Dulu Penunggu WC, Sekarang Jadi Pengusaha Jual-Beli Pabrik

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 16 Mei 2021 20:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 16 337 2410890 dulu-penunggu-wc-sekarang-jadi-pengusaha-jual-beli-pabrik-Ty2icLuJXS.jpg Dulu penunggu WC, kini sukses jadi pengusaha jual-beli pabrik (Foto : Istimewa)

Namun diakui Aroji, berbisnis di bidang ini memang harus kuat dan berani karena banyak tantangannya. Saingannya kebanyakan adalah orang-orang berkarakter keras.

“Dulu, saling mengancam itu biasa. Penjualannya kan melalui sistem lelang. Terkadang di antara calon pembeli banyak terjadi adu gengsi. Misalnya saja dalam lelang terbuka, pabrik yang dilelang dibuka dengan harga Rp2 miliar, ada yang menawar 2,1 sampai 3 miliar. Padahal, pabrik itu kalau dijual lagi, harganya ya sekitar Rp2 miliar itu, tapi karena adu gengsi kita bisa rugi besar,” tuturnya.

Meski bisnis ini berisiko tinggi, Aroji mengaku tak pernah jatuh.

“Alhamdulillah ya selama ini bisnis saya tidak pernah jatuh. Dari duliu sampai sekarang naik terus. Saya rasa sih karena itu tadi, saya punya komitmen bisnis yang benar,” aku pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sindangasih, Tangerang selama 10 tahun ini.

Setelah sukses, Aroji mendirikan pesantren plus jenjang sekolah SMP-SMA. Dikatakannya, ia sama sekali tak punya angan untuk mendirikan pesantren.

“Mimpi pun tidak. Kalau saya ada niatan dirikan pesantren, dulu pasti saya nyantri sampai lulus. Biar ilmunya cukup mumpuni untuk jadi seorang ‘kiai’. Saya terkadang ingin tertawa kalau sekarang banyak yang panggil saya dengan sebutan kiai,” celotehnya.

Niatnya membangun pesantren banyak didorong dari anaknya yang juga lagi nyantri di Pabelan kemudian pindah ke Darul Qolam.

“Saat saya berkunjung ke pesantren anak saya di Darul Qolam, banyak ayat suci terlantun. Hati saya bergetar seketika. Saya pesan ke anak saya, ‘Nak, mengaji yang benar nanti papah buatkan pesantren yang lebih besar untuk kamu urus’. Eh, tak lama kemudian ucapan saya terkabulkan. Saya dapat borongan pabrik itu,” ucapnya.

Pesantren modern yang dinamainya Bani Tamim pun dengan megah berdiri di Desa Sindang Asih, Tangerang. Dibangun di lahan seluas 10 hektar.

“Yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 5 hektar. 5 hektar lagi masih dalam tahap perencanaan pembangunan. Karena baru setahun lalu dibukanya, saat ini santrinya baru mencapai 100 anak. Soal fasilitas cukup lengkap lah,” sambung Aroji.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini