Wayang Raksasa Bathara Kala Setinggi 4 Meter, Seharga Satu Mobil

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 26 Mei 2021 23:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 26 337 2415926 wayang-raksasa-bathara-kala-setinggi-4-meter-seharga-satu-mobil-bM1dsL8amB.jpg Foto: Doddy Handoko

PNA Masud Thoyib Adiningrat Pengageng Kedaton Jayakarta yang juga mantan Manager Budaya TMII mempunyai wayang kulit Bathara Kala raksasa setinggi 4 meter.

"Wayang itu dibuat dari tulang belulang sapi benggala, biaya pembuatan menghabiskan harga satu mobil. Wayang ini menggemparkan acara upacara Suro di TMII. Dicatat sebagai wayang Bathara Kala terbesar di Indonesia. Agustus nanti akan digunakan untk wayangan Ruwat Negari Sudamala," katanya. 

Diceritakannnya bahwa proses pembuatqn wayang, ditatah oleh 27 penatah dari kampung penatah terkenal di desa Pucung Yogyakarta. Kemudian disungging oleh kelompok penyungging terkenal Sagio penyungging Kraton Yogyakarta. 

"Dibuat untuk acara ritual Suro di TMII dan dinobatkan sebagai wayang Bathara Kala terbesar," ucapnya. 

Baca juga: Kisah Keajaiban dan Percakapan Jenderal Sudirman dengan Kiai Wahid Hasyim

Menurutnya yang paling sulit adalah membuat cempuritnya. Jika cempurit wayang kulit biasanya dari sungu tanduk kerbau atau sapi.

Cempurit dalam istilah pedalangan dirumuskan sebagai tiang penyangga wayang kulit atau gapit yang lazimnya terbuat dari tanduk kerbau, bambu, kayu secang. 

“Tapi mana ada tanduk yang panjangnya 4 meter?” ujarnya.

Awalnya akan dibuat dari bambu, penjalin atau kayu, tapi tidak akan kuat menahan besarnya wayang. Akhirnya diskusi dengan para ahli. 

"Pak Suroso dapat memecahkan persoalan sulit ini dengan merancangnya dari besi yang dibentuk menjadi cempurit wayang," jelasnya

Untuk memainkan wayang berukuran besar ini, dalang harus dibantu 5 penari yang memegang wayang.

Baca juga: Ramal Nasib Lewat Angkat Batu Bobot Mrapen Peninggalan Sunan Kalijaga

Mereka adalah, 2 orang memegang badan wayang, 1 orang memegang kaki wayang, ditambah 2 orang dengan gerak teatrikal dan tari yang menjiwai gerak Raksasa Bathara Kala.

Menurut cerita wayang Purwa. Ini terjadi ketika pada suatu saat Batara Guru bertamasya bersama istrinya, Dewi Uma, menunggang Lembu Andini mengarungi angkasa. Di atas Nusa Kambangan, dalam keindahan pemandangan senja hari, Batara Guru tergiur melihat betis istrinya.

Ia lalu merayu Dewi Uma agar mau melayani hasratnya saat itu juga, di atas punggung Andini. Tetapi istrinya menolak. Selain karena malu, Dewi Uma menganggap perbuatan semacam itu tidak pantas dilakukan. 

Karena gairah Batara Guru tak tertahankan lagi, akhirnya jatuhlah kama benihnya ke samudra. Seketika itu juga air laut bergolak hebat. Benih kama Batara Guru menjelma menjadi makhluk yang mengerikan. Dengan cepat makluk itu tumbuh menjadi besar.

la menyerang apa saja, melahap apa saja. Untuk meredakan kekalutan yang terjadi, Batara Guru memerintahkan beberapa orang dewa membasmi makhluk itu. Namun dewa-dewa itu tak ada yang mampu menghadapi makhluk itu. Mereka akhirnya bahkan lari pulang ke kahyangan. Makhluk ganas itu segera mengejar para dewa sampai ke Kahyangan Suralaya, tempat kediaman Batara Guru. 

Setelah berhadapan dengan Batara Guru makhluk itu menuntut penjelasan, ia anak siapa, untuk kemudian minta nama dari ayahnya. Batara Guru yang maklum keadaannya, segera memberi tahu bahwa makhluk itu adalah anaknya yang terjadi karena kama salah.

Batara Guru memberinya nama Kala, dan mengangkatnya sederajat dengan dewa, sama dengan anak-anaknya yang lain. Dengan demikian, ia bergelar Batara Kala.

Setelah mendapat nama, Batara Kala lalu minta diberi istri dan tempat tinggal. Kebetulan, sesaat sebelumnya Batara Guru dan Dewi Uma baru saja bertengkar sehingga mereka saling mengutuk. Dewi Uma yang tadinya cantik jelita dikutuk menjadi raseksi (raksasa wanita) dan diberi nama Batari Durga. 

Batari Durga lalu dijadikan istri Batara Kala, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Mereka diberi tempat di Kahyangan Setra Gandamayit, di telatah Hutan Krendawahana.

Perkawinan ini kemudian membuahkan dua orang anak. Yang sulung bernama Kala Gotana berujud raksasa mengerikan, sedangkan anaknya yang kedua bernama Dewasrani yang tampan. 

Selain yang dua itu, dalam beberapa lakon carangan, mereka masih mempunyai beberapa anak lagi.

Karena Batara Kala makhluk yang amat rakus dan ganas, Batara Guru khawatir kalau-kalau manusia di bumi akan punah dimangsanya. Oleh sebab itu Batara Guru lalu berusaha mengurangi kerakusan anaknya itu.

Sebagai ayahnya, Batara Guru minta agar Batara Kala mendekat dan sungkem (berjongkok dan menyembah) di hadapannya. Batara Kala melaksanakan permintaan ayahnya itu.

Namun ketika sampai ke dekat Batara Guru, pemuka dewa itu tiba-tiba memotong kedua taring dan lidah Batara Kala yang mengandung bisa. 

Oleh Batara Guru, potongan lidah Batara Kala kemudian dicipta menjadi senjata ampuh berupa anak panah dan diberi nama Pasupati.

Anak panah ini kelak menjadi milik Arjuna. Sedangkan taring kirinya menjadi keris bernama Kaladite, yang kemudian menjadi milik Adipati Karna.

Potongan taring kanan Batara Kala dicipta menjadi keris yang diberi nama Kalanadah. Keris ampuh ini kelak akan dianugerahkan kepada Arjuna, kemudian Arjuna memberikannya kepada Gatotkaca sebagai kancing gelung. 

Batara Guru juga memberi ketentuan, hanya anak sukerta saja yang boleh dimangsa Batara Kala. Namun anak sukerta itu pun tidak boleh dimangsa, bilamana si anak telah diruwat oleh orang tuanya. 

Anak yang tergolong sukerta, Ontang-anting, anak tungal, baik lelaki maupun perempuan. Kedana-kedini, dua bersaudara, yang satu lelaki yang satu perempuan. Uger-uger, dua bersaudara, lelaki semua.

Lalu, Lumunting, anak yang lahir tanpa ari-ari. Sendang kapit pancuran, tiga anak yang sulung laki-laki, yang tengah perempuan, dan yang bungsu laki-laki. Pancuran kapit sendang, kebalikan dari nomor 5.

Berikutnya, kembang sepasang, dua perempuan semua. Sarimpi, empat orang perempuan semua.Pandawa, lima orang lelaki semua. Pandawi, lima orang perempuan semua. Pandawa ipil-ipil, lima anak, empat perempuan, yang bungsu lelaki, dll.

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. 

Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini