Kisah Pangeran Diponegoro dengan Keris Kiai Ageng Bondoyudo yang Ikut Dikubur di Makassar

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 07 Mei 2021 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 07 337 2406949 kisah-pangeran-diponegoro-dengan-keris-kiai-ageng-bondoyudo-yang-ikut-dikubur-di-makassar-ezsfI0KRIt.jpg Pangeran Diponegoro.(Foto:Dok Okezone)

PANGERAN DIPONEGORO diketahui punya koleksi senjata pusaka. Sebagian besar senjata itu dibagi-bagikan di antara anggota keluarga dekatnya, kecuali satu—keris Kiai Ageng Bondoyudo.

" Keris ini dibuatnya dari pusaka lain pada tahun kedua Perang Jawa dan lebih sebagai jimat daripada senjata tempur. Ia telah mewarisi juga sebilah keris, Kiai Abijoyo, dari ayahnya, barangkali tatkala ia diangkat sebagai Raden Ontowiryo pada September 1805 , "kata Sejarawan Peter Carey, penulis buku P.Diponegoro, Kuasa Ramalan.

Hadiah panah Sarutomo, yang tampil di mata Diponegoro bagai lesatan selarik cahaya, lagi-lagi mengingatkan pada Arjuna, tokoh wayang yang paling sering disamakan dengan Pangeran (Carey 1974a:12– 6; hlm. 471).

Baca Juga: Jalur Tengkorak Pekalongan-Demak, Hati-hati di Alas Roban dan Perbatasan Semarang

Dalam cerita wayang yang diambil dari Mahabharata, senjata sakti yang sama dikaitkan dengan pangeran Pandawa itu tatkala ia bersamadi di Danau Tirtomoyo.

Hal itu mungkin juga punya kaitan dengan masa kehancuran Jawa yang akan ditimbulkan oleh Diponegoro sebagaimana diramal oleh suara gaib di Parangkusumo, sama halnya dengan panah Arjuna, Pasopati, menjadi sarana penghancuran kekuatan jahat dalam kidung Arjunawiwāha (Pernikahan Arjuna; Poerbatjaraka 1926:288–90). Tentu saja, Diponegoro sangat menghargai senjata itu.

Baca Juga: Kisah Jenderal Bambu Runcing Kiai Subchi, 10 Ribu Orang Tiap Hari Disepuh

Sekembalinya ke Tegalrejo, ia mewujudkannya dalam sebentuk belati kecil atau cundrik, yang kemudian dibawa-bawa oleh istrinya yang keempat, Raden Ayu Maduretno (pasca-Agustus 1825, Ratu Kedaton), selama Perang Jawa.

"Kira-kira pada 1827, belati itu dilebur bersama dengan dua benda pusaka lain milik Diponegoro menjadi sebilah keris pusaka, bernama Kiai Ageng Bondoyudo (Yang Mulia bertanding tanpa senjata), yang digunakan mengobarkan semangat prajuritnya selama tahap perjuangan sulit melawan Belanda,"paparnya.

Tiga benda pusaka penting itu adalah Kiai Sarutomo (cundrik), Kiai Barutubo (lembing), dan Kiai Abijoyo (keris).

"Keris itu dibawa Pangeran ke Batavia158 dan tetap menjadi miliknya selama pengasingan di Sulawesi, sebelum akhirnya ikut dikuburkan bersama dia di pemakamannya di Kampung Melayu, Makassar ,"ungkap Carey.

Terdapat setsa arang Diponegoro karya A.J. Bik. Ia tampak mengenakan pakaian “ulama” yang ia pakai selama Perang Jawa, yang terdiri dari sorban, baju koko (baju katun) tanpa kerah, dan jubah.

Sehelai selempang tersampir di bahu kanan, dan keris pusakanya, Kanjeng Kiai Ageng Bondoyudo (Sripaduka Petarung Tanpa Senjata) terselip pada ikat pinggang yang terbuat dari bahan sutera berbunga-bunga.

Pipinya yang agak cekung itu, yang menonjolkan tulang pipinya yang tinggi, merupakan akibat serangan malaria yang ia derita sejak berkelana di hutan-hutan Bagelen dan Banyumas pada masa akhir perang.

Ia juga punya tombak bernama Kiai Rondan,. Diponegoro percaya bahwa tombak keramat ini memberinya isyarat akan timbulnya kesulitan dan bahaya. Hilangnya benda itu sangat berpengaruh terhadap dirinya dan ia menganggapnya sebagai suatu tanda dari Yang Mahakuasa bahwa ia telah dikhianati oleh tiga orang panglimanya (basah) di Mataram.

Pada 11 November 1829, hari ulang tahunnya yang ke-44, ia hampir tertangkap oleh pasukan gerak-cepat ke-11 yang dipimpin oleh Mayor A.V. Michiels di daerah pegunungan Gowong sebelah barat Kedu. Waktu itu, sang Pangeran terpaksa terjun ke jurang dan bersembunyi di balik rumput gelagah tinggi untuk bisa lolos dari pasukan Belanda dari Manado.

Dengan meninggalkan beberapa ekor kuda miliknya, tombak pusaka,(*) dan peti pakaian108 (Van den Broek 1873–77, 24:91; Louw dan De Klerck 1894–1909, V:490–6), Diponegoro, yang walaupun menderita luka di kaki (Nypels 1895:153), memutuskan untuk mengembara di hutan-hutan Bagelen barat.

Hanya kedua punakawannya (pengiring pribadi), Bantengwareng (sekitar 1808–1858) dan Roto, yang mendampingi dia dalam seluruh pengembaraan itu (Louw dan De Klerck 1894– 1909, V:423; Carey 1974a:25).

Pengembaraan ini, yang pada awalnya membawa Diponegoro ke kawasan Remo yang terpencil antara Bagelen dan Banyumas, terus berlanjut hingga 9 Februari 1830 ketika perundingan-perundingan langsungnya yang pertama mulai dengan Kolonel Jan Baptist Cleerens (1785–1850).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini