Hendra Lie, Tidak Lulus SD Punya Hotel dan Jadi Pengusaha Lighting

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 19 Mei 2021 09:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 19 337 2412114 hendra-lie-tidak-lulus-sd-punya-hotel-dan-jadi-pengusaha-lighting-COqSXgD106.JPG Foto: Youtube PIK2

JAKARTA - Hendra Lie , kelahiran Jakarta, adalah seorang pecinta musik. Karir bermusiknya sudah dimulai sejak tahun 1960-an. Dalam perjalanannya, ia juga yang turut andil mendirikan grup band God Bless dengan posisi sebagai manajer sekaligus produsernya.

“Awalnya saya punya grup band bernama Jaguar. Lalu saya menjadi manajer God Bless. God Bless pun menjadi idola, tapi saya melihat berkarir di dunia musik tak terlalu menjanjikan,” ujarnya.

Tahun 1978 ia pun banting stir untuk menjadi seorang pengusaha. “Hobi saja ternyata tak cukup. Dan saya tak mungkin harus selamanya berkarir di musik. Saat konser-konser yang dilakukan God Bless itu, saya melihat tata lampu pertunjukan yang kurang mendukung. Otak saya berputar agar konser itu terlihat meriah. Akhirnya saya pakai alat sederhana seperti sendok dan seng untuk mendongkrak performa mereka. Dan itu berhasil,” ucap Hendra.

Cikal bakal bisnis lighting-nya sebenarnya berasal dari sana. Namun, sebelum mimpi itu terlaksanakan ia sempat hijrah ke Sumatera. Ia mengaku, di Sumatera ia juga menjalankan bisnis kecil-kecilan.

“Saat itu saya benar-benar keluar dari jalur musik. Kenapa saya tinggalkan musik, karena di era itu para musisi dan artis di Indonesia, ketika masa tuanya tiba hidupnya menjadi susah. Kalau di Amerika berbeda, musisi dihormati. Atas dasar itu saya lebih memilih jadi pengusaha saja,” tuturnya.

Kehidupan menjadi pengusaha ternyata sangat kontras dengan dunia musik. “Saat masih di musik, hidup memang cukup glamour dengan pengeluaran besar. Menjadi pengusaha saya harus memulainya dari bawah. Makan cukup di warteg dan kemana-mana dengan naik bis kota. Kalau masih jadi anak band saya tidak berani melakukan itu,” akunya.

Bisnis yang dilakukannya pun beragam dan dalam skala kecil. Namun perlahan lahan, dengan kerja kerasnya, bisnis yang dilakukannya makin membesar.

“Apapun saya lakukan, saya menyadari pendidikan tidak tinggi, SD saja tidak lulus. Jual beli kecil-kecilan. Sampai akhirnya saya punya modal besar dan bisa berbisnis properti dan perhotelan. Dalam hidup saya memang tidak pernah bekerja sama siapapun,” ungkap bapak lima anak ini.

Twin Plaza Hotel adalah salah satu dari hasil jerih payahnya selama ini. Sebuah hotel bintang empat dengan konsep gaya hidup hiburan yang terletak di Jalan S. Parman, Slipi. Selain itu, dunia hiburan pun juga tak luput dari bidikannya. Teater Tanah Airku di TMII dan Dome Ancol adalah beberapa bisnis yang turut dikelolanya.

Tahun 1990, ia kembali ke Jakarta dari Sumatera. Sambil mengerjakan bisnis lain, Hendra Lie juga merintis bisnis baru yang dinamainya Mata Elang. Sebuah bisnis yang bergerak di dunia tata lampu pertunjukan. Ini adalah masa dimana ia kembali ke musik untuk membidani suksesnya sebuah pagelaran.

“Untuk membuat nama ‘Mata Elang’ saya membutuhkan waktu cukup lama untuk berpikir. Itu bukan nama keramat, tapi saya buat agar nama itu ada auranya. Burung elang itu kan identik dengan kehebatan. Dan titik hebatnya itu ada di matanya. Maka jadilah nama Mata Elang,” katanya.

Memulainya pun tidak langsung besar. Ia mengawalinya dengan membuat alat sendiri secara manual, tapi secara perlahan naik dengan menggunakan teknologi yang super canggih. Baginya, professional dalam mengerjakan sebuah proyek panggung adalah sebuah keharusan.

“Ini pekerjaan yang penuh tantangan dan risiko. Kalau gagal, klien pasti kecewa. Dan saya tidak pernah mau gagal,” cetus Hendra.

Saat ini, Mata Elang pun sudah dikenal di dunia internasional dalam hal tata kelola lampu sebuah show.

Hendra juga membuktikan kepiawaiannya sebagai seorang raja lighting. Di tahun 1999, ia berhasil menjadi pemenang utama dalam kompetisi menghias gedung dalam ajang Dubai Shopping Festival.

Di tahun 2009, ia dipercaya sebagai penata lampu Olimpiade Sidney. “Lighting merupakan pilar utama dalam sebuah pertunjukan atau show. Kehebatan dan kemewahan sebuah konser misalnya akan dilihat dari kualitas lighting-nya. Dalam segala hal, mulai dari pertunjukan musik yang sederhana hingga konser kelas dunia seperti Java Jazz dan Java Rock in Land, penataan cahaya pasti dibutuhkan,” ulasnya.

Beberapa artis kelas dunia yang tampil di Indonesia, ia menggarap lightingnya, seperti Bon Jovi hingga konser Super Junior. “Menangani Super Junior misalnya. Dalam hal panggung, dia itu sangat perfect. Saya harus menata cahaya hanya dalam waktu tiga hari saja. Tapi itu bisa berhasil, konsernya juga sukses.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini