Pentingnya Komunikasi dalam Aktivitas Intelijen

Resensi Buku, MNC Media · Selasa 11 Mei 2021 12:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 11 337 2408938 pentingnya-komunikasi-dalam-aktivitas-intelijen-xPWu2KYlLR.jpg (Foto : Istimewa)

SAAT ini intelijen semakin berkembang, tidak hanya menjadi domain dari militer atau penegak hukum, tetapi juga menarik bagi masyarakat umum. Selain itu literature tentang intelijen tidak lagi terbatas hanya milik dan berada di lembaga-lembaga bertembok tinggi dan dengan stempel “rahasia”, tetapi sudah bias diakses oleh masyarakat umum. Meskipun demikian harus diakui bahwa buku tentang intelijen di Indonesia masih sangat sedikit dan terbatas.

Salah satu literatur bermutu terkait intelijen yang bisa diakses oleh masyarakat umum adalah buku berjudul “Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan”. Buku ini ditulis oleh Dr Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, M.SI, atau biasa dikenal dengan Bu Nuning.

Hal yang sangat menarik adalah bidang intelijen dengan segenap risikonya biasanya didominasi oleh kaum pria, namun ada seorang wanita mampu menghasilkan literature tentang intelijen dengan sangat detail. Penulis buku tersebut tentu bukan sekadar menulis, karena buku tersebut adalah bagian dari naskah disertasi dari penulis buku untuk studi doktoralnya di Universitas Padjajaran. Selain teruji secara akademis tentu saja bukuini disusun dengan penelitian dan pengalaman di lapangan.

Inteijen

Meskipun judul buku ini menggunakan frase “intelijen keamanan” yang lekat dengan tugas dari kepolisian, namun buku ini tidak dibatasi kontennya hanya untuk Polri. Buku ini bias menjadi pengetahuan siapapun juga termasuk para praktisi intelijen di luar Polri, bahkan masyarakat umum juga bias belajar bagaimana pola komunikasi antarlembaga atau pihak melalui buku ini.

Pada bab 2 dan 3, buku ini memberikan pengetahuan dasar tentang intelijen terutama terkait dengan intelijen sebagai organisasi dan intelijen sebagai proses. Pembaca awam yang belum mengenal intelijen akan sangat terbantu untuk memperoleh pengetahuan tentang apa organisasi intelijen dan bagaimana cara kerja intelijen.

Selanjutnya pada bab 4-10, penulis membeberkan dasar-dasar komunikasi intelijen dengan sangat detail dan ilmiah. Pada bab 11 dan 12, penulis menyajikan hal mendasar yaitu tentang kepolisian RI dan intelkam dalam sejarah. Bab 11 dan 12 ini seakan menjadi pengantar sebelum memasuki bagian-bagian teknis pada bagian selanjutnya.

Bagian inti dari buku ini disajikan pada bab 13-17 yang terdiri dari informasi intelijen (bab 13), Kegiatan Komunikasi Intelkam (bab 14), Komunikasi Organisasi Intelijen dalam Studi (bab 15), Komunikasi Vertikal-Horizontal Intelijen (bab 16), dan Komunikasi Formal-Informasi Intelijen (bab 17). Pada bab inti ini penulis tidak hanya menggambarkan pola ideal dalam komunikasi antarpihak dalam intelijen tetapi juga menggambarkan tentang pembentukan dan pengendalian jaringan intelijen (hal 108-113). Jaringan intelijen ini sangat penting karena menjadi sumber-sumber infomasi yang harus diperoleh oleh agen intelijen di lapangan.

Buku ini secara detail juga membahas bagaimana pola komunikasi intelijen secara vertikal dan horizontal. Di dalam tugas-tugas intelijen, pihak yang diajak berkomunikasi tidak hanya rekan kerja dalam satu korps, tetapi juga pihak dari lembaga atau intitusi intelijen lain seperti BAIS TNI, BIN, Intelijen Kejaksaan, dan intelijen dari Kementrian/Lembaga lainnya.

Selain itu komunikasi juga harus dilakukan kepada organisasi non pemerintah dan masyarakat. Penulis juga menyinggung tentang komunikasi formal (hal 149) dan komunikasi infomal (164), termasuk di antaranya tentang distorsi hilangnya komunikasi (hal 157) dan standar disasikriptografi (hal 158) untuk keamanan informasi.

Di tengah dinamika ancaman yang semakin kompleks dan menuntut adanya kolaborasi antarpihak untuk menghasilkan kinerja yang maksimal, komunikasi dalam kinerja intelijen keamanan menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pada kasus paling aktual, misalnya masalah keamanan di Papua, terdapat banyak satuan intelijen yang bertugas dalam satu wilayah. Jika tidak terjadi komunikasi yang baik maka potensi gesekan antarsatuan di lapangan sangat mungkin terjadi.

Kolaborasi kerja dalam intelijen keamanan sangat memerlukan pola komunikasi yang tepat. Maka, bukan hal yang berlebihan jika buku “Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan” ini direkomendasikan untuk dibaca dan dipahami oleh seluruh unsure intelijen di Indonesia.

Stanislaus Riyanta,

Alumnus S2 Kajian Stratejik Intelijen UI,

saat ini sedang menyelesaikan studi doctoral di Fakultas Ilmu Administrasi UI.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini