Mengungkap Misteri Debus Banten, Rupanya Kental dengan Filosofi Keagamaan

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 12 Mei 2021 10:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 337 2409411 mengungkap-misteri-debus-banten-rupanya-kental-dengan-filosofi-keagamaan-AwwdKpGVpm.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

DEBUS dikenal berasal dari Banten. Menurut (alm) Sultan Banten, Ismetullah al Abbas, debus mempunyai hubungan dengan tarekat di dalam ajaran Islam. Jadi debus sangat kental dengan filosofi keagamaan.

Dalam ajaran tarekat , ada ajaran mereka dalam kondisi yang sangat gembira karena bertatap muka dengan Tuhannya. Mereka menghantamkan benda tajam ketubuh mereka, tiada daya upaya melainkan karena Allah semata.

Selanjutnya dijelaskan, debus ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16.

Para pengikut tarikat ini ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena "bertatap muka" dengan Tuhan), kerap menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka.

“Filosofi yang mereka gunakan adalah "lau haula walla Quwata ilabillahil 'aliyyil adhim" atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka,” ujar Ismetullah.

Dijelaskan Ismet, peralatan yang digunakan dalam permainan adalah, debus dengan gada-nya , golok yang digunakan untuk mengiris tubuh pemain debus, pisau juga digunakan untuk mengiris tubuh pemain, bola lampu yang akan dikunyah atau dimakan,seperti permainan kuda lumping di Jawa Tengah dan Timur.

Panci yang digunakan untuk menggoreng telur di atas kepala pemain, buah kelapa , minyak tanah dan lain sebagainya. Sementara alat musik pengiringnya antara lain,gendang besar, gendang kecil, rebana, seruling; dan kecrek.

Menurut Ismet, kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, atau untuk hiburan masyarakat. Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan (gembung), yaitu pembacaan sholawat atau lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad, dzikir kepada Allah, diiringi instrumen tabuh selama tiga puluh menit.

Baca Juga : Humor Gus Dur: Harimau Berdoa Sebelum Makan

Acara selanjutnya adalah beluk, yaitu lantunan nyanyian dzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan. Permainan debus pada umumnya diawali dengan mengumandangkan beberapa lagu tradisional (sebagai lagu pembuka atau "gembung").

“Setelah dzikir dan macapat selesai, maka dilanjutkan dengan permainan pencak silat yang diperagakan oleh satu atau dua pemain tanpa menggunakan senjata tajam yang dikombinasikan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa magis,” paparnya.

Setelah itu baru atraksi kekebalan tubuh didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya seperti menusuk perut dengan gada, tombak atau senjata almadad tanpa luka; mengiris anggota tubuh dengan pisau atau golok, makan api, memasukkan jarum kawat ke dalam lidah, kulit pipi dan angggota tubuh lainnya sampai tebus tanpa mengeluarkan darah, mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah.

Tapi semua itu dapat disembuhkan seketika itu juga hanya dengan mengusapnya.

Apabila terjadi "kecelakaan" yang mengakibatkan pemain terluka, maka seorang guru debus akan menyembuhkannya dengan mengusap bagian tubuh yang terluka disertai dengan membaca mantra-mantra, sehingga luka tersebut dalam dapat sembuh seketika.

Kemudian, ketika atraksi penyayatan tubuh dengan sejata tajam seperti golok dan pisau, pemain akan menusukkan senjata tersebut ke beberapa bagian tubuhnya seperti: leher, perut, tangan, lengan, dan paha.Ketika atraksi pemakanan kaca dan atau bola lampu, yang dimuntahkan bukannya serpihan kaca melainkan puluhan ekor kelelawar hidup.

Ismet menceritakan bahwa debus bermula pada abad 16 masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Debus awalnya berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad pada abad 13 M dan diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu.

Versi berikutnya asal debus berasal dari ajaran tarekat Rifa’iyah Nuruddin Ar-Raniry ke Aceh dan masuk ke Banten pada Abad 16 M oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908 M) yang diasingkan pemerintah Belanda ke Sumedang.

Salah seorang pengawal yang menguasai Debus memperkenalkan serta mengajarkannya pada masyarakat Banten. Tarekat Rifa’iyah mengajarkan rasa gembira saat bertemu Allah Swt atau disebut epiphany, nah saat seseorang telah mencapai puncak epiphany dia akan kebal terhadap benda tajam apapun.

“Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1651—1692 M, debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang rakyat banten melawan penjajah Belanda,” ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini