Sidang Suap Bansos, 2 Eks Pejabat Kemensos Bakal Bersaksi untuk Juliari Batubara

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 31 Mei 2021 08:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 337 2417747 sidang-suap-bansos-2-eks-pejabat-kemensos-bakal-bersaksi-untuk-juliari-batubara-a7I76aKYE7.jpg Mantan Mensos Juliari Batubara (Dok Okezone)

JAKARTA - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang lanjutan perkara dugaan suap terkait pengadaan Bantuan Sosial (Bansos) untuk penanganan Covid-19, pada hari ini, Senin (31/5/2021). Agenda sidang masih pemeriksaan sejumlah saksi untuk terdakwa mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara.

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana menghadirkan dua mantan pejabat Kemensos. Keduanya adalah mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono (AW). Keduanya juga merupakan terdakwa dalam perkara ini.

Kuasa hukum Juliari Peter Batubara, Maqdir Ismail, mengamini dua mantan pejabat Kemensos tersebut bakal bersaksi untuk kliennya. Pada persidangan kali ini, Maqdir mengaku telah menyiapkan pertanyaan kunci untuk keduanya. Salah satunya soal sumber uang yang belum jelas asal-usulnya.

"Dalam surat dakwaan hanya diterangkan secara global angka yang diterima JPB. Tapi, tidak pernah diterangkan sumber dari uang yang diberikan dan diterima oleh JPB," kata Maqdir saat dikonfirmasi, Senin (31/5/2021).

"Hemat saya, dihadirkannya saksi MJS dan AW untuk didengar keterangannya adalah sebagai upaya JPU untuk mengubah peta kesaksian yang selama ini tidak berpihak kepada surat dakwaan. Tentu saja sah dilakukan JPU," tuturnya.

Maqdir menyatakan akan mendalami detail soal penerimaan uang dan bagaimana caranya uang diterima Juliari Peter Batubara. Sebab, Maqdir mengklaim, sejauh ini belum ada saksi yang dapat mengungkap soal sumber uang serta aliran uang untuk Juliari Batubara.

"Menggali kebenaran keterangan tentang penerimaan uang yang selalu dikatakan diberikan atau diterima JPB sesuai dengan surat dakwaan," ucap Maqdir.

Apalagi, sambungnya, angka yang dinyatakan diterima Juliari dalam surat dakwaan dinilai cukup besar. Sementara dari pengakuan para saksi di BAP, uang yang mereka serahkan hanya sedikit. Berdasarkan BAP, uang yang diserahkan para saksi ke MJS sebesar Rp7.510.000.000 termasuk dari HVS dan AIM.

"Sedangkan dalam surat dakwaan dari Harry van Sidabuke sebesar Rp1.280.000.000,00 dan dari Ardian Iskandar Maddanatja, uang sebesar Rp1.950.000.000,00 dan kemudian dari vendor lain Rp29.252.000.000,00," ujar Maqdir.

Baca Juga : Penyuap Juliari Batubara Akui Beri 2 Sepeda Brompton ke Operator Ihsan Yunus

Melihat angka yang sangat timpang ini, lanjut Maqdir, tentu akan menggali secara baik, terutama dari Matheus Joko Santoso. "Justru kami berharap keterangan MJS dan AW akan semakin memprekuat keterangan para saksi yang sudah menerangkan bahwa tidak ada uang yang diterima JPB," ujar dia.

Sebelumnya, terpidana kasus suap pengadaan bantuan sosial (bansos) penanganan Covid-19, Harry Van Sidabukke menyatakan tidak pernah memberikan komitmen fee kepada mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara.

Dia mengakui, permintaan fee hanya datang dari mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kementerian Sosial (Kemensos) Matheus Joko Santoso.

"Tidak diteruskan untuk Mensos (Juliari Peter Batubara). Seperti sudah saya jelaskan, permintaan itu memang dari pak Joko tidak ada dari Pak Juliari," kata Harry saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin 24 Mei 2021, lalu.

Dalam persidangan, Harry pun mengakui mengenal sosok Kukuh Ariwibowo yang merupakan staf ahli Menteri Sosial. Dia mengaku dikenalkan kuasa pengguna anggaran (KPA) Kemensos Adi Wahyono kepada Kukuh.

Bahkan Adi sempat meminta dirinya untuk menemui Kukuh. "Hanya disampaikan ke Pak Adi main-main ke atas main ke Pak Kukuh kenalan," ujar Harry.

Meski demikian, Harry menyebut tidak pernah memberikan uang atau membahas kuota pengadaan bansos kepada Kukuh. Karena dia hanya bertemu satu kali dengan Kukuh. "Saya hanya bertemu pak Kukuh satu kali, apalagi terkait masalah kuota nggak pernah," cetus Harry.

Dalam perkara ini, Juliari Peter Batubara didakwa menerima suap sebesar Rp32.482.000.000 (Rp32 miliar) dari para pengusaha yang menggarap proyek pengadaan Bansos untuk penanganan Covid-19.

Puluhan miliar uang dugaan suap untuk Juliari Batubara itu berkaitan dengan penunjukan sejumlah perusahaan penggarap proyek bansos Covid-19. Di antaranya PT Pertani, PT Mandala Hamonganan Sude dan PT Tigapilar Agro Utama.

Uang sebesar Rp32 miliar itu diduga diterima Juliari Batubara melalui Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso. Adapun, rincian uang yang diterima Juliari melalui Adi Wahyono dan Matheus Joko yakni, berasal dari Konsultan Hukum, Harry Van Sidabukke, senilai Rp1,28 miliar.

Kemudian, dari Presiden Direktur PT Tigapilar Agro Utama, Ardian Iskandar Maddanatja, sejumlah Rp1,95 miliar. Lantas, sebesar Rp29 miliar berasal dari para pengusaha penyedia barang lainnya.

Baca Juga : Saksi Sebut Operator Ihsan Yunus Sakti Urus Kuota Bansos Covid-19, Ini Buktinya

Atas perbuatannya, Juliari didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini