Dilema Polisi Hadapi Pemudik yang Bawa Bayi

Puteranegara Batubara, Okezone · Rabu 12 Mei 2021 13:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 337 2409484 dilema-polisi-hadapi-pemudik-yang-bawa-bayi-RsuOu8akto.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Pos penyekatan di Kedungwaringin, Bekasi, belakangan menjadi sorotan lantaran 'bobolnya' sejumlah pemudik. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo menjelaskan soal adanya situasi yang "memaksa" kepolisian harus melakukan hal lain soal penyekatan arus mudik.

Hal itu dilakukan ketika memang volume kendaraan sudah tidak dapat terbendung lagi.

"Jadi begini mengantisipasi kejadian dua malam lalu, maka tadi malam pasukan sudah kami tambah, pos penyekatan juga sudah kita tambah. Tapi memang volumenya ini luar biasa, ketika laksanakan penyekatan banyak masyarakat yang tetap memaksa untuk bisa mudik, untuk bisa lolos mereka juga tidak mau ka.i putar balik sehingga kemudian menimbulkan membuat kerumunan yang justru berbahaya bagi kesehatan masyarakat itu sendiri," kata Sambodo, Rabu (12/5/2021).

Selain itu, Sambodo menceritakan soal dilematisnya petugas yang melihat ada pemudik membawa bayi di tengah kerumunan arus mudik Lebaran. Sebab itu, mau tidak mau, Sambodo menyebut polisi membuka penyekatan hanya untuk memecah kerumunan yang ada.

"Lagi pula banyak pemudik dari mereka yang bawa anak bayi dan sebagainya, oleh sebab itu kami lakukan diskresi oleh kepolisian untuk kemudian secara bertahap membuka penyekatan untuk kemudian mereka bisa lolos hanya sekedar untuk memecah kerumunan," ujar Sambodo.

Meski Kedungwaringin dibuka, Sambodo menyebut, nantinya pemudik bakal kena pos penyekatan lati di Tanjung Pura, Karawang.

"Toh kemudian tidak jauh dari Kedungwaringin tak sampai satu km dari sana ada pos penyekatan Tanjung Pura di Karawang. Lolos dari Karawang masuk Purwakarta, masuk Subang, masuk Indramayu ada lagi pos penyekatan," ucap Sambodo.

Baca Juga : Ini Sejumlah Masjid di Jakarta yang Gelar Sholat Idul Fitri

Menurut Sambodo, sebanyak apapun personel kepolisian yang dikerahkan dalam menghalau warga yang nekat mudik saat Pandemi Covid-19, tetap lebih penting adanya kesadaran tinggi dari masyarakat itu sendiri.

"Jadi ini yang kami lakukan. Tapi intinya adalah seberapa besar pasukan kami terjunkan yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif masyarakat, untuk sama-sama mau mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak mudik. Karena mereka juga tidak mungkin kami paksa, dorong karena mereka bukan pengunjuk rasa. Jadi tetap malam itu kami lakukan dengan persuasif," tutup Sambodo.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini