Hari Lahir Pancasila, Gus Yaqut Teladani Kegigihan Orang Madura

Fahmi Firdaus , Okezone · Selasa 01 Juni 2021 19:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 01 337 2418597 hari-lahir-pancasila-gus-yaqut-teladani-kegigihan-orang-madura-ZvurC2aaE1.jpg Foto: Humas Kemenag

JAKARTA - Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi), terlihat semarak. Pasalnya, Jokowi Menteri Kabinet Indonesia Maju yang hadir mengenakan baju adat nusantara.

(Baca juga: Fortuner Dirusak Massa di Pintu Tol Ciledug karena Serempet Pemotor)

Di antara deretan baju adat tersebut, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas terlihat cukup menarik perhatian karena baju Pesa’an yang dikenakannya.

Mengenakan baju dan celana hitam yang dipadu dengan kaus bergaris merah putih, membuatpria yang akrab disapa Gus Yaqut tampak gagah. Balutan odheng di kepala dan selempang batik merah khas Madura yang menempel di pundak kanannya juga menambah pesona serta kewibawaan Menag. Untuk melengkapi piranti Pesa’an, Menag Yaqut juga memakai sabuk besar warna hijau yang melingkar ketat di pinggangnya.

(Baca juga: Cerita Anies Sulap Pulau Sebira yang Terisolasi, Kini Tak Kalah dengan Jakarta)

Gus Yaqut mengaku sengaja memilih baju adat suku Madura karena menilai pakaian tersebut mudah dipakai sekaligus kaya akan nilai filosofinya. Baju adat Pesa’an, menurut Menag, adalah paduan sederhana antara baju, celana dan kaus bergaris. Untuk mendapatkannya juga bukan hal sulit karena banyak dijual di toko, pasar atau mal.

“Dari kemudahan mendapatkannya itu saya menilai bahwa baju adat Pesa’an ini adalah melambangkan makna kesederhanaan. Artinya, siapapun bisa membeli untuk dipakai dengan harga yang tidak mahal. Ini juga melambangkan sikap apa adanya orang Madura,” ujar Menag Yaqut di Jakarta, Selasa (1/6/2021).

Selain mudah untuk mendapatkannya, alasan Menag Yaqut memakai baju Pesa’an adalah karena di dalamnya melambangkan kegigihan. Ini ditandai dengan warna dominan hitam di baju adat ini. “Kita semua tahu bahwa hitam umumnya kita maknai sebagai sifat yang gagah berani dan pantang menyerah atas berbagai rintangan yang datang, terutama saat pandemi Covid-19 ini,” tegasnya.

Selain itu, ada filosofi lain dalam baju adat ini yakni pentingnya bersikap tegas dan memiliki semangat juang yang tinggi. Hal itu tercermin dalam balutan kaus belang yang berwarna hitam merah atau merah putih. Ketegasan juga tercermin dalam warna merah, biru dan kuning yang terpadu dalam motif batik Madura.

Bahkan odheng atau penutup kepala kecil yang dikenal dengan sebutan tongkosan juga mengandung filosofi kuat. Pada tongkosan ini terdapat lipatan sedemikian rupa yang membentuk alif, huruf pertama hijaiyah. Huruf alif ini juga banyak orang mengkiaskan dengan makna teguh dan jujur. Artinya, orang suku Madura berupaya menyeimbangkan antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

“Lambang-lambang ini hakikatnya mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif dan ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya.

Menag Yaqut menilai, pemakaian baju adat saat peringatan Hari Lahir Pancasila ini penting sebagai momentum untuk membangkitkan rasa kebanggaan sekaligus persatuan bangsa. Dia menilai dari baju baju adat tiap wilayah di Tanah Air hakikatnya terkandung makna yang kuat sebagai potret kedaerahan sekaligus ajaran kehidupan.

“Demikian juga Pancasila yang merupakan rumusan luhur bangsa ini awalnya digali dari sendi-sendi kehidupan bangsa dan kemudian dijadikan dasar negara demi terwujudnya persatuan dan peradaban yang baik,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini