Lika-liku Kasus yang Menjerat Habib Bahar bin Smith

Tim Okezone, Okezone · Selasa 25 Mei 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 24 337 2414952 lika-liku-kasus-yang-menjerat-habib-bahar-bin-smith-k1fbqnfHzo.jpg Habib Bahar bin Smith saat sidang (foto: Dok Sindo)

JAKARTA - Habib Bahar bin Smith merupakan tokoh yang cukup kontroversial. Dalam tiga tahun ini, tercatat sudah ada beberapa kasus hukum yang menimpa pria berdarah Manado tersebut. Berikut deretan kasus dan kronologis per kasus Habib Bahar bin Smith.

Baca juga: Tatkala Habib Bahar Menghaturkan Permintaan Maaf ke Sopir yang Ia Pukul

Berdasarkan kutipan data Litbang MNC Portal Indonesia, Selasa (25/5/2021). Habib Bahar pada 5 Desember 2018, terjerat kasus penganiayaan. Anak pertama dari pasangan Sayyid Ali bin Alwi bin Smith dan Isnawati Ali ini, dilaporkan ke Polres Bogor atas dugaan secara bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang atau penganiayaan dan/atau melakukan kekerasan terhadap anak.

Habib Bahar

Dalam laporan termuat, penganiayaan diduga dilakukan terhadap korban berinisial MHU (17) dan Ja (18) di sebuah pesantren di Kampung Kemang, Bogor, pada Sabtu 1 Desember pukul 11.00 WIB.

Baca juga: Sering Dicaci Maki, Habib Bahar: Saya Cucu Nabi Muhammad ke-29!

Dan pada 18 Desember 2018, Habib Bahar bin Smith diperiksa di Polda Jawa Barat terkait kasus dugaan penganiayaan. Setelah dicecar 34 pertanyaan, polisi menetapkan Habib Bahar sebagai tersangka dan menahannya, dan pada 16 Januari 2019, Polda Jabar memperpanjang masa penahanan Bahar bin Smith selama 40 hari. Perpanjangan ini dilakukan lantaran adanya koreksi pemberkasan dari kejaksaan.

Lalu 7 Februari 2019, berkas kasus penganiayaan yang dilakukan Habib Bahar Bin Smith bersama dua rekannya MAB dan AY dinyatakan lengkap atau P21. Berkas perkara tersebut telah dilimpahkan polisi ke Kejaksaan Negeri Cibinong, dan 28 Februari 2019, dilakukan sidang perdana kasus penganiayaan terhadap dua remaja yang dilakukan Habib Bahar bin Smith digelar. Habib Bahar didakwa dengan pasal berlapis, terutama pasal tentang perlindungan anak.

 

Pada 6 Maret 2019, siding eksepsi kasus yang melibatkan Habib Bahar bin Smith digelar di Gedung Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung. Lalu, Jaksa meminta majelis hakim untuk menolak eksepsi dari penasehat hukum Habib Bahar bin Smith, dan akhirnya Majelis hakim menolak eksepsi atau nota keberatan yang diajukan tim penasehat hukum Habib Bahar bin Smith, dalam sidang di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kota Bandung. Hakim pun memerintahkan jaksa penuntut umum untuk melanjutkan pemeriksaan.

Baca juga: Istri Habib Bahar Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan di Tol Cipali

Jaksa pun menghadirkan dua saksi korban yang diduga dianiaya Habib Bahar bin Smith, yaitu MKU dan CAJ pada sidang yang digelar di Gedung Perpustakaan dan arsip, Kota Bandung, Jawa Barat. Habib Bahar bin Smith pun akhirnya mengakui telah menganiaya CAJ dan MKU. Kepada hakim, Habib Bahar mengaku menganiaya kedua remaja itu karena tidak terima istrinya diakui sebagai istri korban saat mengaku sebagai Habib Bahar bin Smith di Bali.

Habib Bahar

Baca juga: Akui Aniaya Sopir Taksi Online, Habib Bahar: Istri Saya Mengadu Digoda

Dan pada 13 Juni 2019, Habib Bahar bin Smith dituntut enam tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan oleh tim JPU dalam sidang tuntutan. Dalam pembelaannya, dia mengaku tak ada niatan menganiaya CAJ dan MKU. Dan pada 9 Juli 2019, Habib Bahar divonis 3 tahun penjara dan denda Rp 50 juta, subsider satu bulan kurungan penjara. Ia dieksekusi ke Lapas Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Dan pada 16 Mei 2020, Pendiri Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin di Kemang, Bogor itu bebas dari Lapas Pondok Rajeg. Habib Bahar bin Smith mendapatkan program asimilasi dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM).

Pelanggaran Berbuntut Pencabutan Asimilasi

Pada 19 Mei 2020, Habib Bahar bin Smith kembali di tangkap karena dinilai melanggar ketentuan saat menjalankan program asimilasi. Habib Bahar bin Smith memberikan ceramah bernada provokatif dan menyebar rasa permusuhan kepada pemerintah.

Bahkan rekaman video ceramahnya tersebut menjadi viral dan meresahkan masyarakat. Habib Bahar juga dianggap tidak mematuhi penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama keluar dari penjara.

Habib Bahar

Di hari yang sama, simpatisan Habib Bahar melakukan aksi berkumpul, berkerumun serta tindakan mengganggu keamanan dan ketertiban di Lapas Gunung Sindur. Akhirnya Habib Bahar bin Smith ditempatkan sementara waktu di Lapas Kelas I Batu Nusakambangan.

Pada 12 Oktober 2020, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memenangkan gugatan Habib Bahar terkait surat pencabutan asimilasi oleh Badan Pemasyarakatan (Bapas) Bogor.

Penganiayaan Supir Taksi Online

Dan pada 27 Oktober 2020, pria kelahiran Manado 23 Juli 1985 itu kembali ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan penganiayaan. Penetapan tersangka Habib Bahar itu diberikan berdasarkan laporan polisi nomor LP/60/IX/2018/JBR/Resta Bgr/Sek Tansa pada 4 September 2018 dengan pelapor Andriansyah.

Penyebab Bahar bin Smith memukuli sopir taksi online lantaran kesal saat mendapati sang istri pulang larut malam pada 4 September 2018. Sopir taksi online tersebut dijadikan sebagai sasaran kemarahan.

23 November 2020, Habib Bahar bin Smith menolak pemeriksaan oleh penyidik Ditreskrimum Polda Jabar terkait kasus penganiayaan supir taksi online.

Dan 1 Desember 2020, berkas perkara Habib Bahar bin Smith sudah dikirim ke kejaksaan. Penyerahan berkas penyidikan tahap I. Dalam berkas perkara penyidikan ini, Habib Bahar dijerat Pasal 170 KUH Pidana dan atau Pasal 351 KUH Pidana tentang penganiayaan.

Kejaksaan tinggi Jabar sudah memberikan surat dengan kode P21 yang menyatakan bahwa perkara yang ditangani oleh Direktorat Kriminal Umum Polda Jabar terkait tersangka Habib Bahar bin Smith itu sudah dinyatakan lengkap.

Pada 25 Januari 2021, pelimpahan berkas perkara tahap dua tersangka Habib Bahar berikut barang bukti ke JPU Kejati Jabar dan Kejari Bogor Kota. Dan pada 6 April 2021, Habib Bahar menjalani sidang perdana terkait kasus penganiayaan terhadap sopir taksi online secara virtual di Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Habib Bahar mengikuti sidang secara virtual dari Lapas Gunung Sindur, Bogor.

Habib Bahar mengikuti sidang lanjutan dugaan penganiayaan terhadap seorang sopir taksi online di Pengadilan Negeri Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Dalam sidang tersebut, jaksa penuntut umum (JPU) Suharja mendatangkan lima saksi, yakni tetangga atau warga yang berdomisili di dekat lokasi kejadian, Perumahan Bukit Cimanggu, Kelurahan Kencana, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor.

Dan Jaksa Penuntut Umun (JPU) dari Kejati Jabar gagal menghadirkan saksi kunci sekaligus korban penganiayaan bernama Andriansyah dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung.

Habib Bahar

Dan pada 27 April 2021, sidang lanjutan kasus Habib Bahar bin Smith kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa 27 April 2021. Pada sidang Habib Bahar, Andriansyah yang merupakan saksi korban turut hadir dan memberikan keterangan. Ada fakta baru istri Habib Bahar bin Smith bernama Jihana Roqayah ternyata sudah meninggal pada 2019.

Dua saksi yang merupakan keluarga korban bercerita awal proses damai antara korban dengan Habib Bahar bin Smith. Sebelumnya, Habib Bahar bin Smith, mengaku kebingungan atas apa yang didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum terhadap dirinya. Sebab, menurutnya ia telah menempuh jalan damai dengan korban.

Dalam sidang lanjutan, Habib Bahar bin Smith yang diadili dalam kasus dugaan penganiayaan sopir taksi online mengaku sebagai cucu ke-29 dari Nabi Muhammad SAW.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini