Kisah Soetrisno Bachir Keliling Jakarta Dagang Batik Naik Bus Kota

Doddy Handoko , Okezone · Senin 10 Mei 2021 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 10 337 2408500 kisah-soetrisno-bachir-keliling-jakarta-dagang-batik-naik-bus-kota-aLkvHntZ6t.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Sosok Soetrisno Bachir, akrab disapa SB, yang lahir di Pekalongan Jateng 10 April 1957 ini berasal dari keluarga pedagang dimana keluarganya anggota Muhammadiyah, namun punya garis NU dari salah satu pihak.

Ayahnya Bachir Achmad (Alm) adalah seorang pedagang batik yang membuka toko di rumahnya dan ibunya Latifah Djahrie sebagai produsen sehingga tak heran jiwa dagang menitis ke dirinya.

Insting bisnis SB sudah terasah sedari kecil. Itu mungkin yang membedakan penilaian orang awam, tentu hanya melihat SB -- tercatat jajaran sedikit konglomerat pribumi-- yang menuai tangga kesuksesan kini dengan sederet usaha.

Ia adalah tipe pekerja keras, jeli menangkap peluang dan lihai mencari celah untuk terus mengepakkan sayap bisnis. Kini Presdir Grup Sabira ( induk dari 10 perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, investasi, perdagangan, konstruksi, ekspor impor, pelabuhan, dan agrobisnis) terus konsisten mengembangkan bisnis.

Salah satu dari sekian banyak ragam bisnis SB yang menonjol adalah properti dan batubara. Namun, ia enggan menguraikan secara detail, aneka macam perkembangan bisnis yang digelutinya. Sedikit menengok ke belakang. Sejak ditinggal ayahnya dia berdagang batik dari SD sampai SMA dimana SB mengenyam pendidikan formal di kota kelahirannya Pekalongan.

Menginjak remaja, SB tertarik untuk merantau ke Jakarta, berdagang batik sembari kuliah di FE Universitas Trisakti.

SB rela berpeluh keringat, berjejalan naik bus kota untuk menjajakan dagangan batiknya. Meski SB muda hidup pas-pasan bahkan boleh dikata kekurangan, kegemaran untuk membantu kawan telah direntasnya sejak muda hingga kuliah. Pedagang batik muda itu hanya senyum-senyum saja, ketika dijuluki sebagai ‘Si Dermawan ‘ di kampusnya.

“Membantu kawan dengan ikhlas, suatu saat saya akan memetik hasilnya. Meski kadang harus rela uang hasil untung jualan batik ludes hari itu juga untuk membantu kawan. Saya menjadi seperti ini (konglomerat red) ya karena salah satunya doa dari teman-teman, selain tentu restu orang tua, ” kata suami dari Anita Rosana Dewi yang dikaruniai empat anak yaitu ; Meisa Prasasti, Layaliya Nadia Putri, Maisara Putri, dan Muhammad Izzam.

Waktu kuliah di Trisakti, ia harus keliling Jakarta, naik bus kota, misalnya ke pasar Tanah Abang.

"Saya juga pernah berlari-lari mengejar bus. Selain itu juga bergelantungan dan berdesakan di dalam bis kota. Itulah kegiatan saya, kuliah dan berdagang batik keliling. Namun itulah romantika kehidupan, banyak manfaat yang bisa dipetik,"ujarnya.

Menurutnya mengembangkan bisnis, tidak susah-susah amat, meski bukan berarti amat mudah. Seperti apa petuah banyak orang kerja keras, itu pondasi utama dalam mengembangkan bisnis.

"Bahkan saya menambahkan ada faktor X yang sangat berpengaruh yaitu pondasi keagamaan. Saya dilatih dan dididik religius sejak kecil, mengakui ada ‘tangan Tuhan ‘ yang bermain. Itu saya akui betul," paparnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini