Surat Cinta Bung Tomo, "Jeng Lies Aku Cinta Padamu, Aku Rindu Padamu"

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 28 Mei 2021 07:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 28 337 2416531 surat-cinta-bung-tomo-jeng-lies-aku-cinta-padamu-aku-rindu-padamu-OmdHFTIY4E.jpg Bung Tomo.(Foto:Wikipedia)

BUNG TOMO dikenal saat terjadi pertempuran 10 november 1945 atau dikenal dengan Hari Pahlawan. Meski garang di medan pertempuran melawan tentara sekutu, namun juga memiliki sisi romantis yang terlihat dari surat cintanya.

Kisah ini, diceritakan di majalah Tarbawi Edisi Khusus “Keajaiban Surat Cinta: Kisah Para Pejuang Muslim…”

“Datanglah. Waktuku amat sempit. Ada yang ingin aku ceriterakan padamu” atau, “Aku rindu padamu tetapi tak punya waktu,. Bisa Jeng menemuiku?” (Surat Cinta Bung Tomo)

Surat-surat kecil selalu dikirim Bung Tomo saat di front pertempuran lewat Cak Ri(Anak buah Bung Tomo) kepada Sulistina (Kekasih Bung Tomo). Apalagi selain selembar surat selalu ada saja oleh-oleh seperti payung Tasikmalaya atau Batik solo yang ia bawa selepas pulang dari front.

Baca Juga: Sosok-Sosok Penting Tak Terlihat di Pertempuran 10 November Surabaya

Sebelumnya, Bung Tomo bertemu dengan kekasihnya ini saat terjadi pertempuran di Surabaya (1945), saat itu Sulistiani (Kekasih Bung Tomo) tergabung dalam PMI.

”Durung maju perang wis ndelik. Yok opo se…!” (Belum maju perang kok sudah sembunyi, gimana sih!).

Hingga suatu saat beliau mengirimkan surat: Jeng Lies aku cinta padamu. nanti kalau perang sudah usai. Dan…Kita akan membuat Mahligai.”

“Tak terlalu tinggi cita-citaku. Impianku kita punya rumah diatas gunung. Jauh dari keramaian. Rumah yang sederhana seperti pondok. Hawanya bersih, sejuk dan pemandangannya Indah. Kau tanam bunga-bunga dan kita menanam sayur sendiri. aku kumpulkan muda-mudi kudidik mereka menjadi patriot bangsa,”

Pernikahan diputuskan tanggal 19 Juni 1947 di Jl.Lowokwaru IV/2 Malang. Banyak kawan-kawan beliau dari BPRI dan PMI (Teman-teman istrinya) yang hadir, tetapi bukan berarti mudah menjadi istri Bung Tomo karena masih diburu-buru Belanda, mereka harus pindah ke Jogjakarta.

Untuk urusan dapur Bung Tomo memang jago memasak rawon, lodeh, sayur asem, sambel goreng taoco. Bahkan beliau sendiri yang mengajari istrinya memasak.

“Waktu kecil aku sering ikut ibu membantu orang yang punya hajat perkawinan. Mereka sering kali bilang, kalau perempuan yang bisa mengulek pasti pandai melayani suami di tempat tidur. Makanya kamu harus pandai memasak supaya aku betah di rumah” Ucap Bung Tomo kepada istrinya.

Ada satu bagian dimana Bung Tomo masuk penjara dikarenakan keberaniaanya mengkritik pemerintahan saat itu yang justru membuatnya memperdalam agama islam selama didalam bui.

“Waktu bebas, aku tidak mempunyai kesempatan membaca, nah sekarang kesempatan itu ada dan harus ku pergunakan. Tuhan memberi cobaan, tentu ada hikmahnya.”

Bung Tomo wafat di Arab Saudi saat menunaikan ibadah haji. “You are a hero, a patriot, a great lover sampai hari akhirmu” tulis istri Bung Tomo di suratnya yang akhir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini