Ritual Pelana Kuda Sunan Muria untuk Panggil Hujan

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 08 Mei 2021 08:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 08 337 2407554 ritual-pelana-kuda-sunan-muria-untuk-panggil-hujan-QiHopYy06O.jpg Sunan Muria (foto: Dok Sindo)

JAKARTA - Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Umar Syahid. Nama kecil beliau ialah Raden Prawoto.

Sunan Muria adalah putera Sunan Kalijaga hasil pernikahannya dengan Dewi Saroh, puteri Maulana Ishak. Setelah dewasa, Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, puteri Sunan Ngudung, memperoleh seorang putera yang bernama Pangeran Santri, di kemudian hari telah diberikan nama julukan Sunan Ngadilangu.

Baca juga:  Humor Gus Dur, dari Bandara Abdurrahman Wahid hingga Wartawan Kecele

Sunan Muria pun memiliki pertalian keluarga dengan Sunan Kudus, karena Sunan Kudus adalah putera kepada Sunan Ngudung (Raden Usman Haji).

Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah yang sangat terpencil, dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Tempat tinggal beliau terletak di salah satu puncak Gunung Muria yang bernama Colo.

Baca juga:  Selama Libur Lebaran, ASN Wajib Laporan agar Tak Kabur ke Luar Kota

Di sana Sunan Muria banyak bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut. Ia satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam. Salah satu hasil dakwah beliau melalui media seni adalah tembang Sinom dan Kinanti.

Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru.

Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juwana hingga sekitar Kudus dan Pati. Peranan serta jasa Sunan Muria semasa hidupnya membuat makam beliau yang terletak di Gunung Muria sampai hari ini tidak pernah sepi peziarah.

Di atas bukit Muria itulah letaknya makam Sunan Muria, di belakang Masjid yang konon dibuat sendiri oleh beliau.

Karomah Sunan Muria diantaranya adalah benda bekas peninggalannya, diantaranya pelana kuda yang kerap digunakan masyarakat sekitar Gunung Muria untuk meminta hujan jika terjadi kekeringan di wilayah tersebut.

Ritual minta hujan tersebut dikenal dengan nama guyang cekathak atau memandikan pelana kuda milik Sunan Muria. Ritual ini biasanya digelar pada hari Jumat Wage di musim kemarau. Ritual diawali dengan membawa pelana kuda peninggalan Sunan Muria dari Komplek Masjid Muria ke mata air Sedang Rejoso di Bukit Muria.

Di mata air ini, pelana kuda kemudian dicuci lalu air sendang lalu dipercik-percikan ke warga. Usai mencuci pelana kuda, dilanjutkan dengan membacakan doa dan menunaikan salat minta hujan (Istisqa).

Lalu ditutup dengan makan bersama dengan lauk-pauk berupa sayuran dipadu dengan parutan kelapa, opor ayam dan gulai kambing. Disediakan juga makanan penutup berupa minuman khas warga Kudus berupa dawet yang melambangkan bahwa butiran dawet adalah lamban.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini