Kerumunan saat Libur Lebaran, Epidemiolog Sebut Kasus Covid-19 di Indonesia Bisa Sama seperti India

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 17 Mei 2021 10:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 337 2411022 kerumunan-saat-libur-lebaran-epidemiolog-sebut-kasus-covid-19-di-indonesia-bisa-sama-seperti-india-GGpD7P23EX.jpg Pengunjung menikmati suasana liburan di Pantai Karangsong, Indramayu. (Antara)

Juru bicara Kebun Binatang Bandung Zoologi Garden, Sulhan Syafi'i, menjelaskan pihaknya menerapkan sistem buka-tutup sebagai antisipasi membeludaknya pengunjung.

Pembelian tiket dilakukan secara daring atau online, sejumlah petugas dikerahkan untuk memantau pengunjung agar menaati protokol kesehatan.

"Kalau sudah di dalam, kadang-kadang buka masker, ya kita ingetin. Mohon dipatuhi protokol kesehatan. Ya namanya kejar-kejaran dengan manusia. Yang melanggar ada, ya ada. Banyak, kita ingetin," tutur Syafi'i.

Kebijakan membolehkan wisata 'tidak berbasis pada manajemen risiko yang baik'

Keputusan pemerintah Indonesia yang tak melarang kegiatan pariwisata disebut epidemiolog Dicky Budiman sebagai kebijakan yang "tidak dipersiapkan dengan baik dan tidak berbasis pada manajemen risiko yang mumpuni".

Ini karena membuka lokasi wisata di tengah pandemi Covid-19 sangat berisiko dan berpotensi besar menularkan virus corona.

Menurut Dicky, jika pemerintah ingin membatasi pergerakan masyarakat dengan melarang mudik Lebaran maka seharusnya sejalan dengan mencegah warga berwisata.

Begitu pula dengan menutup pintu masuk bagi warga asing dari luar negeri.

"Kalau kita ingin membatasi orang bergerak, maka jangan membuka sekecil mungkin celah. Pemerintah Indonesia harus memperbaiki manajemen risikonya," imbuh Dicky saat dihubungi wartawan BBC News Indonesia, Minggu (16/05).

Syarat tempat wisata boleh dibuka

Namun demikian jika pemerintah membuat pelonggaran dengan membolehkan aktivitas wisata maka harus dipastikan pemda menjalankan strategi keselamatan Covid-19.

Semisal daerah yang boleh membuka pariwisata adalah wilayah yang tingkat penularan virus coronanya tidak lebih dari lima persen.

Kemudian, tidak ada kasus kematian akibat Covid-19.

"Kasus positifnya juga cenderung satu digit-an," kata Dicky.

Selain itu pengelola tempat wisata juga harus menerapkan sistem pendaftarkan berbasis daring atau online untuk menghindari kontak langsung.

Lalu adanya pengukuran suhu tubuh untuk mendeteksi awal gejala Covid-19.

Yang terpenting, sambung Dicky, menyiapkan petugas di lapangan untuk memastikan pengunjung mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan rajin membersihkan tangan.

"Untuk tempat wisata yang terbuka bukan berarti lebih aman. Pengelola sebaiknya menyiapkan kipas angin untuk membantu sirkulasi udara. Karena kecepatan angin di bawah 50mph, risiko (penularan) relatif tinggi, kalau dibantu kipas angin membantu sirkulasi udara."

"Dan tetap berlaku aturan menjaga jarak lebih dari 1,8 meter dari orang lain. Selain tetap memakai masker dan rutin membersihkan tangan."

Jika semua panduan itu tidak bisa dipenuhi, maka ia menyarankan pemerintah menutup tempat wisata.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini