Kisah Kerbau Bule yang Minta Dikirabkan di Alun-alun Pengging

Doddy Handoko , Okezone · Senin 10 Mei 2021 07:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 10 337 2408204 kisah-kerbau-bule-yang-minta-dikirabkan-di-alun-alun-pengging-969kimIjsw.jpeg (Foto : Doddy Handoko)

KONON kerbau bule di Keraton Surakarta merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo untuk Pakoe Boewono II, sekitar abad 17.

Kisah ini berawal dari pemberontakan yang dilakukan Pangeran Mangkubumi hingga menyebabkan Raja Paku Boewono II harus mengungsi ke Ponorogo.

"Beliau tinggal di tempat Bupati Ponorogo hingga pemberontakan berakhir. Di tempat ini Sinuhun Paku Boewono II mendapat petunjuk gaib bahwa pusaka Kiai Slamet milik Keraton Surakarta harus dikawal oleh sepasang kerbau bule agar Karaton Surakarta menjadi aman dan langgeng," ujar Kangjeng Raden Arya Tumenggung Ahmadi Hadinagoro, Srati Mahesa yang ada di Boyolali.

Mendengar perkataan raja, bupati teringat bahwa sang bupati memiliki sepasang kerbau bule dan kemudian mempersembahkan kepada Raja.

Setelah perang usai Raja Surakarta ini pun membawa sepasang kerbau bule ke Keraton Kartasura. Selama bertahun-tahun dan turun-temurun, kerbau bule menjadi penjaga pusaka Kiai Slamet.

Nama Kiai Slamet yang sebenarnya merupakan nama pusaka yang konon berupa tombak dan uniknya nama Kyai Slamet tadi melekat pada kerbau bule.

Maka setiap malam 1 Sura kerbau bule ini menjadi cucuk lampah pusaka Kiai Slamet yang dikirab bersama pusaka-pusaka keraton lainnya.

Menurut Srati Mahesa yang juga abdi dalem Karaton Surakarta yakni KRAT Ahmadi Hadinagoro bahwa pada Oktober 2019 sebagian kerbau Bule yang ada di alun alun Kidul Karaton Surakarta dirasa melebihi kapasitas. Kemudian atas prakarsa GKR Wandansari, Ketua Lembaga Dewan Adat yang kerap dipanggil Gusti Moeng ini mulai dipindahkan ke Boyolali yakni di Desa Karangmojo Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali. Jaraknya kurang lebih 2 kilometer dari Pengging.

Sejumlah 5 ekor dipindah, sekarang beranak bertambah 4 ekor hingga berjumlah 9 ekor. Kemudian 3 ekor berada di tempat abdi dalem kecamatan Cepogo , 1 ekor berada di rumah abdi dalem kecamatan Selo. Total kerbau turun Kiai Slamet ini berjumlah 13 ekor.

"Kerbau -kerbau ini memiliki nama seperti halnya manusia ada yang bernama Si Pahang, Pon, Jalu, Inem," ucapnya.

Selama menjadi Srati Kerbau turun Kiai Slamet, Ahmadi memiliki pengalaman unik karena ada kebiasaan setiap malam jumat Pahing kerbau bule ini biasa dikirapkan di alun alun Pengging. Sejak pandemi Covid-19 maka tardisi itu berhenti.

"Pernah suatu malam jumat pahing kerbau ini membuka kandang dan keluar menuju alun alun Pengging berjalan memutar satu kali kemudian pulang lagi ke kandangnya. Maka tidak heran jika setiap malam Jumat pahing pasti berisik minta dikeluarkan dari kendang untuk dikirabkan mengelilingi Alun Alun Pengging," demikian kata KRAT Ahmadi Hadinagoro.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini