Di Bawah Pulau Jawa Banyak Rongga dan Rekahan

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 14 Mei 2021 07:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 337 2410031 di-bawah-pulau-jawa-banyak-rongga-dan-rekahan-R9ROnCcR1k.jpg Ilustrasi gempa.(Foto:BMKG)

JAKARTA - Gempa bumi sering melanda Indonesia. Bisa dikatakan hampir setiap hari terjadi gempa, meski dalam skala kecil.

Ir. Tukimin Wisanggeni, seorang Javanologi yang menjadi petualang metafisik, meneropong di bawah permukaan bumi pulau Jawa. Kurang lebih kedalaman seratus kilometer terdiri dari banyak rongga dan rekah-sela yang relatif lebar.

Rongga itu terisi berbagai jenis partikel cair berbagai partikel cair maupun semi padat dengan daya kekuatan yang saling menarik dan menekan yang sangat kuat.

Baca Juga: Jalur Tengkorak Pekalongan-Demak, Hati-hati di Alas Roban dan Perbatasan Semarang

Menurutnya pulau jawa adalah sebuah pulau tua yang dulu menyatu dengan pulau Sumatera. Pulau ini adalah sisa peninggalan zaman atlantis pada ribuan tahun yang lalu.

Jawa sebelumnya merupakan bagian dari benua atlantis yang telah tenggelam. Peristiwa itu karena proses evolusi alam dengan segala masalah kondisi fisik maupun metafisik.

Pulau jawa tertolong oleh kekuatan spirit jiwa manusia agung yang tinggal disana. Selain itu juga karena kekuatan energi agung metafisik yangs setia mengabdi dan makarti untuk keseimbangan ekosistem kehidupan alam kecil (mikro kosmos).

Kondisi alam fisik bagian pulau jawa yang sudah renta dan rapuh sekarang lebih parah. Kondisi ini karena tidak didukung oleh kekuatan dan energi jiwa kasih bahkan telah sibuk membangun budaya konflik hampir disemua sektor kehidupan.

“Dalam kehidupan telah diwarnai dengan berbagai bentuk pertentangan dan pertikaian yang dipelopori para pemimpin bangsa,”tegas Tukimin.

Mengapa alam yang telah tua dan rapuh, nasibnya tergantung kepada diri manusia? Struktur alam yang tampak perkasa ternyata tak berdaya menopang dirinya tanpa dukungan spirit yang tulus dari manusia yang tumbuh di atasnya.

Padahal manusia telah mengambil inti sari energinya menjadi tubuh fisik manusia yang terus berkembang menyatu bersinergi dengan kekuatan serta energi ruh dan jiwanya.

Maka alam akan hancur berantakan melalui proses bencana alam seperti gempa bumi, dan meledaknya gunung berapi. Ketidaktahuan manusia berbuat kesalahan dan bertentangan dengan hukum alam juga menimbulkan bencana antara lain keluarnya lumpur panas di Porong. Serta muncul banyak jenis bibit penyakit yang mematikan.

“Lalu bagaimana sikap dan pola hidup manusia makhluk akali ciptaan-Nya yang paling sempurna dalam menghadapi segala macam bencana alam yang sedang terjadi?”, tanyanya.

Dia menjelaskan, ditinjau dari latar belakang awal mula terjadinya alam semesta (sangkan paraning dumadi) serta hakekat jatidiri adalah kolaborasi samudera energi, pengabdian kepada sang khaliq dan proses evolusi menuju kesempurnaan sejati yang dikemas indah dengan tatanan hukum ilahi yang kodrati.

Inilah sebenarnya misteri pagelaran permainan agung sang pencipta dan hukum alam yang kodrati tersebut adalah hukum kesatuan (law of unity) yaitu hukum potensialitas sejati yang ada di dalam diri setiap manusia.

Potensi inilah sebenarnya yang bisa digunakan membantu harmonisasi eksosistem alam semesta termasuk planet bumi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini