serta bentuk-bentuk manusia atau kodok yang sudah distilir," ujar penggiat sejarah Lasem Koh Lam.

Nekara merupakan produk budaya prasejarah yang berkembang pada masa perundagian (paleometalik) dan berfungsi sebagai sarana dalam upacara keagamaan. "Dari penggalian di situs itu, menunjukkan manusia Plawangan pada 2500 tahun silam," terang Koh Lam.

Pada 1980-an, Balai Arkeologi sempat menawarkan kepada Pemkab untuk menjadikan situs Plawangan sebagai museum alam purbakala.

Namun, kala itu Bupati Suratman tidak menyetujui tawaran itu. Balai Arkeologi akhirnya hanya membeli sebidang tanah yang dipergunakan untuk membangun gedung penyimpan benda-benda temuan penggalian.

Baca juga: Ilmuwan: Manusia Purba "Masih Berayun" di Pepohonan 3,67 Juta Tahun Lalu Meski Bisa "Berjalan Tegak"

Kemudian, Pemkab Rembang membangun Puskesmas di situs penggalian kerangka manusia prasejarah itu. "Situs penggalian malah didirikan Puskesmas III Kragan dan rumah penduduk " ucap Junaedi.

Padahal di lokasi yang sekarang jadi Puskesmas itu bisa dijadikan museum galian, yakni galian situs bersejarah yang bisa langsung disaksikan masyarakat. ”Kalau cuma Puskesmas, bisa dibangun di mana saja tapi kalau tempat bersejarah, ribuan tahun prosesnya," katanya.

Di tanah pinggir pantai itu dulunya adalah komplek pemakaman sepanjang 200 meter hingga jalan nelayan di depan madrasah. Jika ada orang yang menggali tanah untuk pondasi bangunan di radius 200 meter, akan banyak ditemukan tengkorak manusia ataupun tempayan (gerabah) yang disertakan dalam pemakaman.

Baca juga: Melacak Diet Manusia Purba

Ada peristiwa, tukang saat hendak membuat septic tank untuk Puskesmas, tanpa sengaja juga menemukan 12 tempayan yang berisi 12 tengkorak manusia.

Tengkorak itu dianggap tidak berguna karena keridaktahuan masyarakat dan akhirnya benda bersejarah itu dihancurkan. ”Cuma satu yang bisa saya selamatkan,” tukas Junaedi.

Temuan nekara perunggu sebagai wadah kubur di Plawangan ini mempunyai keunikan yang jarang ditemui di seluruh Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Kubur nekara ini ditemukan dalam suatu penggalian (ekskavasi) secara sistematis yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang sudah berlangsung tahun 1977-1990.

Nekara perunggu temuan di situs Plawangan merupakan suatu wadah kubur untuk anak-anak. Di dalam nekara tersebut ditemukan rangka anak-anak yang sudah hancur dan berumur antara 8-10 tahun.

Di bawah nekara ditemukan lagi satu rangka anak-anak yang lebih muda usianya, yaitu sekitar 4-6 tahun dalam keadaan tertindih oleh nekara dan remuk di bagian kepalanya.

Muncul pendapat bahwa rangka anak-anak yang berada di dalam nekara tersebut diduga adalah anak dari salah seorang tokoh masyarakat yang dihormati, sedangkan rangka anak-anak yang tertindih oleh nekara adalah pengikut setia atau teman akrab bermainnya yang sengaja dibunuh untuk menemani perjalanan tuannya ke alam baka.

Menurut kepercayaan pada masa prasejarah, seorang tokoh penting dalam masyarakat, seperti misalnya kepala suku, mempunyai pengaruh yang sangat kuat, dihormati dan disegani. Jika ia meninggal dunia, maka dalam penguburannya akan disertakan beberapa bekal kubur yang berharga atau pengikut/pelayan setianya yang rela dibunuh atau dijadikan korban untuk mengikuti perjalanan arwah tuannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini