Kisah Wieke, Lulusan Magister yang Mengadu Nasib Berjualan Tahu Petis

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 19 Mei 2021 18:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 19 337 2412517 kisah-wieke-lulusan-magister-yang-mengadu-nasib-berjualan-tahu-petis-Ua2qOdYAkX.jpg foto: tahupetis.com

TAHU Petis adalah kuliner khas kota Semarang berupa tahu pong goreng dengan bumbu petis didalamnya dan disajikan dengan cabe rawit.  Bagi Wieke pasar merupakan tempat paling strategis untuk menjaring pembeli dalam rangka mengenalkan tahu petis ke masyarakat Jakarta.

(Baca juga: Gempur Palestina dengan Senjata Canggih, Kekuatan Israel Masih Kalah Jauh dengan Indonesia)

“Kita ingin melihat pasar apakah tahu petis yang kita produksi ini dapat diterima atau tidak. Start awal di Tebet dengan gerobak biasa ternyata responnya baik,” katanya.

"Saya meracik sendiri rasa petisnya agar tidak terlalu manis dan berkesan Jawa banget," tambah Wieke.

Wieke melibatkan sang suami dan keluarganya yang berasal dari Sumatera untuk mencoba petis buatannya.

(Baca juga: Dihujat Netizen, Emak-emak yang Mencaci Maki Kurir Diinfus)

"Mereka bilang enak dan rasanya pas di lidah," ucap Wieke. Petis buatan perempuan memiliki rasa dan aroma udang yang kuat.

Usaha perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini juga pernah alami hambatan. Kendala itu tidak menyurutkan tekadnya. Ia mendapat kesempatan berjualan di lokasi yang lebih baik, dekat dengan swalayan di daerah Santa, Jakarta Selatan.

Tak lama berselang ia pun mampu melebarkan sayapnya hingga ke pusat belanja modern, tepatnya di ITC Kuningan.

Menyadari potensi tahu petisnya bisa merambah tidak hanya kalangan bawah tapi juga menegah ke atas, lulusan magister salah satu Universitas Swasta di Jakarta ini pun mulai fokus mengangkat citra jajanan tradisional tahu petis menjadi salah satu makanan modern.

Semua strategi dikerahkan, menyangkut tampilan, kemasan, penyajian, cara penjualan, lokasi hingga stategi pemasaran.

“Kita ingin tahu petis ini menarik dari mulai kemasannya, cara penyajiannya sampai marketingnya. Semua channel marketing kita manfaatkan dari online, offline, serta pameran-pameran, hingga melalui media,” jelasnya.

Kuliner khas Semarang ini berhasil memasuki salah satu mal besar di Jakarta yaitu Plaza Indonesia.

“Kita memperhatikan hal yang detail, tidak hanya dari kemasan dan logo saja, tapi dari cara kita mengkomunikasikan produk. Ternyata trik itu berhasil. Walaupun makanan tradisional kaki lima tapi bisa dinaikkan gengsinya sehingga bisa dijual di tempat-tempat bergengsi,” ungkapnya.

Tahun 2008, Wieke berhasil menjadi pemenang pada ajang wanita wirausaha yang diselenggarakan oleh salah satu majalah wanita di Jakarta. Dari kemenangan ini istri dari Donny Taufik ini mendapatkan tambahan modal yang digunakannya untuk pengembangan usaha.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini