Kisah Soemarno Sosroatmodjo Kakek Bimbim Slank, Pencetus Rumah Murah di Jakarta

Tim Okezone, Okezone · Rabu 12 Mei 2021 00:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 12 337 2409286 kisah-soemarno-sosroatmodjo-kakek-bimbim-slank-pencetus-rumah-murah-di-jakarta-0tBOsPwmdj.jpg foto: ist

SEBAGAI Ibu Kota, tentu Jakarta hadir menjadi tujuan utama masyarakat untuk menetap. Mulai dari Sabang sampai Merauke, banyak orang yang berbondong-bondong mengadu nasib di Ibu Kota.

(Baca juga: Hikayat Pasukan Komando Baret Merah yang Dibentuk Eks Sopir Ratu Wilhelmina)

Hadirnya begitu banyak orang di Jakarta menyisakan masalah besar, yaitu urusan tempat tinggal. Soemarno Sosroatmodjo yang menjadi Gubernur DKI Jakarta pada periode 1960-1964 hadir sebagai pahlawan.

“Kalau kita bisa menyelenggarakan Asian Games, maka sayang sekali jika kita tidak bisa menyelesaikan soal perumahan. Itulah sepenggal ungkapan Soemarno Sosroatmodjo Gubernur DKI Jakarta periode 1960-1964 kepada wartawan Star Weekly,” kutip Okezone dari akun Youtube Property Inside, beberapa waktu lalu.

Dalam channel tersebut juga menceritakan kisah Soemarno dan perjalanannya mencetuskan program rumah minimum, sebagai jawaban kurangnya lahan tempat tinggal bagi warga Jakarta.

Kisahnya bermula saat Jakarta sedang dalam persiapan menjadi tuan rumah pagelaran Asian Games 1962. Sebagai Ibu Kota, Jakarta pun diharuskan membangun banyak fasilitas untuk melancarkan pekan olahraga terbesar di Asia itu. Namun ternyata, ada konsekuensi berat yang harus diterimanya.

(Baca juga: Kisah Menegangkan Operasi Intelijen Kopassus di Negeri Belanda)

“Konsekuensinya, pembangunan tersebut harus mengorbankan penduduk Jakarta. Jumlah rumah yang dibongkar dan dibangun kembali sebanyak 8.652 rumah. Padahal di saat yang sama Ibukota Negara ini juga kekurangan 100 ribu rumah dan terus bertambah setiap tahun sebanyak 10 ribu rumah,” jelasnya dalam video.

Tentu menjadi hal yang cukup memusingkan bagi Soemarno. Ia harus membantu menyukseskan acara besar tersebut, padahal kondisi Jakarta juga sedang tidak baik-baik saja. Banyak warganya yang tak mampu mempunyai sebuah rumah.

Pada waktu itu, terdapat puluhan ribu orang yang tidak memiliki rumah. Bagi yang mampu dan beruntung, mungkin masih bisa menyewa sebuah rumah petak. Bagi yang tidak, tak sedikit yang akhirnya mendirikan bangunan-bangunan liar.

“Soemarno mengupayakan jalan keluar masalah perumahan ini. Tanah lapang luas seperti di Cempaka Putih atau Pulo Mas menunggu digarap. Soemarno berangan-angan, warga golongan ekonomi lemah mampu membeli tanah di sana secara legal,” ceritanya.

Tercetuslah program rumah minumum sebagai jalan keluar yang dipikirkan Soemarno. Menggagas konsep rumah minimum dengan luas 90 meter persegi, yang dibangun di atas tanah 100 meter dengan dua lantai. Dibuat dekat dengan tempat kerja, agar lebih hewat waktu dan tenaga.

Meski memiliki ide yang brilian, Soemarno mengalami halangan ketika coba merealisasikannya. Kondisi keuangan pemerintah daerah saat itu, tak mampu menyediakan kebutuhan tempat tinggal sepenuhnya. Akhirnya pemda pun menyiasatinya hal itu dengan melakukan beberapa hal.

“Sebagai solusi pemerintah daerah bakal menjamin harga tanah, menghapus aturan Surat Izin Penghuni, menyediakan akses jalan, dan membangun fasilitas penunjang lainnya,” ujarnya dalam video.

Soemarno mengajak kerjasama pihak swasta dan juga masyarakatnya, untuk mendukung programnya tersebut. Berharap program yang ia canangkan, bisa benar-benar menjangkau masyarakat lapisan bawah. Dan dalam 3 tahun, program itu akhirnya menjadi kenyataan.

“Harian Djaja, 11 Juli 1964 mencatat, proyek Cempaka Putih dibangun dengan lahan seluas 235 ha. 22 ha telah di land clearing dan di atasnya sudah dibagun seluas 6 ha, yang terdiri dari 204 unit tipe rumah minimum, 33 pintu tipe rumah sedang dan 11 pintu tipe villa,” cerita akun Youtube Property Inside.

Soemarno sengaja mendirikan perumahan dengan 3 tipe, minimum, sedang dan villa. Ia ingin warganya yang berasal dari berbagai latar belakang, bisa berbaur dan bekerja sama membentuk sebuah lingkungan harmonis.

Gubernur yang sebelumnya merupakan seorang dokter militer ini meninggalkan begitu banyak jasa untuk Kota Jakarta. Tak hanya membantu menyelesaikan persoalan hunian, beliau juga meninggalkan beberapa bangunan bersejarah.

“Pada masa kepemimpinannya juga dibangun Monas, Gedung Sarinah, Patung Selamat Datang dan Patung Pahlawan di Menteng,” kutip Okezone dari unggahan kanal Youtbe, Property Inside.

Pria kelahiran Jember, Jawa Timur pada 24 April 1911 ini tutup usia diumur 79 tahun. Ia meninggal pada 6 Januari 1991 dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta Pusat. Meninggalkan seorang istri, 7 anak, 22 cucu dan 3 cicit, yang salah satunya merupakan personel Slank, Bimbim.

Meski telah tiada, apa yang ditinggalkan Soemarno bagi warga Jakarta sangatlah berarti. Namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit di Kapuas, Kalimantan Tengah. Sebuah rumah sakit yang sempat dipimpinnya pada era pra kemerdekaan.

(Timothy Putra Noya)

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini