Raja dan Sultan Minta Dikembalikan Pelajaran Sejarah Kerajaan dan Kesultanan Nusantara

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 09 Mei 2021 07:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 09 337 2407893 raja-dan-sultan-minta-dikembalikan-pelajaran-sejarah-kerajaan-dan-kesultanan-nusantara-9EFI3ix5Ol.jpg Samudra Pasai (Ilustrasi/Dok Sindo)

Sebagai wilayah Silang Budaya—meminjam penamaan Dennys Lombard untuk kawasan ini—Pulau Jawa merupakan lintasan peradaban Hindu, Budha, Konfusianisme serta Islam (Peradaban Timur) dan Kristen serta Katolik (peradaban Barat) yang bercampur dengan warisan kebudayaan lokal.

Kerajaan-kerajaan Hindu, Budha juga Islam berganti hadir dalam sejarah kekuasaan di Jawa. 

Dalam sejarah perlawanan bangsa-bangsa pribumi, kerajaan-kerajaan itu pernah menjadi penguasa di daerahnya masing-masing, yang terkadang terjadi peperangan di antara mereka.

Namun sejak Portugis tiba di Malaka ditahun 1511, lalu VOC berdiri ditahun 1602, dan tiba di pelabuhan Banten 1659, sejak saat itu pelayaran bangsa-bangsa Barat ke Timur jauh makin intensif, penuh pertentangan, penaklukan dan penjajahan rakyat Nusantara.

Kerajaan-kerajaan itu ada yang menjadi pelaku aktif pemberontakan terhadap bangsa-bangsa Barat yang berlayar mencari komoditi, menguasai kawasan, dan mengendalikan jalur perdagangan serta pelayaran di Nusantara.

Namun ada pula yang menjadi ‘kerajaan komprador’dari imperium bangsa-bangsa Barat itu. 

Dibeberkan Masud, berdirinya negara Indonesia modern membuat eksistensi kerajaan, kesultanan atau bentuk sistemik lain dari monarki, termarginalisasi sekaligus tersubordinasi ke dalam pusat kekuasaan.

Hanya di beberapa tempat, eksistensi monarki Nusantara itu tetap bertahan dan dalam beberapa segi masih berani vis-à-vis kekuasaan negara.

Kesultanan Yogyakarta adalah contoh paling baik yang menggambarkan tumpang tindihnya kuasa kerajaan dan kuasa negara : seorang Gubernur juga adalah seorang Sultan.

Baca Juga : Kisah Mantan Tukang Parkir Lulusan SD Punya Mobil & Motor Mewah

Pada daerah yang pernah menjadi saksi politis juga teritorial hadirnya kerajaan, selain menyisakan prasasti atau situs budaya (seperti candi, makam, keraton, dan lainnya), jejak tradisi dan kebudayaan relatif masih cukup terjaga. 

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini