Prasasti Bertuliskan Huruf Jawa Kuna Ditemukan, Berhubungan dengan Naskah di Universitas Oxford

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 30 Mei 2021 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 30 337 2417415 prasasti-bertuliskan-huruf-jawa-kuna-ditemukan-berhubungan-dengan-naskah-di-universitas-oxford-yCU4sbLNjQ.jpg Prasasti batu bertuliskan huruf Jawa Kuna (foto: istimewa)

JAKARTA - Sebuah prasasti dari batu ditemukan oleh petani bernama Slamet Marwi, di Dukuh Wonosegoro, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Prasasti tersebut ditemukan karena terjadi longsoran batu pada lahan milik Marwi alias tidak sengaja.

"Prasati ini bertuliskan huruf Jawa Kuna atau Jawa Gunung berbahasa Jawa Kuna," kata penggiat sejarah yang juga budayawan Boyolali, Sarojo.

Baca juga;  Kota Najran di Saudi Siap Jadi Museum Prasasti Batu Terbesar di Dunia

Dijelaskannya, seorang ahli Sastra Kuna Wahyudi membaca sebagai berikut "swasti çāka warṣātīta 823 jyaṣṭa māsa, pañcami çukla ha wa so. kāla niki paçarūṅga nāma ... ....." . Ada beberapa huruf yang hilang, mungkin karena terkikis .

Apabila diterjemahkan berbunyi, "Selamat tahun 832 bulan jiasta tanggal 5 hariang wage soma tempat ini bernama Pasyarungga.......(huruf hilang).

Baca juga;  Ditemukan di Kantor Damkar, Prasasti Peninggalan Pakubuwono X Diminta Dikembalikan ke Keraton Surakarta

Prasasti ini menyebutkan tempat yang disebut dengan Pasyarungga yakni sebuah padepokan untuk mengkaji agama (Hindu) seperti yang pernah dicatat oleh Bujangga Manik. Ia pernah singgah di tempat keresian pada kaki Gunung Damalung (Gunung Merbabu).

"Jika dilihat dari segi lokasi bahwa prasasti ini berada di kaki gunung Merbabu maka kemungkinan besar bahwa daerah ini adalah tempat keresian atau bermukimnya para pendeta," ujarnya.

Dikatakannya, ini didasarkan pada naskah perjalanan Bujangga Manik. Dalam naskah itu diceritakan, dalam catatan berupa naskah kuno berbahasa Sunda, memuat kisah perjalanan seorang tokoh bernama Bujangga Manik mengelilingi pulau Jawa dan Bali.

Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata. Saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford, Inggris, sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977:181).

Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.

Baca juga:  Heboh Prasasti Pakoe Boewono X Jadi Alas Meja Kantor Damkar

Tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari kerajaan Sunda yang lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi, walaupun sebenarnya ia seorang kesatria dari keraton Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi Kota Bogor.

Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke timur Jawa. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah sempat singgah di Bali untuk beberapa lama. Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya .

Dari cerita dalam naskah tersebut, diketahui naskah Bujangga Manik berasal dari zaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda.

Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka, dan Demak membawa pada perkiraan bahwa naskah ini ditulis akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an.

Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan geografi dan topografi Pulau Jawa pada saat naskah dibuat. Lebih dari 450 nama tempat, gunung, dan sungai disebutkan di dalamnya. Sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.

"Salah satu Gunung yang tertulis adalah Gunung Damalung atau yang sekarang dikenal dengan Gunung Merbabu," ucapnya.

Prasasti itu berupa batu monolit berukuran panjang 100 centimeter dan lebar 20 centimeter diperkirakan dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung yaitu Raja Mataram Kuna yang berkuasa pada 898-908 Masehi.

"Keunikan Prasasti ini selain ditulis dalam bahasa jawa gunung juga kemungkinan besar dikeluarkan oleh seorang petinggi agama Hindu, hal ini tidak lazim karena beberapa prasasti yang mengeluarkan adalah raja yang memerintah di daerah itu, kemungkinan pada masa Mataram," paparnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini