4 Mitos di Balik Gerhana Bulan, Kental dengan Nuansa Magis

Tim Okezone, Okezone · Rabu 26 Mei 2021 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 25 337 2415550 4-mitos-di-balik-gerhana-bulan-kental-dengan-nuansa-magis-nzFioDJP1O.jpeg Gerhana Bulan Total. (Foto: The Verge)

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan, Gerhana Bulan Total atau fenomena Super Blood Moon terjadi di langit Indonesia pada Rabu (26/5/2021).

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebutkan, fenomena GBT merupakan peristiwa yang sangat spesial karena hanya terjadi 195 tahun sekali. 

Baca juga: Ingin Mengamati Gerhana Bulan Total? Begini Caranya

Puncak gerhana ini dapat disaksikan langsung tanpa alat bantu optik pada pukul 18.46 WIB di wilayah barat Indonesia, 19.46 WITA di wilayah tengah Indonesia, dan pukul 20.46 WIT di wilayah Timur Indonesia. 

Proses gerhana bulan total kali ini akan berlangsung selama 3 jam 7 menit yang akan diawali gerhana penumbra pada pukul 15.46.37 WIB dan kontak terakhir penumbra pukul 20.51.16 WIB yang mengakhiri seluruh proses gerhana. Durasi puncak gerhana akan berlangsung selama 14 menit dan 30 detik.

Baca juga: Gerhana Bulan Total, BMKG Imbau Waspada Potensi Gelombang Tinggi

Fenomena alam yang menarik dan terbilang langka ini juga membuat orang-orang berspekulasi hingga menjadikannya sebagai mitos yang mewarnai gerhana bulan. 

Tak hanya di zaman kuno, mitos gerhana bulan juga muncul di zaman modern. Dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa mitos gerhana bulan di seluruh dunia. 

1. Bulan Dimakan Makhluk Magis

Bulan akan tampak seperti dimakan, dipotong, atau digigit karena sebagian akan berwarna hitam. Sementara, pada keyakinan mitologi kuno, bulan yang tampak sebagian hitam tersebut hilang karena dimakan serigala, agar serigala takut dan memuntahkan sebagian bulan, maka masyarakat akan membuat suara gaduh di rumah-rumah. Adapun masyarakat yang masih mempercayai mitos ini adalah Tiongkok. 

2. Makanan Terpapar Racun saat Gerhana Bulan

Mitos ini dipercaya oleh sebagian besar masyarakat India. Mereka menolak untuk makan ketika gerhana bulan merah terjadi. Masyarakat India juga menghindari memasak saat gerhana bulan merah terjadi, karena menganggap makanan yang ada saat gerhana sudah terpapar racun mematikan.

Namun, tidak hanya India saja yang mempercayai mitos ini, sebab Jepang juga jadi negara selain India yang meyakininya. 

3. Bulan Berdarah dan Sakit

Mitos gerhana yang diceritakan oleh suku Hupa, yakni suku asli Amerika dari California Utara memiliki cerita yang lebih indah. 

E. C. Krupp, direktur Observatorium Griffith di Los Angeles, California menjelaskan, Hupa percaya bahwa bulan memiliki 20 istri dan banyak hewan peliharaan.

Sebagian besar hewan peliharaan mereka adalah singa gunung dan ular. Saat bulan tak membawa cukup makanan untuk dimakan, mereka menyerang dan membuatnya berdarah.

Gerhana akan berakhir saat istri bulan datang untuk melindunginya, mengumpulkan darahnya, dan memulihkan kesehatannya.

Sementara itu, suku Luiseño di California selatan, menyebutkan bahwa sebuah gerhanan memberi isyarat bahwa bulan sedang sakit. Anggota suku bertugas untuk menyanyikan nyanyian atau doa untuk mengembalikan kesehatannya.

4. Bulan dan Matahari Bertempur

Di sisi lain mitos juga berkembang di era modern. Namun tak semua budaya melihat gerhana sebagai hal yang buruk, kata Jarita Holbrook, astronom budaya di Universitas Western Cape di Bellville, Afrika Selatan.

“Mitor favorit saya berasal dari orang Batammaliba di Togo dan Benin di Afrika,” katanya. 

Dalam mitos itu, matahari dan bulan bertempur selama gerhana, dan orang-orang mendorong mereka untuk berhenti.

"Mereka melihatnya sebagai saat berkumpul dan menyelesaikan perseteruan dan kemarahan yang cukup lama," kata Holbrook.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini