Bekas Dahi dan Tapak Kaki di Batu Pasujudan Sunan Bonang yang Misterius

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 15 Mei 2021 16:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 15 337 2410521 bekas-dahi-dan-tapak-kaki-di-batu-pasujudan-sunan-bonang-yang-misterius-5QPpCPbJVk.jpg Pasujudan Sunan Bonang (Ist)

PASUJUDAN Sunan Bonang, lokasinya hanya berjarak 1 km dari Pantai Binangun yang terletak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Kira-kira 18 km ke arah timur dari kota Rembang.

Keindahan pantai ini dengan panorama hamparan laut luas dapat dilihat baik dari jalan raya maupun dari atas bukit petilasan Sunan Bonang (bertebing putih yang disebut Watu Layar).

Menurut cerita masyarakat, pasujudan Sunan Bonang zaman dahulu itu adalah batu yang digunakan sujud oleh Sunan Bonang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sujudnya Sunan Bonang itu sangat lama sekali sehingga batu tersebut membekas dahi dan tapak kaki.

"Sekarang pasujudan Sunan Bonang tersebut dikeramatkan oleh masyarakat sekitar Sunan Bonang atau disebut Raden Makdum Ibrahim,"kata Abdullah Hamid, penggiat sejarah Lasem.

Di pasujudan Sunan Bonang ada mushola dengan kamar yang isinya batu besar yang biasa digunakan Sunan Bonang untuk alas salat (sajaddah) dan tempat membaca (shalawwat) dari perintah Nabi Haidir.

"Batu tersebut dikenal dengan nama batu pasujudan dan ada bekas angggota badannya Sunan Bonang yaitu dahi dan tapak kaki," ucapnya.

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampèl dari istri yang namanya Dwi Candrawati.

Sebelumnya Sunan Bonang menuntut ilmu (belajar) di Pasai, setelah dari Pasai mendirikan pondok pesantren ana ing tlatah Bonang. Santri yang belajar di pesantren Sunan Bonang berasal dari berbagai penjuru nusantara.

Dalam pelaksanaan dakwahnya Sunan Bonang mempunyai ciri, yaitu dengan cara mengubah nama-nama dèwa dengan nama-nama malaikat yang dikenal di dalam ajaran agama Islam.

Dari Pasujudan Bonang turun ke bawah kemudian berjalan sekitar 500 m lagi akan sampai pada pesarean atau makam Sunan Bonang. Makam itu berada di dalam bekas Komplek Kraton Lasem yang diberikan kepada Sunan Bonang untuk dipergunakan sebagai pesantren.

"Sampai sekarang masih terlihat asli dan lumayan utuh. Peninggalan kawasan cagar budaya yang sangat berharga dan langka," ungkapnya.

Kemudian berjalan sekitar 100 m sampail di masjid Sunan Bonang. Konon menurut cerita dari masyarakat sekitar, tidak tahu persis kapan berdirinya masjid ini.

Masjid di tengah perkampungan desa Bonang itu dipercaya sebagai salah satu peninggalan Sunan

Bonang, ketika pada zaman dahulu menyebarkan agama Islam di wilayah ini.

Posisinya persis di sebelah selatan makam Sunan Bonang. Masjid yang satu ini dianggap sebagai salah satu keramat Sunan Bonang karena penuh teka-teki yang belum dapat dipecahkan hingga saat ini.

"Proses pembangunannya konon tidak diketahui oleh masyarakat sekitar,"ucapnya.

Menurut cerita turun temurun, kala itu dikisahkan warga terkaget kaget, begitu mengetahui sudah berdiri sebuah bangunan. Saat mereka bertanya kepada Sunan Bonang, beliau menjawab omah gede atau rumah besar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini