Menag Yaqut Belum Dapat Kepastian dari Arab Saudi Tentang Ibadah Haji

Widya Michella, MNC Media · Senin 31 Mei 2021 15:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 337 2418011 menag-yaqut-belum-dapat-kepastian-dari-arab-saudi-tentang-ibadah-haji-wx9cPI0hzw.jpg Menag Yaqut Cholil Qoumas (Foto : Kemenag)

JAKARTA - Menag RI Yaqut Cholil Qoumas menyebut pemerintah kerajaan Arab Saudi hingga saat ini belum memberikan kepastian terkait pelaksanaan Ibadah Haji 1442 Hijriah. Apakah nantinya akan dilaksanakan untuk jamaah di dalam negeri atau mengundang jamaah haji dari luar negeri, termasuk Indonesia.

"Pelaksanaan Ibadah Haji pada tanggal 14 Juli 2021, tinggal tersisa 1,5 bulan. Berbagai persiapan dalam negeri meskipun sudah disiapkan beberapa waktu lalu, namun belum bisa sepenuhnya difinalisasi misalnya kontrak penerbangan, penyiapan dokumen perjalanan, penyiapan petugas pelaksanaan bimbingan manasik dan lain-lain, yang semuanya baru bisa diselesaikan apabila besar kuota haji secara resmi diterima dari pemerintah Arab Saudi," ujar Menag dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI, Senin,(31/05/2021).

Berdasarkan skenario keberangkatan jamah Haji indonesia, untuk kuota reguler apabila tenggat waktu maksimal pemberian kuota pada 28 mei 2021, yakni sebanyak 1,8% atau 3.660 dengan 12 kloter untuk pemberangkatan pada tanggal 13 Juli 2021.

Skema kuota 1,8% dari kuota normal 221.000 mengacu pada informasi mengenai kemungkinan besar and kota haji untuk jemaah dari luar saudi sebanyak 45 ribu dari jumlah normal yaitu 2,6 juta yang berasal dari arab saudi dan luar Arab Saudi.

Untuk perkembangan Covid -19 di negara pengirim haji dan negara tetangga, Indonesia masih tinggi kasus covid-19 yakni per 27 Mei 2021, sebanyak 6,278 kasus/harinya. Untuk negara pengirim haji terbanyak seperti Malaysia sebanyak 7,857 kasus, Iran sebanyak 9,994 kasus, dan Turki 8,426 kasus.

Menurutnya penangganan Covid menjadi isu paling penting, karena penanganan covid Indonesia sebenarnya termasuk relatif bagus.

"Karena kalau di dasar urutan USA merupakan peringkat pertama penanganan covid terburuk di dunia, prancis ke delapan, Italia sembilan terburuk, Jerman 17 terburuk dan Indonesia mending 19 rankingnya. Jadi masih ada rangking diatas buruk-buruk itu," ujarnya.

Baca Juga : Larangan Warga Indonesia Masuk Arab Saudi Bukan Berkaitan dengan Ibadah Haji

Terkait vaksin, Menag merespon bersama Kemenkes untuk mengusahakan agar mendapat salah satu dari empat vaksin yang di syaratkan yakni Johnson and Johnson.

"Johnson and Johnson diusahakan, karena tiga vaksin yang lain agak sulit secara teknis. kita bersama Kemenkes sudah mendapat komitmen agar mendapatkan vaksin untuk jemaah haji," kata Menag.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini