Sholawatan, Cara Pemudik Sepeda Tetap Fokus di Jalan & Selamat Sampai Tujuan

Angkasa Yudhistira, Okezone · Senin 17 Mei 2021 11:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 337 2411053 sholawatan-cara-pemudik-sepeda-tetap-fokus-di-jalan-selamat-sampai-tujuan-9WRQlYPpbT.jpg Pulung bersama rekannya mudik dengan menggunakan sepeda (Foto : Istimewa)

JAKARTA - Menempuh perjalanan panjang dengan sepeda tentu menguras stamina, karena itu membutuhkan persiapan yang matang baik fisik maupun mental. Seperti yang dilakukan Pulung (40) bersama keempat rekannya yang mudik ke sejumlah daerah di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

"Saya Pulung dak adik saya Sunggih ke Kendal, Om Suparman ke Purwokerto, Fur hidayat ke Demak, Pakde Rian dari Koja ke Bojonegoro, dia paling senior, usianya sudah 51 tahun," ujar Puan saat berbincang dengan Okezone, Minggu 16 Mei 2021.

Pulung mengaku sempat ngos-ngosan saat bersepeda dari tempat tinggalnya menuju Kendal. Sebab, selama Bulan Puasa dia tidak pernah bersepeda. Namun semangat dan rasa rindu sanak keluarga di kampung halaman, mengalahkan segala keluhnya.

Selain itu, Pulung mengaku ada cara lain agar selama bersepeda tetap fokus di jalanan, yakni dengan cara sholawatan. "Kami saling mengingatkan, jangan lupa sholawatan. Supaya pikiran enggak kosong, tetap fokus, dan bisa selamat sama tujuan," tuturnya.

Soal uang yang dikeluarkan, Pulung mengatakan tidak terlalu besar sebab mereka tidak pernah menginap di losmen atau pun hotel, melainkan masjid atau pom bensin yang dipilih sebagai tempat istirahat mereka. Pun soal makan, tidak melulu harus patungan.

"Soal makan, gantian saja siapa yang bayarin. Nanti gantian, beli minuman siapa lagi yang bayarin. Enggak patungan-patungan. Saya ngambil uang untuk pegangan di jalan itu Rp1.500.000 ini masih ada Rp1,2 juta," kata dia.

Baca Juga : Cerita Pemudik Sepeda: Lewat Pos Penyekatan Justru Didoakan Polisi

Hal lain yang membuat mereka hemat selama di perjalanan, lantaran banyak warga sekitar yang memberikan batuan pada mereka.

"Jadi ada semacam perlakuan istimewa, jadi banyak yang bersedekah lah. Misalnya di masjid itu ada minuman untuk umum, tapi di masjid-masjid tertentu. Lalu seperti pas kita makan, terus mau beli air mineral untuk bekal di jalan, yang punya warung itu juga enggak mau dibayar, bayar es tehnya saja, airnya gratis katanya," ujar Pulung.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini