Manuver Presiden AS Joe Biden Hadang Hegemoni Tiongkok

Yaomi Suhayatmi, · Selasa 18 Mei 2021 20:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 18 337 2411962 manuver-presiden-as-joe-biden-hadang-hegemoni-tiongkok-PhPT7iNkBd.jpg Presiden AS Joe Biden.

AS memiliki kekuatan di bidang militer dan pertahanan dan teknologi yang belum tertandingi di dunia, akan tetapi posisinya yang digantikan Tiongkok sebagai penguasa perdagangan dunia adalah sebuah fakta yang tidak bisa dinafikan. Di saat AS berjibaku dengan pandemi Covid-19 yang membenamkan Negara Paman Sam ini ke dalam jurang krisis ekonomi yang kian curam dan suram, Tiongkok justru menjadi pemenang perang dagang.

Kemenangan ini tercermin dari data surplus neraca perdagangan Tingkok yang meningkat di tahun 2020 lalu meskipun di tengah pandemi Covid-19. Tiongkok yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia mencetak surplus perdagangan senilai US$ 78 miliar pada Desember 2020, menurut data resmi bea cukai Tiongkok yang dirilis, 14 Januari 2021. Surplus perdagangan Tiongkok secara keseluruhan di tahun 2020 mencapai rekor US$ 535 miliar, naik 27% dari 2019. Sementara itu, ekspor Tiongkok naik ke level tertinggi sepanjang sejarah negara ini.

Posisi Tiongkok terus menguat seiring keberhasilannya memenangkan persaingan dagang global, terutama kemenangannya dalam perang dagang atas AS sejak tahun 2008. Tidak tanggung-tanggung, di AS misalnya China membeli Bank of East Asia, juga pernah berniat membeli Migas Unocoal, meskipun digagalkan oleh Kongres AS. Tiongkok semakin percaya diri dengan perolehan surplus perdagagannya atas AS yang ditunjukkan dengan posisinya sebagai pemegang obligasi Pemerintah AS sebesar US$ 1,1 triliun.

BUMN Tiongkok secara strategis menyingkirkan perusahaan dari Barat, sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga negaranya yang telah mencapai sekitar 1,4 miliar jiwa. Termasuk keberadaan pabrik Nikelnya di Morowali, Sulawesi Tengah.

Tingkatkan Frekuensi Pengiriman Armada Pesawat Pengintai di LCS

Sejak Biden dilantik, frekuensi kapal perang AS yang dikirim ke wilayah LCS terus mengalami peningkatan hingga 20 persen dari tahun sebelumnya. Demikian pula dengan frekuensi aktivitas pesawat pengintai AS di wilaya perairan yang menjadi sengketa sejumlah negara terus mengalami peningkatan sebesar 40 persen. Tentu saja Tiongkok menentang langkah AS tersebut dengan tegas. Menurut AS, apa yang dilakukan AS memajukan militerisasi regional itu dapat mengancam perdamaian dan stabilitas regional. China memperingatkan Amerika Serikat agar tidak memaksakan cita-cita demokrasinya.

Konflik Laut China Selatan terus mengalami eskalasi dan dapat menimbulkan ancaman di kawasan. Hingga saat ini kode etik (code of conduct) belum disepakati oleh para pihak yang bersengketa. Sebenarnya, pada tahun 2016 lalu, Filipina memenangkan gugatan di Mahkamah Arbitrase Internasional, dari gugatan itu klaim Tiongkok terhadap wilayah LCS serta traditional fishing ground yang selalu dijadikan dalil oleh Tiongkok adalah sesuatu yang salah dan tidak diakui secara internasional.

Tiongkok sendiri bukan tanpa dasar mengapa ngotot mengklaim LCS sebagai wilayah teritorialnya. Selain menyodorkan fakta sejarah sebagai dasar, Tiongkok juga menjadikan pada teori nine dash line, sedangkan pengertian nine dash line merupakan sembilan titik imajiner yang hasilnya menunjukkan klaim atas hampir seluruh Laut China Selatan.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini