Cerita Pemudik Sepeda: Lewat Pos Penyekatan Justru Didoakan Polisi

Angkasa Yudhistira, Okezone · Senin 17 Mei 2021 05:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 16 337 2410922 cerita-pemudik-sepeda-lewat-pos-penyekatan-justru-didokan-polisi-LbIYIeUi9M.jpg Pulung bersama rekannya mudik menggunakan sepeda ke kampung halaman (Foto : Istimewa)

JAKARTA - Berbagai cara dilakukan sejumlah warga agar bisa mudik ke kampung halamannya pada Lebaran di tengah pandemi Covid-19 yang memberlakukan penyekatan jalur mudik di sejumlah titik.

Salah satunya seperti yang dilakukan Pulung, warga Sawangan Depok yang bersepeda dengan sejumlah rekannya agar bisa mudik ke Kendal, Jawa Tengah. Rupanya, cara itu sangat ampuh untuk dapat lolos dari penyekatan pemudik di pos-pos yang sudah didirikan petugas.

Soal polisi yang jaga pos penyekatan jalur mudik, Pulung punya ceritanya sendiri. Ia mengaku tidak pernah lewat jalur tikus dan selalu melintasi jalur utama Pantura serta melewati beberapa pos penyekatan jalur mudik.

"Saya enggak lewat jalan tikus. Di Cikarang, Karawang itu memang saya lihat ada motor dan mobil dipaksa balik polisi dan tentara. Tapi kami tidak disuruh balik," ujar Pulung saat berbincang dengan Okezone, Minggu 16 Mei 2021.

Tidak ada satu pun polisi yang menyetop mereka dan memeriksa surat bebas Covid-19, bahkan, para polisi itu justru melambaikan tangannya seraya mendokan mereka: "Hati-hati di jalan ya," begitu kata Pak Polisi sambil melambaikan tangannya, yang ditirukan Pulung.

Pulung mengatakan, ia bersama keempat rekannya yang tergabung dalam komunitas bersepeda, berangkat mudik setelah melaksanakan Sholat Idul Fitri 1442 Hijriah pada Kamis 13 Mei 2021. "Tadi siang, saya baru sampai," katanya.

Ia bercerita, sebelum berangkat ke kampung halamannya terlebih dulu keliling Jakarta untuk menghampiri 4 rekannya yang juga hendak mudik dengan bersepeda.

"Dari Sawangan Depok janjian sama teman-teman nyamperin, ada komunitas sepeda touring Indonesia. Saya lewat Ciputat, Kramatjati, Kalimalang, sampai Cikarang," kata dia.

Pulung bersama rekannya mudik dengan bersepeda (Foto : Istimewa)

Baca Juga : Tinjau Pelabuhan Bakauheni, Doni Monardo Ingin Pastikan Tak Ada Lonjakan Covid-19

Sejumlah pengalaman menarik pun ditemuinya saat menempuh perjalanan sekira 3 hari 2 malam itu. Di mana Pulung bersama empat rekannya menginap di masjid atau pom bensin untuk beristirahat di malam hari.

Pulung mengatakan dirinya bersama rekannya menginap di masjid atau pom bensin saat malam tiba. Soal perjalanannya sendiri, selalu ditempuh dengan waktu dua hingga tiga jam, setelah itu mereka pun beristirahat.

"Dapat 2-3 jam lumayan. Kita komitmen, setengah jam sebelum sholat kita istirahat, sholat sekalian, kalau sudah Isya istirahat sampai pagi," tuturnya.

Pertama, kata Pulung, mereka berhenti di sebuah masjid di daerah Cikampek. "Itu takmirnya welcome. Tapi tetap ada batasannya, ada ruangan yang tidak boleh masuk, dan di bagian luar boleh. Saya bawa matras kecil untuk tidur. Kedua di cirebon, di pom bensin yang ada musholanya, ada jualan makanan," ujarnya.

Ingin hemat, adalah alasan utama mereka menginap di masjid atau pom bensin. "Kalau saya ajak ke losmen sayang juga, lebih baik uangnya untuk mereka yang jualan makanan," kata dia.

Mudik dengan bersepeda kali ini adalah kedua kalinya bagi Pulung. Bedanya, mudik kali ini harus ditempuhnya di tengan pandemi Covid-19.

Lantas, apakah Pulung bersama empat rekannya melakukan tes swab antigen terlebih dulu sebelum mudik?

"Tidak, kami hanya secara lisan saja bersepakat dan menanyakan kabar masing-masing, bahwa semuanya dalam keadaan sehat. Karena sayang juga, tes swab sekian ratus ribu, ya mending dibagi-bagi di kampung. Dan kalau kuat sepedahan ratusan kilo meter, Inysa Allah sehat," kata Pulung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini