Banyak Penumpang Terlantar, Satgas Minta Perusahaan Angkutan Umum Bertanggung Jawab

Dita Angga R, Sindonews · Kamis 06 Mei 2021 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 337 2406700 banyak-penumpang-terlantar-satgas-minta-perusahaan-angkutan-umum-bertanggung-jawab-VodMZO0ie8.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku, Adisasmito mengatakan bahwa Satgas menerima banyak laporan adanya pemudik yang terlantar di pintu-pintu penyekatan di perbatasan antardaerah. Masyarakat yang terlantar ini karena tidak lengkapnya syarat perjalanan ke luar kota.

“Sampai saat ini satgas sudah menerima banyak laporan dan temuan di lapangan adanya penumpukan masyarakat yang memanfaatkan transportasi umum yang terlantar di pintu penyekatan akibat tidak memenuhi syarat perjalanan,” katanya dalam konferensi persnya, Kamis (6/5/2021).

Baca juga:  414.774 Kendaraan 'Kabur' dari Jakarta Sebelum Mudik Dilarang

Dia mengingatkan, bahwa hal tersebut akan menimbulkan kerumunan. Wiku pun meminta agar perusahan-perusahaan angkutan umum bertanggungjawab mengembalikan penumpang ke wilayah asal perjalanan.

“Terlihat penumpukan ini menimbulkan kerumunan dan beberapa orang terlihat tidak memakai masker. Mohon kerjasamanya bagi perusahaan angkutan umum untuk mengembalikan lagi para penumpang ke tempat asal perjalanan,” ungkapnya.

Baca juga"  Penyekatan Larangan Mudik, Penumpang KRL Tujuan Rangkasbitung Terlantar di Tigaraksa

Wiku mengingatkan, bahwa pada tanggal 6 Mei ini merupakan hari pertama diberlakukannya periode peniadaan mudik. Dia kembali mengingatkan agar seluruh masyarakat mematuhi aturan ini.

“Nantinya prasyarat perjalanan yang harus dimiliki pelaku perjalanan dengan syarat khusus untuk bepergian akan diperiksa satu persatu di pintu kedatangan atau terminal penumpang atau pelabuhan sungai danau dan penyeberangan. Kemudian rest area atau tempat istirahat pelaku perjalanan, perbatasan kota besar, dan titik pengecekan dan titik penyekatan kawasan perkotaan atau pusat kegiatan nasional atau aglomerasi,” pungkasnya.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini