Share

Hari Lahir Pancasila, Soepomo dari Keluarga Priyayi hingga Arsitek UUD 1945

Tim Okezone, Okezone · Selasa 01 Juni 2021 09:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 337 2418063 hari-lahir-pancasila-soepomo-dari-keluarga-priyayi-hingga-arsitek-uud-1945-ADxGhhnnWT.jpg Arsitek UUD 1945, Soepomo (foto: Dok Wikipedia)

JAKARTA - Pancasila merupakan karya bersama yang dihasilkan melalui konsensus bersama. Pancasila merupakan titik-temu (common denominator) yang menyatukan ke-Indonesiaan. Salah satu tokoh yang merumuskan adalah Prof. Dr. Mr. Soepomo.

Prof. Dr. Mr. Soepomo merupakan salah satu arsitek Undang-undang Dasar 1945, bersama dengan Muhammad Yamin dan Soekarno. Pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 itu merupakan salah satu orang pencetus sila-sila Pancasila.

Baca juga:  KAMI Minta Presiden Jokowi Cabut Kepres soal Hari Lahir Pancasila

Sebelumnya, dalam sidang yang diselenggarakan untuk mempersiapkan Indonesia merdeka, Ketua BPUPKI meminta kepada anggotanya untuk menentukan dasar negara. Sebelumnya, Muhammad Yamin dan Soepomo mengungkapkan pandangannya mengenai dasar negara.

Baca juga:  Bamsoet Tegaskan Nilai Pancasila Senjata Pamungkas Hadapi Pandemi Corona

Berdasarkan data dari Wikipedia, Selasa (1/6/2021). Pada tanggal 31 Mei 1945, Soepomo menyampaikan rumusan dasar negaranya, namun rumusan ini tidak disertai penyebutan nama dasar negara, yaitu:

1. Persatuan

2. Kekeluargaan

3. Keseimbangan lahir dan batin

4. Musyawarah

5. Keadilan rakyat

Mengenal Soepomo. Ia merupakan putra keluarga priyayi, dan berkesempatan meneruskan pendidikannya di ELS (Europeesche Lagere School) di Boyolali (1917), MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Solo (1920), dan menyelesaikan pendidikan kejuruan hukum di Bataviasche Rechtsschool di Batavia pada tahun 1923.

Lalu Ia ditunjuk sebagai pegawai negeri pemerintah kolonial Hindia Belanda yang diperbantukan pada Ketua Pengadilan Negeri Sragen (Soegito 1977).

Antara tahun 1924 dan 1927 Soepomo mendapat kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda di bawah bimbingan Cornelis van Vollenhoven, profesor hukum yang dikenal sebagai "arsitek" ilmu hukum adat Indonesia dan ahli hukum internasional, salah satu konseptor Liga Bangsa Bangsa.

Dalam Thesis doktor Soepomo, ia menulis Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta (Reorganisasi sistem agraria di wilayah Surakarta), tidak saja mengupas sistem agraria tradisional di Surakarta, tetapi juga secara tajam menganalisis hukum-hukum kolonial yang berkaitan dengan pertanahan di wilayah Surakarta (Pompe 1993).

Ditulis dalam bahasa Belanda, kritik Soepomo atas wacana kolonial tentang proses transisi agraria ini dibungkus dalam bahasa yang halus dan tidak langsung, menggunakan argumen-argumen kolonial sendiri, dan hanya dapat terbaca ketika kita menyadari bahwa subyektivitas Soepomo sangat kental diwarnai etika Jawa (lihat buku Franz Magnis-Suseno "Etika Jawa" dan tulisan-tulisan Ben Anderson dalam Language and Power sebagai tambahan acuan tentang etika Jawa untuk memahami cara pandang dan strategi agency Soepomo).

Soepomo meninggal dalam usia muda akibat serangan jantung di Jakarta pada 12 September 1958, dan dimakamkan di Solo.

Perlu diketahui, Pancasila sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Selain itu, Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kesepakatan bersama para Pendiri Bangsa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia.

Sejarah Perumusan Pancasila sangat panjang dalam ketatanegaraan Indonesia. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila.

Pancasila dijadikan sebagai dasar negara, yaitu sewaktu ditetapkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 pada 8 Agustus 1945. Pada mulanya, pembukaan direncanakan pada tanggal 22 Juni 1945, yang terkenal dengan Jakarta-charter (Piagam Jakarta), tetapi Pancasila telah lebih dahulu diusulkan sebagai dasar filsafat negara Indonesia merdeka yang akan didirikan, yaitu pada 1 Juni 1945, dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Terkait dengan hal tersebut, Menko Polhukam, Mahfud MD menyatakan, berdasarkan penjelajahan historis diketahui bahwa Pancasila yang berlaku sekarang merupakan hasil karya bersama dari berbagai aliran politik yang ada di BPUPKI, yang kemudian disempurnakan dan disahkan oleh PPKI pada saat negara didirikan.

Lebih lanjut, Mahfud MD menyatakan, bahwa Pancasila bukan hasil karya Soekarno saja, melainkan hasil karya bersama sehingga tampil dalam bentuk, isi, dan filosofinya yang utuh seperti sekarang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini