Lebih Dekat dengan Gedung Pancasila yang Diresmikan Presiden Soeharto

Tim Okezone, Okezone · Selasa 01 Juni 2021 07:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 337 2418229 lebih-dekat-dengan-gedung-pancasila-yang-diresmikan-presiden-soeharto-wBnqNseiVn.jpg Gedung Pancasila (Foto : Kemlu RI)

JAKARTA - Indonesia secara resmi diterima menjadi anggota PBB yang ke-60 pada tanggal 28 September 1950. Bendera Indonesia dikibarkan secara serentak pada hari itu juga di depan gedung Markas Besar PBB di Lake Success, Amerika Serikat dan Gedung Pancasila di Jakarta.

Sejak saat itu, baik di PBB maupun forum-forum internasional lainnya, Indonesia selalu berada di garis terdepan dalam gerakan dekolonisasi yang akhirnya mengakhiri segala bentuk penjajahan di dunia.

Indonesia bekerja keras di Komite Dekolonisasi PBB untuk mengadopsi diterimanya dua resolusi di Majelis Umum PBB tahun 1960 mengenai pengakuan kemerdekaan bagi negara-negara jajahan dan daerah-daerah yang tidak berpemerintahan. Di PBB dan berbagai forum lainnya, Indonesia tanpa kenal lelah membela dan memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang di dunia.

Pada awal tahun 1950, gedung yang menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah yaitu bekas gedung Volksraad dan Tyuuoo Sangi-In dan yang kita kenal sebagai Gedung Pancasila tersebut diserahkan kepada Departemen Luar Negeri.

Nama Gedung Pancasila mulai semakin dikenal ketika pada tanggal 1 Juni 1964 di Departemen Luar Negeri diperingati secara nasional hari lahirnya Pancasila yang dihadiri oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Demikian dilansir dari laman Kemlu

Penunjukan Gedung Pancasila sebagai kantor Departemen Luar Negeri terasa selalu memberi bimbingan kepada Departemen Luar Negeri sebagai aparat pemerintah yang mengemban tugas menjalankan politik luar negeri agar berpegang teguh pada pedoman hidup, falsafah bangsa dan dasar negara Pancasila yakni ikut serta memajukan perdamaian dunia, keadilan sosial dan kemakmuran yang adil dan merata.

Bagi Indonesia, volume kegiatan diplomatik sejak awal 1950 terus meningkat. Dalam rangka menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, Departemen Luar Negeri menyadari adanya kebutuhan mendesak untuk memiliki kader-kader diplomat yang cakap dan terlatih. Departemen Luar Negeri segera mengadakan pendidikan dan pelatihan yang menekankan praktek kerja di lapangan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dengan merekrut pejabat diplomatik dan konsuler baik administrasi maupun persandian.

Untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah, maka didirikan Akademi Dinas Luar Negeri (Academic Voor de Buitenlandze Dienst) pada tahun 1949 menyusul kemudian didirikan Akademi Dinas Hubungan Ekonomi Luar Negeri dan Akademi Sinologi. Sebelumnya Akademi Ilmu Politik telah berdiri di Yogyakarta pada masa pemerintahan revolusioner.

Baca Juga : Pegawai KPK Dilantik Jadi Sebagai PNS Pas Hari Lahir Pancasila

Ruang depan Gedung Pancasila pernah ditempati oleh Sekretariat Akademi Dinas Luar Negeri. Kuliah-kuliah ilmu ekonomi diberikan sendiri oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta kepada para mahasiswa yang seringkali diadakan di Gedung Pancasila. Dalam dasawarsa 1960-an, Gedung Pancasila dipergunakan pula untuk mendidik calon-calon diplomat Indonesia melalui kursus Atase Pers, kursus Caraka dan Susdubat I yaitu Kursus Dasar Umum Pejabat Dinas Luar Negeri.

Menjelang Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang bersejarah itu, Gedung Pancasila menjadi pusat kegiatan Sekretariat Bersama Konferensi yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri dengan anggota-anggotanya terdiri dari para Duta Besar Birma, India, Pakistan, dan Sri Lanka di Jakarta.

Ketika Israel, Inggris dan Perancis melancarkan agresi bersama terhadap Mesir pada 1956, massa rakyat mengadakan demonstrasi ke Departemen Luar Negeri untuk menyatakan dukungan rakyat Indonesia kepada Mesir dan mengutuk agresi yang dilakukan oleh tiga negara tersebut.

Pada tahun 1957, pembangunan gedung tambahan Departemen Luar Negeri selesai sehingga mulai saat itu kantor Menteri Luar Negeri dan Sekretaris Jenderal pindah ke gedung baru. Walaupun pusat Departemen Luar Negeri berpindah ke gedung baru, tetapi Gedung Pancasila masih tetap digunakan sebagai kantor sampai menjelang dipugar. Bahkan gedung ini masih tetap mencatat berbagai peristiwa penting yang bersejarah.

Gedung Pancasila tidak hanya menjadi saksi bisu menjelang runtuhnya Orde Lama dan lahirnya Orde Baru. Selama pergolakan politik di penghujung tahun 1965 dan awal 1966, Gedung Pancasila menjadi sasaran demonstrasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menentang komunis. Massa pelajar dan mahasiswa yang marah tersebut telah menyebabkan kerusakan di beberapa bagian gedung tambahan dan tidak terkecuali Gedung Pancasila.

Dalam rangka melaksanakan program Kabinet Ampera (25 Juli 1966-17 Oktober 1967), Departemen Luar Negeri menggariskan tahap-tahap pelaksanaan kebijaksanaan luar negeri khususnya pendobrakan keadaan isolasi yang diakibatkan oleh politik luar negeri Orde Lama agar supaya politik luar negeri yang bebas dan aktif yang diabdikan kepada kepentingan nasional dan menuju perdamaian dunia dapat ditegakkan kembali. Isolasi akibat politik luar negeri Orde Lama tersebut tercermin ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.

Namun tepat lima bulan setelah munculnya Orde Baru melalui Surat Perintah 11 Maret 1966, pada tanggal 11 Agustus 1966 Indonesia dan Malaysia mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konfrontasi. Peristiwa bersejarah dalam membina hidup bertetangga kedua negara yang bersahabat tersebut telah direkam pula di Gedung Pancasila. Pada hari itu, para wakil dari Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Malaysia masing-masing Menteri Utama Bidang Politik/Menteri Luar Negeri Adam Malik dan Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Tun Abdul Razak membubuhkan tanda tangan mereka pada naskah persetujuan normalisasi hubungan kedua negara.

Dalam rangka memenuhi harapan bangsa Indonesia terhadap pemeliharaan dan perbaikan warisan budaya yang bersejarah, pemugaran terhadap Gedung Pancasila dilakukan oleh Departemen Luar Negeri pada tahun 1973 sampai 1975. Pemugaran untuk bagian dalam gedung telah diusahakan sejauh mungkin mengembalikan coraknya yang asli, tanpa mengadakan perubahan-perubahan struktural. Pengisian perabotan dan permadani disesuaikan dengan kebutuhan untuk masing-masing ruangan.

Sesudah selesai dipugar, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Departemen Luar Negeri ke-30 pada tanggal 19 Agustus 1975, Presiden Republik Indonesia Soeharto membuka selubung prasasti sebagai pertanda peresmian gedung yang terletak di Jalan Pejambon No. 6 Jakarta sebagai GEDUNG PANCASILA.

Upacara tersebut disaksikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia kedua Sri Sultan Hamengku Buwono ke-IX; Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta; para Menteri Kabinet; Kepala-kepala Perwakilan negara sahabat dan undangan lainnya. Pada acara tersebut, Presiden Soeharto mengatakan bahwa, "salah satu cara yang tepat untuk meneruskan pengalaman dan memelihara semangat, tujuan dan cita-cita kemerdekaan itu adalah memelihara dan mewariskan benda-benda, tulisan-tulisan dan tempat-tempat bersejarah kepada generasi yang akan datang, malahan juga alam pikirannya".

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini