Kisah Fikri Haikal, Putra KH Zainuddin MZ yang Dikenalkan ke Gus Mik & Abah Anom oleh Ayahnya

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 06 Mei 2021 06:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 337 2406350 kisah-fikri-haikal-putra-kh-zainuddin-mz-yang-dikenalkan-ke-gus-mik-abah-anom-oleh-ayahnya-6zk20dJkmd.jpg Fikri Haikal Hasan (Foto: Doddy Handoko)

JAKARTA - Putra sulung KH Zainuddin MZ, Fikri Haikal Hasan MZ dikenal banyak kemiripan dengan sang ayah yang merupakan dai sejuta umat. Kemiripan itu mulai dari wajah, perawakan , gerak gerik, dan gaya bicara.

Maka tak heran Fikri disebut-sebut sebagai pewaris kepiawaian almarhum KH Zainuddin MZ dalam berdakwah. Pada 1987, Fikri berangkat ke Jatim untuk belajar di pesantren tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Maka dia berangkat ke Jawa Timur di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Dia juga sempat menempuh pendidikan di pesantren Asshidiqiyah yang dipimpin KH Nur Iskandar SQ. Dari sana, dia kemudiah kuliah di Universitas Muhammadiyah di Cirendeu, Jakarta mengambil kuliah di fakultas Ushuludin, bagian perbandingan agama. Fikri kuliah pada 1992 dan wisuda pada 1996.

Mengenai ziarah makam, Fikri mengaku pernah ziarah ke beberapa makam ulama. Hampir semua wali songo sudah diziarahi, meski, ada beberapa yang belum diziarahi.

Baca juga: Sebelum Meninggal Dunia KH Zainuddin MZ Sudah Tentukan Lokasi Makam

Makam Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Gresik, Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Kudus dan juga makam Gus Dur sudah dia ziarahi. Namun, makam Sunan Bonang dan Sunan Muria belum sempat dia ziarahi.

Makam ulama di Jabotabek yaitu makam Habib Luar Batang dan makam Habib Empang Bogor telah sering diziarahinya.

“Saya tidak minta apa-apa kepada ulama yang meninggal tapi kami mengirimkan doa,” katanya.

Fikri tidak hanya mendatangi ulama yang sudah wafat tapi juga ulama yang masih hidup. Dia pernah mengunjungi ulama legendaris Gus Mik dengan dikenalkan oleh ayahnya KH Zainuddin MZ.

Waktu itu Fikri masih menjadi santri di Tebuireng. Selain itu, dia juga diajak berkunjung oleh ke kediaman KH Hasyim Muzadi, dan KH Hamid di Pasuruan. Lalu KH Maemun Zubair atau Mbah Moen.

“Waktu saya di Tebuireng saya dikenalkan dengan Kiai-Kiai besar oleh ayah saya. Dikatakannya bahwa saya ini salah satu putranya. Hal ini terus saya tradisikan,” katanya.

Baca juga: Peristiwa 2 Maret: KH Zainuddin MZ Lahir, Maroko Merdeka dari Prancis

Ketika silaturahmi ke ulama, Fikri menceritakan, dirinya meminta berkah buat pribadinya, dia selalu membawa sebotol air mineral. Menurut dia, orang awan dengan orang alim itu beda, ilmu dan ibadah orang alim pasti lebih ikhlas dan tulus.

Dia pun meyakini bahwa doa orang-orang saleh yang lebih rajin beribadah kepada Allah akan lebih cepat terkabul.

“Itu yang saya lakukan. Sampai sekarang jika ketemu kiai Sepuh, tradisi itu dia jalankan. Apalagi sejak ayah saya meninggal, saya selalu meminta kiai bersangkutan untuk mendoakan dan membacakan Al Fatihah bagi almarhum KH Zainuddin MZ. Memang pendekatan seorang hamba pada Allah secara kasat mata tidak dapat diketahui, tapi karena kedekatan seorang ulama pada Allah saya yakin mereka memiliki karomah,” ujarnya.

Fikri merasa berkesan ketika berkunjung ke pesantren Abah Anom di Tasikmalaya. Dia pernah bertemu abah anom di Tasikmalaya dengan ayahnya. Saat itu, dirinya masih muda hanya mencium tangan almarhum Abah Anom. Selebihnya dia hanya mendengarkan ayahnya dan Abah Anom mengobrol.

"Saya dikenalkan pada abah Anom oleh ayah saya. Saya tahu Abah Anom dengan KH Zainuddin MZ sayang sekali. Saya tahu jika ayah ada acara di Jawa Barat selalu menyempatkan diri untuk mampir ke Abah Anom,” ungkapnya.

Fikri sangat berkesan selama berkunjung ke ulama dengan ayahnya. Dia ketika bertemu ulama-ulama selalu mendapatkan pesan untuk meneruskan yang dikerjakan ayahnya baik dalam tablig maupun dalam tradisi ziarah dan silaturahminya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini