Share

Alami Kekerasan Fisik, 22 Pekerja Migran di Suriah Berhasil Kembali ke Indonesia

Isty Maulidya, Okezone · Jum'at 28 Mei 2021 22:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 28 337 2417025 alami-kekerasan-fisik-22-pekerja-migran-di-suriah-berhasil-kembali-ke-indonesia-ML1Tr8fykZ.jpg 22 PMI kembali dari Suriah. (Foto: Isty Maulida)

TANGERANG - Sebanyak 22 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Suriah, berhasil pulang ke Indonesia pada Jumat (28/5/2021). Mereka tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta menggunakan pesawat Qatar Airways QR-954.

Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengatakan, selama bekerja di Suriah mereka mendapatkan perlakuan yang kurang baik. Bahkan ada juga yang menjadi korban kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Selain itu, gaji yang mereka terima juga tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan.

Baca juga: Tiba di Surabaya, Ribuan PMI Jalani Karantina di Asrama Haji

"Gaji mereka tidak lebih dari 2 juta Rupiah. Apa yang mengalami kekerasan fisik dari majikan, pemberlakuan jam kerja, mereka juga dieksploitasi dan tidak diberikan waktu istirahat," ungkap Benny.

Saat tiba, terdapat satu di antaranya terpaksa menggunakan kursi roda akibat menderita rapuh tulang belakang dan 2 lainnya harus mendapatkan perawatan khusus akibat penyakit yang dideritanya.

"Ada tiga orang ya, kita akan rawat khusus mereka setelah mendapatkan rujukan dari Gugus Tugas di Wisma Atlet," ujar Benny.

Baca juga: Menaker Terbitkan Aturan Jaminan Sosial Pekerja Migran Indonesia

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menerbitkan aturan mengenai penempatan PMI ke negara konflik. Pada tahun 2011, Kementerian Tenaga Kerja telah melarang negara konflik seperti Suriah untuk dijadikan penempatan kerja. 

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

"Selanjutnya di tahun 2015 kementerian kembali mengeluarkan Permenaker, di mana untuk pekerja rumah tangga di perseorangan itu tidak diperbolehkan" tegas dia.

Benny menegaskan bahwa dengan adanya aturan tersebut, maka penempatan pekerja Indonesia ke wilayah negara konflik, di atas tahun 2011 dan 2015 adalah ilegal. Mereka juga terindikasi merupakan korban dari tindak pidana perdagangan orang karena ditempatkan di negara yang terlibat konflik.

"Mereka ini, jelas Tindak Pidana Perdagangan Orang, intinya adalah ini tidak mungkin terjadi, jika para pelaku yang disebut mafia, sindikat ini dibekingi oknum-oknum, atau saya sebut memiliki atributif kekuasaan," ucap dia. 

Sebelum dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing, mereka akan menjalani karantina selama 5 hari di Wisma Atlet, Padrmangan, Jakarta Utara. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini