3 Hal Pokok Indonesia Bela Palestina, Utang Sejarah Salah Satunya

Riezky Maulana, iNews · Rabu 26 Mei 2021 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 26 337 2415604 3-hal-pokok-indonesia-bela-palestina-utang-sejarah-salah-satunya-SW0GmNL0A4.jpg Ilustrasi (Foto : Reuters)

JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut dukungan Indonesia terhadap Palestina sedikitnya memiliki tiga landasan pokok. Pertama adalah amanat konstitusi, kedua utang sejarah, dan ketiga solidaritas negara dunia ketiga.

Amanat Konstitusi termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”.

Di samping itu, tujuan nasional Indonesia juga termaktub dalam potongan kalimat pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi, “melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Lebih lanjut dikatakan, dalam catatan sejarah Palestina juga merupakan salah satu negara paling awal yang memberikan pengakuan kemerdekaan Indonesia. Menurut dia, faktor-itulah yang membuat dukungan Indonesia terhadap Palestina adalah keniscayaan.

Baca Juga : Berikut Daftar Presiden Indonesia yang Berani Membela Palestina

Dia pun mengaku heran dengan elit bangsa yang alih-alih mentaati perintah konstitusi, malah condong mendukung Israel, serta mengajak warga bangsa bersikap pasif terhadap Palestina. Haedar mengajak masyarakat untuk mengutuk sekeras-kerasnya Israel yang terus mengawetkan agresi dan nafsu kolonialisme.

"Saya pikir perlu dicerahkan para elit bangsa dan warga bangsa yang masih memandang bahwa bela Palestina adalah bentuk primordialisme atau mengekspor berbagai perilaku Keislaman yang huru hara di Timur Tengah ke Indonesia,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa (25/5/2021).

Tak hanya mengkritik elit bangsa, Haedar juga mengkritik umat muslim agar mau bersikap objektif. Adapun yang dimaksud objektif adalah menggerakkan semangat dan dukungan anti penjajahan pada negara manapun yang tertimpa kemalangan, bukan hanya pada negara muslim saja.

“Intinya kita pahamkan warga dan elit bangsa yang belum paham sejarah dan konstitusi juga jiwa konstitusi Indonesia bahwa bela Palestina dan bela setiap hal yang mirip dengan Palestina. Nah orang Islam juga harus jujur dan adil kalau ada peristiwa yang sama dan menimpa golongan lain, yang kebetulan tidak terikat dengan agama kita. Kita harus membela, jangan diam,” ucapnya.

Muhammadiyah, sambung Haedar akan terus berupaya menjadi faktor dan aktor umat Islam dalam kemajuan peradaban. Oleh karenanya, dia berpesan agar warga Muhammadiyah tidak larut dalam aksi yang tidak produktif dan hanya retorika.

“Jadi Muhammadiyah harus adil membela setiap peristiwa yang menjadi korban dari agresi dan tindakan semena-mena, atas nama apapun,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini