Kisah Keajaiban dan Percakapan Jenderal Sudirman dengan Kiai Wahid Hasyim

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 26 Mei 2021 07:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 26 337 2415628 kisah-keajaiban-dan-percakapan-jenderal-sudirman-dengan-kiai-wahid-hasyim-2R5eJGkyne.jpg Foto: Istimewa

JAKARTA - Dalam buku "Kupilih Jalan Gerilya: Roman Hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman", diceritakan kisah perjuangan Jenderal Sudirman.

Dalam kondisi sakit-sakitan mendaki bukit, Jenderal Sudirman menembus belantara, menghadang tanah tandus berbatu, menghindari serbuan Belanda tanpa henti.

Letnan Kolonel Simon Spoor tak pernah mengira bila setelah menduduki Yogyakarta, kemudian menawan para pemimpin republik, negara yang bernama Indonesia itu dengan sendirinya akan lumpuh.

Satu hal yang luput dari perhatiannya adalah kekuatan tentara yang ternyata masih tetap ada dan kuat. Ia pun mengejar Sudirman yang memimpin tentara dari medan gerilya.

Keadaan ini membuat Sudirman semakin kepayahan, sebab disamping kesehatannya yang terus menurun karena tidak diobati secara optimal, ia pun harus terus-menerus bergerak siang dan malam, menghindari kejaran musuh.

Sehingga pasukan Belanda selalu datang terlambat. Menghancurkan tempat yang justru telah ditinggalkan Sudirman. Hal ini terjadi terus-menerus, sehingga pada akhirnya menyadarkan Sudirman, ternyata ada mata-mata musuh yang ikut bergerilya.

Beruntung Gusti Allah selalu membuktikan keajaiban kepada lelaki kurus kelahiran Bodaskarangjati, Banyumas ini. Ia beserta rombongan selalu selamat dari sergapan musuh, sampai akhirnya menetap di Sobo yang dijadikan markas besar gerilya.

Dari tempat ini, Serangan Umum 1 Maret 1949 dirancang. Dari tempat ini pula berbagai penyerangan berhasil dilakukan sehingga membuat pasukan Belanda frustasi.

"Saya sudah ketemu Bung Karno, juga Bung Hatta. Saya bisa mengerti politik diplomasi pemerintah, akan tetapi diplomasi tanpa kekuatan militer hampir tak ada gunanya. Sebab itu, menurut saya, biarkan saja kalau terjadi pertempuran-pertempuran antara Belanda dan anak-anak kita, agar Belanda menyadari bahwa kita juga mempunyai kemampuan tempur. Kekuatan kita berangsur-angsur lebih dibanggakan, hal itu perlu bantuan moril dari kaum diplomat kita,” ujar Kiai Wahid Hasyim ketika menengok Sudirman yang terbaring sakit.

"Yang sudah lama saya khawatirkan, kini benar-benar terjadi. Orang-orang komunis menusuk dengan belati di punggung kita, ketika kita sedang menghadapi Belanda. Yang saya pikirkan, bila sewaktu-waktu Belanda menyerbu ke Yogya, kekuatan militer kita jangan tercerai berai. Itu sebabnya saya perintahkan kepada Markas Besar untuk mempercepat penghancuran terhadap pemberontakan PKI di Madiun,” jelas Sudirman.

Bila memperhatikan tubuhnya yang kurus kering, wajah pucat karena kurang istirahat, pihak pemerintah Belanda tak pernah mengira bila lelaki kurus ini telah membuat pasukan Belanda kalang-kabut.

Belum lagi para saksi mata yang tak habis berpikir, karena keajaiban dan kejadian-kejadian mistis senantiasa melingkupi perjalanan gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman ini. Seperti, cundrik yang bisa mendatangkan hujan, merica yang bisa mengaburkan pesawat Belanda dan sebilah keris yang selalu menjadi pertanda.

Di balik wajah pucat itu sinar matanya tak pernah berubah – tajam berkharisma, membuat Simon Spoor frustasi. Operasi pengejaran Sudirman selalu gagal. Saat Sudirman kembali ke Yogyakarta, rakyat menyemut di pinggir jalan menyambut.

Air mata jadi saksi bagaimana lelaki kurus pengidap TBC akut itu telah gemilang mempertahankan martabat negeri. Ia berhasil mengusir berbagai aral rintang, tapi tak berhasil mengusir penyakit TBC yang bersarang di tubuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini