Dulu Penunggu WC, Sekarang Jadi Pengusaha Jual-Beli Pabrik

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 16 Mei 2021 20:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 16 337 2410890 dulu-penunggu-wc-sekarang-jadi-pengusaha-jual-beli-pabrik-Ty2icLuJXS.jpg Dulu penunggu WC, kini sukses jadi pengusaha jual-beli pabrik (Foto : Istimewa)

JADI pengamen, penunggu WC, pengangkut pasir dan tukang tambal ban adalah sejumlah pekerjaan yang pernah dilakukan MT Aroji AT.

Ia kini telah memiliki 3 bisnis, dari jual beli pabrik, punya pabrik sepatu, dan membangun pesantren di tanah seluas 10 hektare.

Masa kecil Aroji memang perih. Ia adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga petani di Tangerang. Ayahnya menginginkannya menjadi seorang kiai, hingga akhirnya setamat SMP ia dikirim ke sebuah pesantren di Pabelan. Hanya bertahan dua tahun ia nyantri, kemudian keluar karena faktor biaya.

“Orangtua saat itu sebulan mengirim uang Rp16 ribu. Rp12 ribunya dipakai untuk bayaran, sisanya untuk beli sabun dan peralatan sekolah lainnya. Karena tak cukup, saya memutuskan untuk keluar,” ucap pria kelahiran tahun 1965 ini.

Pilihanya itu tentu berisiko. Untuk bertahan hidup ia harus menjadi pengamen dari bis ke bis di daerah Yogyakarta. Selain itu ia juga pernah menjadi penunggu WC di sekitar Candi Borobudur. Lalu menjadi tukang kuli angkut pasir untuk renovasi Borobudur.

“Hasilnya lumayan bisa buat makan. Dapat uang Rp50-100 ribu rupiah saya sudah senang. Pikir saya yang penting bisa bertahan hidup. Suatu ketika tak sengaja saya bertemu dengan tetangga yang tinggal di Tangerang, akhirnya saya dibawa pulang,” ujar Aroji.

Baca Juga : Misteri Kerangka Tentara Korban Letusan Gunung Vesuvius 2000 Tahun Silam

Tiba di Tangerang, ia pun meneruskan studi SMA-nya yang tertunda. Tamat SMA ia belajar bisnis dengan mengikuti jejak sang nenek yang menjual limbah plastik dari pabrik-pabrik sekitar tempat tinggalnya.

“Saya kebetulan rada jago dalam hal menaksir harga, akhirnya saya diangkat menjadi karyawan di sebuah pabrik. Hanya bertahan dua tahun kemudian keluar lagi,” katanya.

Tahun 1991 ia menikah. Bermula dari situ ia berkomitmen untuk mulai mandiri. Beragam pencerahan pun mulai berdatangan. Dengan modal satu juta rupiah hasil meminjam, ia mulai berbisnis beli plastik yang kemudian dipacking dan dikirim ke pabrik pengolahan daur ulang.

“Modalnya tidak banyak, itu pun memang hasil dari meminjam ke orang. Bisnis model itu terus saya jalankan hingga beberapa tahun. Perkembangannya cukup bagus,” ungkapnya.

Komitmen mengantarnya menuju pintu kesuksesan. Nasib akhirnya membawanya ke tahun 2000, dimana di tahun itu ia nekat memborong sebuah pabrik.

“Bisnis itu kan soal kejujuran dan tanggungjawab. Selain itu penting juga kita meminta doa dari orangtua serta support dari teman-teman. Kemudian kita komitmen terhadap bisnis yang dijalankan. Dulu harga plastik perkilonya murah antara Rp150-300. Tapi karena komitmen tadi, saya bisa bertahan dan berhasil,” tutur Aroji memberi kiat.

Berawal di tahun 2000 itu, berkah terus melimpah. Tanpa memiliki uang, ia nekat memborong pabrik seharga Rp8 miliar. Sebuah harga yang fantastis!

“Saya kan memang memiliki kelebihan dalam hal taksir menaksir harga. Kalau orang matematik mungkin butuh waktu lama untuk menghitung harga, saya cuma lihat sebentar, saya langsung bisa tentukan harganya. Pabrik itu pailit dan dijual seharga Rp8 miliar. Saya lihat kondisi pabrik dan peralatan yang ada di dalamnya. Seketika saya mau membeli pabrik itu. Untuk pembayaran saya minta jangka waktu selama satu bulan,” kisahnya.

Tak butuh waktu hingga satu bulan untuk melunasi utangnya itu. Cukup satu minggu uang Rp8 miliar sudah ia dapatkan.

“Saya jual mesin-mesin pabrik itu. Banyak orang berdatangan ke pabrik untuk membeli mesin. Seminggu utang saya terbayar. Alhamdulillah ini sebuah anugerah,” ucapnya lagi.

Kesuksesannya itu akhirnya membuat nyalinya semakin besar. Memang butuh keberanian tingkat tinggi untuk menjajal bisnis ini. Kemudian ia banyak mencari pabrik-pabrik pailit untuk dibeli.

Pabrik kedua ia dapatkan di Karawang. Begitu selanjutnya hingga ia membukukan pernah membeli lebih dari 10 pabrik pailit dengan harga yang selangit.

“Yang tertinggi yang pernah saya beli seharga 20 M. Kasusnya hampir sama untuk pembayarannya ya dari penjualan alat-alat pabrik itu sendiri, karena saya tak punya banyak uang. Rata-rata pabrik yang saya beli itu bekas pabrik sepatu. Lokasinya sekitar Jabotabek, Bandung dan Cirebon,” ujarnya.

Namun diakui Aroji, berbisnis di bidang ini memang harus kuat dan berani karena banyak tantangannya. Saingannya kebanyakan adalah orang-orang berkarakter keras.

“Dulu, saling mengancam itu biasa. Penjualannya kan melalui sistem lelang. Terkadang di antara calon pembeli banyak terjadi adu gengsi. Misalnya saja dalam lelang terbuka, pabrik yang dilelang dibuka dengan harga Rp2 miliar, ada yang menawar 2,1 sampai 3 miliar. Padahal, pabrik itu kalau dijual lagi, harganya ya sekitar Rp2 miliar itu, tapi karena adu gengsi kita bisa rugi besar,” tuturnya.

Meski bisnis ini berisiko tinggi, Aroji mengaku tak pernah jatuh.

“Alhamdulillah ya selama ini bisnis saya tidak pernah jatuh. Dari duliu sampai sekarang naik terus. Saya rasa sih karena itu tadi, saya punya komitmen bisnis yang benar,” aku pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sindangasih, Tangerang selama 10 tahun ini.

Setelah sukses, Aroji mendirikan pesantren plus jenjang sekolah SMP-SMA. Dikatakannya, ia sama sekali tak punya angan untuk mendirikan pesantren.

“Mimpi pun tidak. Kalau saya ada niatan dirikan pesantren, dulu pasti saya nyantri sampai lulus. Biar ilmunya cukup mumpuni untuk jadi seorang ‘kiai’. Saya terkadang ingin tertawa kalau sekarang banyak yang panggil saya dengan sebutan kiai,” celotehnya.

Niatnya membangun pesantren banyak didorong dari anaknya yang juga lagi nyantri di Pabelan kemudian pindah ke Darul Qolam.

“Saat saya berkunjung ke pesantren anak saya di Darul Qolam, banyak ayat suci terlantun. Hati saya bergetar seketika. Saya pesan ke anak saya, ‘Nak, mengaji yang benar nanti papah buatkan pesantren yang lebih besar untuk kamu urus’. Eh, tak lama kemudian ucapan saya terkabulkan. Saya dapat borongan pabrik itu,” ucapnya.

Pesantren modern yang dinamainya Bani Tamim pun dengan megah berdiri di Desa Sindang Asih, Tangerang. Dibangun di lahan seluas 10 hektar.

“Yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 5 hektar. 5 hektar lagi masih dalam tahap perencanaan pembangunan. Karena baru setahun lalu dibukanya, saat ini santrinya baru mencapai 100 anak. Soal fasilitas cukup lengkap lah,” sambung Aroji.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini