75 Pegawai KPK Lapor Ombudsman Terkait Dugaan Maladministrasi TWK

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 19 Mei 2021 14:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 19 337 2412325 75-pegawai-kpk-lapor-ombudsman-terkait-dugaan-maladministrasi-twk-ikmNEonPKf.jpg Pegawai KPK lapor Ombudsman RI (Foto: Arie Dwi Satrio)

JAKARTA - Polemik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) bagi pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih bergulir. Sebanyak 75 pegawai KPK resmi melaporkan dugaan maladministrasi TWK) ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

Pelaporan diwakili sejumlah pegawai KPK yang tidak lulus TWK dalam rangka alih status menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

"Hari ini saya mewakili 75 pegawai membuat pelaporan resmi terkait dengan proses TWK yang dilakukan KPK," kata Direktur Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK, Sujanarko di Gedung Ombudsman, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/5/2021).

Baca Juga:  Lima Pimpinan KPK Dilaporkan ke Dewas, Alexander Marwata: Semua Keputusan Diambil Bersama

Kuasa hukum dari 75 pegawai KPK di antaranya, Direktur YLBHI, Asfinawati; LBH Jakarta, Arief Maulana; serta LBH Muhammadiyah, Gufroni juga ikut hadir. Koko, -sapaan karib Sujanarko- mengapresiasi pengarahan yang diberikan Ombudsman dalam pelaporannya pada hari ini.

"Saya sampaikan terima kasih yang luar biasa kepada pak ketua dan anggota Ombudsman yang telah memberikan beberapa lengarahan, penjelasan, terkait proses-proses yang kita laporkan," bebernya.

Menurutnya, Ombudsman memiliki kewenangan untuk memanggil secara paksa hingga bisa memberikan rekomendasi terkait kisruh TWK. Namun, Koko berharap kisruh TWK yang berujung pada pembebastugasan 75 pegawai bisa diselesaikan secara baik tanpa harus ada rekomendasi dari Ombudsman.

"Jadi, sebenarnya proses bisa diselesaikan hari ini, atau besok atau minggu depan supaya republik ini tidak terlalu gaduh seperti itu," ucapnya.

Koko menambahkan, pelaporan tersebut juga ditujukan kepada para pimpinan KPK. Sebab, pimpinan KPK dianggap telah melakukan maladministrasi karena membuat keputusan membebastugaskan 75 pegawai yang tidak lulus TWK.

"Termasuk penonaktifan itu, karena itu enggak ada dasarnya," ucapnya.

Baca Juga:  Novel Baswedan: Terima Kasih Pak Jokowi, Kami Kini Terbebas dari Tuduhan Tidak Pancasilais

Sekadar informasi, sejumlah pegawai KPK sebelumnya sempat mengungkap seputar kejanggalan serta keanehan pertanyaan ketika mengikuti asesmen wawasan kebangsaan. Salah satunya pertanyaan yang dianggap janggal yakni terkait doa qunut, percintaan, hingga urusan pribadi

Hal itu terbongkar setelah beredarnya Surat Keputusan (SK) terkait pembebastugasan 75 pegawai KPK yang tidak lulus TWK dalam rangka alih status menjadi ASN. Beberapa diantaranya yakni Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan, dan Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo.

SK penonaktifan yang beredar tersebut diterbitkan tertanggal 7 Mei 2021. SK tersebut ditandatangani oleh Ketua KPK Firli Bahuri dan salinannya telah diteken oleh Plh Kabiro SDM KPK Yonathan Demme Tangdilintin. Salah satu poin penting dalam SK tersebut yakni 75 pegawai yang tidak lulus TWK diminta untuk menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada atasannya.

Kemudian, para pegawai KPK tersebut melaporkan pimpinannya ke Dewan Pengawas (Dewas) pada Selasa, 18 Mei 2021, kemarin. Pimpinan KPK yang dilaporkan yakni, Firli Bahuri; Alexander Marwata; Nurul Ghufron, Lili Pintauli Siregar; dan Nawawi Pomolango.

Firli Bahuri Cs dilaporkan ke Dewas berkaitan dengan pembebastugasan 75 pegawai KPK yang tidak lolos TWK dalam rangka alih status menjadi ASN. Pimpinan KPK mengaku menghormati pelaporan tersebut.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini