Kisah Nyata, Mantan Pengamen & Kuli Bangunan Jadi Juragan Beras

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 06 Mei 2021 06:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 337 2406353 kisah-nyata-mantan-pengamen-kuli-bangunan-jadi-juragan-beras-uCvlKwJGWq.jpg Juragan beras Nellys Soekidi (Foto: Doddy Handoko)

JAKARTA - Jalan hidup yang ditempuh Nellys Soekidi sangat berliku. Tamat SMA di Ngawi, Jawa Timur, ia pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib. Tanpa tujuan yang jelas membuat ia harus bekerja serabutan dari mulai kuli bangunan sampai mengamen di bus-bus kota.

“Tahun 1990 akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Tujuannya tidak jelas, karena itulah untuk menyambung hidup saya bekerja kasar sebagai pekerja bangunan,” katanya, Kamis (6/5/2021).

Kondisi ekonomi keluarga yang lemah membuatnya harus melakukan hal ini. Jika proyek bangunan sedang sepi, Nellys juga tak segan untuk berburu rezeki di bus kota. “Saya sering mangkal di kawasan Blok M. Kalau buruh bangunan lagi tidak ada, saya terpaksa mengamen untuk menyambung hidup,” ujarnya lagi.

Beruntung suatu ketika saat mengamen di bus kota, ia bertemu dengan seorang teman dari kampung halaman yang dikenalnya. Tak ragu, temannya pun mengajak Nellys untuk bekerja di toko beras kepunyaan bos temannya. Kala itu, ia ditawari pekerjaan sebagai bagian pembukuan.

“Itu terjadi sekitar tahun 1992. Saya diajak untuk bekerja di toko beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Tugasnya mencatat semua pengeluaran dan pemasukan toko, dengan gaji yang masih rendah,” aku Nellys.

Ketekunan dan gaya hidupnya yang hemat membuatnya bisa mengumpulkan modal. Dari bekerja selama kurang lebih satu tahun, ia pun mampu menabung uang Rp3 juta. Selain itu, yang lebih penting lagi ia telah mengantongi banyak relasi di dunia penjualan dan pembelian beras. Karena itulah, di tahun 1993 ia nekat untuk berhenti dan memulai berjualan beras sendiri di los pasar.

“Modal saya hanya Rp3 juta. Dengan modal itu saya hanya bisa berjualan di los pasar, tidak memiliki toko. Untungnya banyak relasi saya yang mensupport, mereka menyimpan berasnya di saya untuk dijual dengan sistem konsinyasi, barang habis baru dibayar,” kisahnya.

Pelan tapi pasti, meski berjualan di los pasar, dalam sehari ia mendapat pasokan beras hingga 15-20 ton yang habis dalam waktu sehari atau dua hari. Karena penjualan Nellys yang terbilang bagus, akhirnya para pemasok beras pun semakin percaya dengan Nellys.

“Setelah barang habis, uangnya saya langsung berikan ke pemasok. Saya tidak menunda-nunda pembayaran. Untungnya saya tabung, tidak dipakai konsumtif,” ujarnya.

Baca juga: Sambut Kepulangan 14.000 Pekerja Migran, Khofifah Siapkan Tempat Karantina

Lama kelamaan untung dari penjualan beras yang ditabungnya pun membesar. Setelah lima tahun berjualan di los, akhirnya ia mampu membeli sebuah toko (kios) yang lebih layak seharga Rp160 juta.

“Dengan membeli sebuah kios di PIBC, bisnis saya semakin lancar. Untungnya saya tabung lagi, begitu seterusnya sampai saat ini saya bisa membuka beberapa kios lainnya,” ujar pria yang menamai toko berasnya dengan nama Nellys Jaya ini.

Baca juga: Raih Rp21 Juta per Bulan, Gamers Disabilitas Ini Bantu Ekonomi Keluarga

Keuletannya di dunia beras membuat namanya makin berkibar di PIBC. Ia tercatat sebagai salah satu pedagang beras terbesar di kawasan itu. Saat ini, ia telah memiliki lima kios beras di PIBC dan beberapa di daerah Jabodetabek seperti Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, Bintaro dan Cengkareng.

“Jumlah totalnya ada sekitar 12 toko beras di Jabodetabek. Beras didatangkan dari Garut dan Cirebon,” ungkapnya.

Dengan penjualan beras yang terbilang besar itu, dalam sebulan ia mampu meraup omset miliaran. “Kalau soal untung bersihnya hanya sedikit. Tapi bagi saya yang penting kontinyu-nya,” tandas pria yang kini mempekerjakan 34 karyawan ini.

Agar bisnisnya semakin berkembang, ia tak meremehkan soal pendidikan. Untuk itulah ia juga melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil jurusan manajemen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

“Memang benar kalau pendidikan mampu meningkatkan kualitas diri saya. Dengan pendidikan, saya semakin terbuka dan semakin jeli dalam melihat peluang,” aku ayah dua anak ini.

Setamat kuliah, ia pun membidik peluang bisnis lainnya, yakni penggilingan padi. Itu terjadi di tahun 2008, ia membuka penggilingan padi berkapasitas 25 ton perhari di daerah kelahirannya, Ngawi, Jawa Timur.

“Tahun 2008 saya bangun pabrik penggilingan padi di Ngawi, yang menghabiskan dana sekitar Rp3 miliar. Pabriknya bisa dibilang skala besar karena mampu menggiling sampai 25 ton sehari dan dibangun di atas lahan 4.000 meter persegi, juga ada gudang penyimpanan berasnya,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini