Share

Kisah Tangan Kanan Hercules yang Kini Jadi Pengusaha Tajir

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 28 Mei 2021 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 28 337 2416815 kisah-tangan-kanan-hercules-yang-kini-jadi-pengusaha-tajir-8pJbjhZwvO.jpg Tangkapan layar media sosial

JAKARTA - Nicholas Johan Kililily merupakan mantan anak buah Hercules, saat memegang wilayah Tanah Abang. Namun kini ia telah bertobat dan telah lama memulai karir baru sebagai seorang pengusaha. Berhenti dari segala kegiatan yang berkaitan dengan tindakan premanisme dan sekarang menjadi pengusaha sukses.

(Baca juga: Hercules Minta Maaf ke Wartawan, Janji Jadi Warga Negara yang Baik)

Nicho menceritakan awal mula dirinya berkiprah menjadi seorang gangster. Ia menuturkan bahwa kondisi keluarga yang kacau dan didikan keras ayahnya, menjadi alasan utama dibalik perilaku kasarnya.

“Semasa kecil kami terlahir dari keluarga broken home. Dari keluarga broken home itulah, saya bersama kakak-kakak dan adik-adik saya ini kurang mendapat kasih sayang dari orang tua. Masa kecil kami tuh, kami sudah diajarkan keras oleh papa. Saya sering diadu oleh kakak-kakak yang lebih tua dari saya,” ujarnya dikutip dari channel Michael Howard, Jumat (28/5/2021).

Sedari kecil Nicholas sudah diadu tarung dengan kakak-kakaknya. Dalam adu tarung tersebut, Nicholas tidak boleh menangis sama sekali. Jika Ia kedapatan menangis, ayahnya mengancam tak akan memberikan uang jajan untuknya.

(Baca juga: Kronologi Lengkap Helikopter Milik Genesa Dirgantara yang Jatuh di Cibubur)

Didikan keras ini membuat Nicho dan kakaknya tumbuh menjadi anak yang gemar berkelahi, bahkan hingga tumbuh dewasa. Membuatnya tumbuh dan berkembang dengan lingkungan yang penuh akan kekerasan.

Nicho sempat mencoba bertobat setelah ditegur oleh salah seorang pendeta yang melihatnya baku hantam dengan Satpol PP.

“Ternyata ada seorang pendeta, namanya Lambat Boseren. Dia perhatikan kami dengan teman-teman, dia lihat kami ribut, nah saat itu dia perkenalkan saya dengan Tuhan. Lalu kemudian singkat cerita, saya tertarik dan mencoba, namun hanya bertahan 8 bulan,” cerita Nicho.

Setelah kembali ke Jakarta dari Kalimantan Barat, Nicho mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Ia menolak ajakan temannya untuk kembali menagih utang, karena sudah lebih mengenal soal agama.

“Jadi waktu itu saya datang ke Jakarta, teman-teman saya ajak saya nagih, tapi pertama kali diajak menagih saya tolak. Kenapa saya tolak,karena nagih pada zaman dulu itu cuma dua pilihan, kamu bayar hutang selesai, kalo enggak rumah sakit ya mati,” jelas Nicho.

Namun Nicho mengaku jumlah nominal yang besar berhasil menggoyahkan Imannya. Ia kembali melakukan penagihan dan segala macam tindakan dosa yang selama ini sudah coba ditinggalkannya.

“Saya lihat jumlahnya lumayan besar, akhirnya saya terima tagihan itu. Saya tagih, saya pikir saya mau coba-coba, seandainya saya berhasil saya berhenti, gak berhasil juga berhenti. Ternyata waktu saya jalan, saya berhasil. Ketika saya berhasil itulah awal ke jatuhan saya lagi,” ceritanya.

Suatu ketika Nicho bersama timnya terlibat baku hantam dengan gengster lainnya, perihal kepemilikan suatu tanah di daerah Jelambar, Jakarta Barat. Sempat mencoba lakukan persuasif, titik tengah antara kedua kelompok ini tidak berhasil terjalin. Membuat perkelahian menjadi satu-satunya opsi terakhir bagi mereka.

Peperangan besar antara kedua kelompok itu membuat munculnya korban jiwa tak bisa dihindari. Nicho bersama kelompoknya ditahan di Polres Jakarta Barat, sebelum akhirnya bebas dan bergabung dengan Hercules.

“Di Tanah Abang kehidupan saya bukan semakin baik, semakin hancur. Tiap hari minum mabok-mabokan, pesta pora perjudian dan sebagainya dan hampir tiap hari saya menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,” ujar Nicholas.

Nicholas menuturkan jika dulu, Tanah Abang merupakan daerah yang keras. Ia bahkan menyebut Tanah Abang sebagai Texasnya Indonesia. Menyebut jika daerah itu sebagai daerah tak berhukum, yang cuma mengandalkan hukum rimba.

Nicholas juga turut menceritakan kisah terbakarnya kantor Camat Tanah Abang akibat keributan besar yang melibatkannya. Ia ditangkap bersama 21 orang kelompoknya dan diproses serta dibina di Kodam jaya. Bertemu tokoh-tokoh besar seperti Sutiyoso dan Moeldoko.

“Dan kemudian saya minta kepada kodam jaya, agar kami ini dilepas dan kami janji tak akan buat keributan lagi di Tanah Abang. Saya jadi jaminannya, seandainya ada keributan lagi di Tanah Abang, saya siap ditembak ditempat. Kita buat perjanjian di Kodam Jaya,” ceritanya.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Nicholas pun menceritakan mengenai pesan dari Moeldoko agar dirinya tidak kembali menjadi preman setelah bebas. Nicho pun mengiyakan, meski tahu bagi seorang genster membuat janji seperti itu adalah hal biasa.

“Tetapi bagi seorang gangster, buat perjanjian seperti itu biasa. Buat, keluar, bikin lagi. Akhirnya waktu keluar itu, saya bukan tambah baik, tapi saya semakin jahat,” kenang Nicho.

Kehidupan Nicho tak semakin membaik, Ia tak hanya mabuk dan bermain perempuan, namun juga mengonsumsi obat-obatan terlarang. Nicho pun mengaku hampir setiap harinya, dihabiskan di diskotik. Ia hanya pulang sesekali untuk memberikan uang bulanan.

Suatu ketika Ia mendapatkan tugas mengawal seorang pilot pribadi. Pilot itu memberikannya pil ekstasi dari Belanda. Penasaran akan obat itu, Nicho pun memakainya meski sebelumnya sudah mengkonsumsi sabu dan heroin. Membuatnya akhirnya overdosis dan dilarikan ke RS Cipto Mangunkusomo.

“Saya ini sudah sering overdosis, tapi itu overodisis menuju pertobatan. Saya kawal seorang pilot pribadinya penguasa pada saat itu. Saya kawal beliau malam itu, saya dikasih ekstasi. Ineks saya dikasih ineks. Saya pikir ineks dari Belanda ini sayang kalau enggak dipakai. Jadi saya sudah pakai sabu, sudah pakai heroin juga waktu itu, pake ineks. Akhirnya saya overdosis,” cerita Nicho.

Perjalanan Nicho ke rumah sakit sangatlah menyeramkan. Dengan kondisi setengah sadar, Ia kembali melihat potongan perbuatan dosanya selama ini. Melihat rentetan perilaku jahanam yang pernah Ia perbuat hingga saat itu.

Nicho yang ketakutan pun hanya pasrah dan minta bantuan seorang suster untuk mendoakannya. Sang suster pun bersedia mendoakannya, dengan syarat Nicho berjanji untuk meninggalkan obat-obatan terlarang itu.

“Saya mau berdoa untuk bapak, tapi nanti jika bapak sudah sembuh jangan pakai narkoba lagi ya,” ujar sang suster.

Dalam kondisi setengah sadar, Nicho mendengar waktu perkataan dokter setelah memegang nadinya. Dokter itu bilang sebentar lagi. Kata “sebentar lagi” yang Nicho tangkap sebagai sisa waktu hidupnya.

“Saya mulai tobat dengan sungguh-sungguh, saya kuliah Teologi sampai selesai sarjana Teologia, saya juga selesai sarjana hukum, saya selesai magister hukum, kuliahnya di UBK dan s2 nya di Jaya Baya,” jelasnya.

(Timothy Putra Noya)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini