Hari Lahir Pancasila, Ketika Anggota BPUPKI Sodorkan Gagasan Soal Indonesia Merdeka

Tim Okezone, Okezone · Selasa 01 Juni 2021 05:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 337 2418196 hari-lahir-pancasila-ketika-anggota-bpupki-sodorkan-gagasan-soal-indonesia-merdeka-9d9t8e33wf.jpg foto: istimewa

JAKARTA - Perumusan konseptualisasi Pancasila dimulai pada masa persidangan pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945.

Dalam sidang tersebut, Ketua BPUPKI Radjiman Wediodiningrat meminta kepada puluhan anggota BPUPKI mengenai dasar Negara Indonesia Merdeka. Puluhan anggota BPUPKI pun berusaha menyodorkan sejumlah pandangannya, yang kebanyakan pokok gagasannya sesuai dengan satuan-satuan sila Pancasila. Demikian dikutip dari buku Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yang diterbitkan Sekretarian Jenderal MPR RI.

Baca juga:  Hari Lahir Pancasila, Jalan Cerita Pancasila Menjadi Ideologi Negara Indonesia

Rangkaian sidang itu pun ditutup dengan Pidato Soekarno (1 Juni 1945) yang menawarkan lima prinsip dari dasar negara yang diberi nama Panca Sila. Soekarno terlebih dahulu mencoba memberikan pendapatnya mengenai apa yang dimaksud oleh Ketua BPUPKI.

”Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda ’Philosofische grondslag’ dari pada Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat, yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi,” kata Soekarno.

Baca juga:  Hari Lahir Pancasila: Peran Penting Soekarno dalam Perumusan Pancasila

Dan berdasarkan catatan sejarah, kelima butir gagasan itu oleh Soekarno diberi nama Pancasila, yaitu: 1. Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan yang berkebudayaan.

Selanjutnya, Soekarno juga mengusulkan jika seandainya peserta sidang tidak menyukai angka 5, maka ia menawarkan angka 3, yaitu Trisila yang terdiri atas (1) Sosio-Nasionalisme, (2) Sosio-Demokrasi, dan (3) Ketuhanan Yang Maha Esa. Soekarno juga menawarkan angka 1, yaitu Ekasila yang berisi asas Gotong-Royong.

Rumusan Soekarno tentang Pancasila kemudian digodok melalui Panitia Delapan yang dibentuk oleh Ketua Sidang BPUPKI. Kemudian membentuk “Panitia Sembilan”, yang menyempurnakan rumusan Pancasila dari Pidato Soekarno ke dalam rumusan versi Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Fase “pengesahan” dilakukan tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI, yang menghasilkan rumusan final Pancasila yang mengikat secara konstitusional dalam kehidupan bernegara.

Diketahui, proses sejarah konseptualisasi Pancasila melintasi rangkaian perjalanan yang panjang, setidaknya dimulai sejak awal 1900-an dalam bentuk rintisan-rintisan gagasan untuk mencari sintesis antar ideologi dan gerakan seiring dengan proses penemuan Indonesia sebagai kode kebangsaan bersama (civic nationalism).

Proses ini ditandai oleh kemunculan berbagai organisasi pergerakan kebangkitan (Boedi Oetomo, SDI, SI, Muhammadiyah, NU, Perhimpunan Indonesia, dan lain-lain), partai politik (Indische Partij, PNI, partai-partai sosialis, PSII, dan lain-lain), dan sumpah pemuda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini