Tradisi Lebaran Masyarakat Betawi di Ambang Kepunahan

Arief Setyadi , Okezone · Jum'at 14 Mei 2021 10:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 337 2410068 tradisi-lebaran-masyarakat-betawi-di-ambang-kepunahan-0j7LJQ4rB8.jpg Ilustrasi (Foto: Antara)

JAKARTA - Lebaran Idul Fitri menjadi momen sakral bagi umat Muslim. Setiap masyarakat memiliki cara tersendiri untuk menyemarakannya dengan keragaman budaya yang dimiliki.

Pun dengan masyarakat Betawi. Namun, seiring kemajuan zaman, tradisi masyarakat penghuni Ibu Kota itu mulai pudar. 

Misalnya Andilan, tradisi potong kerbau yang kerap dilakukan masyarakat Betawi tempo dulu dalam menyambut lebaran. Satu kampung mengumpulkan uang secara urunan atau patungan untuk membeli kerbau.

Baca Juga: Ketum PP Muhammadiyah: Idul Fitri Momentum Rohani untuk Pencerahan Diri

Kerbau tersebut terlebih dulu akan dipelihara agar gemuk. Ketika menjelang Lebaran, kerbau baru disembelih bersama-sama, terutama mereka yang ikut andilan.

Semuanya bahu membahu, ada yang bagian potong kerbau, ada yang bersihin daging dan jeroannya, hingga bagian memasak. Daging andilan itu selain untuk dikonsumsi sendiri, biasanya juga untuk dibawa ke orangtua, atau dikenal istilah nyorog.

Bukan hanya itu, tradisi lainnya yang juga di ambang kepunahan adalah dodol. Sebuah panganan yang dianggap sebagai simbol silaturahmi atau persaudaraan. Lain dari itu, ada juga uli, yang biasanya dipadupadankan dengan tape. 

Memudarnya tradisi masyarakat Betawi diamini Sejarawan JJ Rizal. Menurutnya, di era sekarang sulit untuk menemui budaya potong kerbau andilan, yakni tradisi satu kampung patungan untuk membeli kerbau menggemukkannya dengan diangon di kampung lalu dipotong saat dekat lebaran

"Lebaran itu peristiwa kebudayaan dan sebagai kebudayaan ada pendukungnya. Di sini pendukungnya bisa melanjutkan atau meninggalkan," ujarnya saat berbincang dengan Okezone beberapa waktu lalu.

Sama halnya dengan uli dan dodol. Kian hari, katanya, semakin jarang terlihat orang yang menjalankan tradisi tersebut dalam menyambut Lebaran.

"Atau orang menumbuk uli, mengaduk dodol, kan semakin jarang karena semua bisa beli jadi kegotongroyongan keguyuban sebagai masyarakat komunal berkurang karena intrusi sifat kemodernan yang individual," tuturnya.

Baca Juga: Pidato Lebaran Bung Karno Sebelum Jadi Presiden: Ibaratkan Puasa Sama dengan Perang

Menurutnya, mulai terkikisnya tradisi Lebaran masyarakat Betawi, karena masyarakatnya yang kurang menghagari tradisi itu sendiri. Masyarakat harus bisa lebih menghargai tradisi, dan jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk.

"Ya jangan tradisi dianggap beban malah lebih lagi sesuatu yang buruk, padahal ada kearifan di dalamnya," pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini