Ramal Nasib Lewat Angkat Batu Bobot Mrapen Peninggalan Sunan Kalijaga

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 18 Mei 2021 19:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 18 337 2411937 ramal-nasib-lewat-angkat-batu-bobot-mrapen-peninggalan-sunan-kalijaga-haZZVnR090.jpg Sunan Kalijaga (Ist)

PADA masa Prabu Brawijaya V, Majapahit runtuh kira-kira tahun 1478M. Salah satu sebab runtuhnya adalah karena serangan Prabu Girindrawardana dari Keling, Kediri. Kemudian Majapahit dapat dikuasai Kerajaan Demak Bintoro, sehingga Kerajaan Demak mengambil semua benda-benda Kerajaan Majapahit dan dibawa ke Demak.

Peristiwa ini dipimpin langsung oleh Sunan Kalijaga. Ketika Sunan Kalijaga dan rombongan melakukan perjalanan yang sangat jauh yaitu dari Majapahit menuju ke Demak, sampailah pada suatu tempat yang akhirnya diputuskan oleh Sunan Kalijaga untuk beristirahat sejenak.

Sebagian rombongan banyak yang kelelahan, lapar, dan haus kemudian beberapa orang berusaha membuat masakan karena bekal yang dibawa berupa bahan makanan yang masih mentah.

Tapi karena tempat tersebut jauh dari pemukiman, maka di situ tak ada api dan air bersih. Sunan Kalijaga dibantu oleh beberapa orang sambil berdoa memohon kepada Allah SWT agar mendapat api dan air.

“Setelah selesai berdoa Sunan Kalijaga berdiri sambil menancapkan tongkatnya ke tanah ketika dicabut keluarlah api dari tanah tersebut,” kisah Parminah, juru kunci Mrapen.

Kemudian berjalan ke timur, beliau menancapkan tongkatnya lagi, ketika dicabut menyemburlah air yang sangat jernih. Betapa bahagianya para pengikut Sunan Kalijaga karena dapat menemukan api dan air. Kemudian dipakailah untuk memasak.

Setelah beberapa saat Sunan Kalijaga dan rombongannya melepas lelah, makan, dan minum maka diputuskanlah untuk meneruskan perjalanan menuju Demak.

Ketika hendak berangkat salah satu pembawa benda kerajaan mengeluh karena benda yang dibawanya dari Majapahit terlalu berat untuk dibawa bahkan teman-teman yang lain tidak mampu mengangkatnya, benda tersebut berupa “umpak” tiang kerajaan Majapahit (landasan tiang).

Karena benda tersebut berat untuk dibawa maka Sunan Kalijaga memerintahkan untuk meninggalkan benda tersebut. Benda tersebut sekarang disebut “batu bobot” (bobot: berat). Akhirnya Sunan Kalijaga dan rombongannya berangkat ke Demak.

Kini batu itu dalam kondisi pecah. Sebab, pada zaman kolonial Belanda, ada yang memaksakan diri mengangkat batu itu. Karena tak kuat, batu itu langsung dijatuhkan begitu saja.

Baca Juga : Asal Muasal Ketupat, Diciptakan Sunan Kalijaga atau untuk Pemujaan Dewi Sri?

Itulah sebabnya, sang juru kunci Mrapen mengikatnya dengan ijuk. Tetapi sekarang diraut dengan tali plastik. Bobot batu ini kurang lebih 20 kilogram. Anehnya, saat diangkat, kadang beratnya bisa lebih, kadang juga kurang.

Karena keanehan itulah, banyak orang datang meminta berkah. Atau, meramal nasib dengan cara mengangkat batu itu untuk coba mencari peruntungan. Namun, harus lewat tata cara ritual. Pertama, minta izin sang juru kunci untuk mengantar membukakan pintu batu bobot.

Sebab, pintu itu selalu tertutup demi menjaga keamanan benda peninggalan Sunan Kalijaga. Para peziarah akan diberi petunjuk cara mengucapkan doa.

Kedua, peziarah harus punya tujuan khusus ziarah (tidak sekadar coba-coba). Sebaiknya mereka juga membawa bunga telon (mawar, cempaka, kenanga) sebagai syarat ritual agar batu itu memiliki khasiat magis.

Sambil menabur bunga, peziarah harus duduk dalam posisi bersila (bagi pria), dan dua kaki ditekuk (bagi perempuan) seraya mengucapkan doa dan berserah diri kepada Sang Maha Pencipta. Lalu, batu itu diangkat.

“Bila cocok maka batu akan terasa lebih ringan dari 20 kilogram. Sebaliknya, bila tidak cocok, batu akan terasa berat. Bahkan, kadang tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Ada beberapa kemungkinan. Mungkin, persyaratan kurang lengkap. Atau, peziarah tidak punya tujuan khusus, dan kurang konsentrasi dalam memanjatkan doa. Percaya atau tidak, terserah masing-masing individu,” ujarnya.

Baca Juga : Kisah Jenazah Syekh Siti Jenar Berbau Wangi dan Wajahnya Bercahaya

Hingga kini, telah ada tujuh keturunan yang bertindak sebagai juru kunci Mrapen. Perawatan sumber api abadi ini dilakukan sejak masa Kesultanan Demak Bintoro.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini