Larangan Belanda Tak Surutkan Nyali Ribuan Masyarakat Sholat Id di Bekas Rumah Soekarno

Fahmi Firdaus , Okezone · Kamis 13 Mei 2021 05:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 337 2409683 larangan-belanda-tak-surutkan-nyali-ribuan-masyarakat-sholat-id-di-bekas-rumah-soekarno-3b4CkOAkLn.jpg foto: ist

UMAT muslim di seluruh dunia hari ini merayakan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Pada hari ini juga, umat Islam juga melaksanakan Sholat Idul Fitri. 

Menilik jauh ke belakang, pada masa revolusi kemerdekaan, puluhan ribu masyarakat menggelar Sholat Id di pekarangan bekas rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56.

(Baca juga: Habib Rizieq Dikabarkan Jadi Imam Sholat Id di Rutan Mabes Polri, Apa Kata Kejagung?)

Seperti yang terjadi pada Hari Raya Lebaran, Jumat 6 Agustus 1948 atau 1367 Hijriah. Untuk diketahui, sejak Agresi Militer I Belanda 1947 dan Perjanjian Renville (ditandatangani) 17 Januari 1948, Jakarta jadi milik Belanda, sementara wilayah republik hanya tersisa Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatera.

Meski begitu, bukan berarti puluhan ribu warga urung berduyun-duyun tetap menggelar Salat Id berskala besar di pusat kota. Titik yang mereka kehendaki adalah pekarangan bekas rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur Nomor 56.

(Baca juga: Tangis Soekarno karena Tak Mampu Beli Petasan Jelang Hari Kemenangan)

Kehendak yang sebelumnya ditolak Politieke Inlichtingen Dienst (PID) atau Dinas Politik dan Intelijen Belanda. Kehendak yang juga dilarang oleh Hoofd Tijdelijk Bestuur (HTB) dan Pokrol Jenderal (setara Jaksa Agung) Belanda.

Melansir buku ‘Kronik Revolusi Indonesia: Jilid IV (1948)’ karya Pramoedya Ananta Toer dkk, Belanda menganjurkan agar masyarakat Salat Id di Lapangan Gambir. Anjuran yang enggan dituruti Panitia Sholat Hari Raya Idul Fitri 1367 H.

“Sebagai diketahui, Pegangsaan Timur 56 oleh rakyat Jakarta dianggap simbol Republik (Indonesia). Lapangan Gambir Simbol Kekuatan Asing,” tulis Pramoedya Ananta Toer dkk.

Anjuran yang disampaikan dua hari jelang Hari H, yakni 4 Agustus 1948. Sedianya pemerintah Belanda kala itu menentukan 1 Syawal 1367 H, bukan di tanggal 6 Agustus, melainkan 7 Agustus.

Namun, dikutip dari Kantor Berita Antara, panitia dan masyarakat tetap kekeuh untuk melaksanakan Salat Id tanggal 6 Agustus, sesuai ketentuan pemerintah republik di Yogyakarta.

Lantas pada 5 Agustus, panitia datang menemui Pokrol Jenderal (Jaksa Agung) yang awalnya juga keberatan soal Sholat Id di Pegangsaan Timur 56. Namun negosiasi itu menghasilkan perizinan dari Pokrol Jenderal dengan syarat, tidak lebih dihadiri 100 orang.

Saat fajar mulai menyingsing di tanggal 6 Agustus, ternyata tidak hanya 100 orang yang datang. Justru ribuan masyarakat Jakarta yang berduyun-duyun ke lokasi Sholat Id di pekarangan bekas rumah Bung Karno itu. PID dan aparat Belanda pun seolah tak bisa membendung aliran umat muslim yang terus-menerus membanjiri lokasi. Mereka hanya bisa memperketat pengamanan dengan menempatkan sejumlah tank dan jip Polisi Militer Belanda dekat lokasi Salat Id.

Alhamdulillah, pelaksanaan Salat Id yang dimulai pada pukul 09.15-10.00 pagi itu berjalan kondusif, meski suasananya cukup menegangkan karena dijaga ketat Polisi Belanda. Bertindak sebagai imam dan khatib Moh Ali al-Hamidi yang menggantikan Moh Natsir yang batal jadi imam dan khatib.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini