Ritual Sebar Apem di Makam Pujangga R.Ng Yosodipuro

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 11 Mei 2021 06:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 11 337 2408768 ritual-sebar-apem-di-makam-pujangga-r-ng-yosodipuro-Muu0TiDtul.jpg Makam R.Ng Yosodipuro (foto: ist)

JAKARTA - Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh, dan Jembungan.

Dengan peninggalan yang tersisa adalah pemandian umbul Pengging, Umbul Sungsang, dan makam pujangga Kasunanan Surakarta Hadiningrat Yosodipuro.

Baca juga:  Jalur Gaib Rawan Kecelakaan antara Jakarta-Cirebon

Pengging juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar, tradisi ini sudah ada sejak jaman R.Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai karena pengaruh R.Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama.

R Ng Yosodipuro I (1729-1803) adalah pujangga Jawa yang mumpuni pada masa pemerintahan Pakubuwono II, III, dan IV. Ia sebenarnya memiliki peran dan jasa besar dalam mengembangkan sastra Jawa modern.

Baca juga:  Pangeran Diponegoro Dibantu Kesultanan Turki Utsmani?

“Karena ketokohannya, wangsit yang disampaikannya sebelum wafat terus diikuti masyarakat hingga saat mi. Yosodipuro I mengamanatkan kepada warganya agar kuburnya diberi janur kuning agar mendapat kejernihan pikiran dan berkah,” papar Sancoyo, juru kunci makam Yosodipuro.

R.Ng Yosodipuro adalah seorang pujangga sekaligus ulama yang menyebarkan agama Islam hidup pada masa pemerintahan Pakubuwono II dikenal sangat dekat dengan kaum petani, karena kearifannya seringkali rakyat Pengging memohon petunjuk termasuk pada saat petani meminta bantuannya untuk mengatasi serangan hama keong mas.

Atas petunjuk R. Ng Yosodipuro para petani mengambil keong mas tersebut kemudian dimasak dengan cara dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janur yang dibentuk seperti keong mas.

Setiap kali panen padi janur bekas balutan keong mas tersbut digunakan untuk membuat apem kukus. Apem kukus itu kemudian dibagi-bagikan pada petani sebagi wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diberikan dan juga berkurangnya hama keong.

“Tradisi bagi-bagi apem akhirnya terus berkembang hingga berjalan sampai sekarang. Bagi masyarakat yang percaya jika berhasil mendapatkan apem maka diyakini akan mendatangkan berkat,” tambahnya.

Pesta budaya sekaligus memperingati jasa R Ng Yosodipuro dalam bentuk ritual atau upacara tradisi apeman yang mulai diselenggarakan tahun 1967, diadakan secara rutin setiap tahun. Pada awalnya dilangsungkan dengan sederhana dan hanya menampilkan satu panggung hiburan. Seiring bertambahnya waktu acara tradisi ini berjalan semakin maju dan semarak dengan berbagai jenis kegiatan dan hiburan.

Acara ini sering bertepatan dengan acara Pengging Fair yaitu pesta rakyat dan budaya Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Acara ini berlangsung selama seminggu dengan puncak acaranya adalah hari terakhir perayaan ini.

Upacara ini merupakan tradisi berebut apem (makanan khas yang terbuat dari tepung beras) yang terbungkus janur (daun kelapa yang masih muda) dan telah didoakan oleh Kyai/ Ulama dan dibagikan pada Jumat siang setelah Sholat Jumat.

Diterangkan Sancoyo, biasanya masing-masing RT mengirimkan apem sebanyak 200 buah kemudian dikumpulkan di kantor kecamatan. Acara apeman atau Saparan itu dilaksanakan tepat di perempatan depan Masjid Cipto Mulyo, kompleks wisata Umbul Pengging.

Malam sebelumnya diadakan prosesi melakukan doa dan tahlil di Masjid Cipto Mulyo dan dilanjutkan ziarah di makam R. Ng Yosodipuro kemudian dilanjutkan dengan upacar kenduri serta Sanggaran.

Selanjutnya ritual diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan dua buah gunungan apem serta berbagi macam kesenian daerah setempat. Dimulai di depan kantor kecamatan Banyudono menuju halaman Masjid Cipto Mulyo. Acara ini dihadari oleh pejabat daerah setempat, trah dari R. Ng Yosodipuro serta kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat.

Acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit dimainkan oleh dalang dari Pengging sendiri diselingi lawakan oleh pelawak Gogon yang asli Pengging. Bahkan pelawak Srimulat turut serta menyemarakkan acara ini. Hal ini mendorong lahirnya seniman - seniman muda dari Pengging. Selain itu sanggar karawitan dan tari tradisioanal dibuka di Pengging.

“Pelawak –pelawak dari srimulat seperti Gogon, Kadir, alm Basuki, menyempatkan diri ziarah ke makam Yosodipuro,” katanya.

Dengan demikian pengunjung yang datang semakin bertambah banyak dan Pegging menjadi terkenal dengan Obyek Wisata Pemandian Umbul Pengging dan Makam Pujangga Yosodipuro saja namun juga dengan kegiatan tradisi tahunan tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini