Kisah Sunan Kudus Menusuk Siku Kebo Kenanga Murid Syeh Siti Jenar

Doddy Handoko , Okezone · Rabu 05 Mei 2021 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 337 2405763 kisah-sunan-kudus-menusuk-siku-kebo-kenanga-murid-syeh-siti-jenar-DpJ9cLLB95.jpeg Sunan Kudus.(Foto:Dok Okezone)

Kebo Kenanga bidikan utama, posisinya sebagai seorang adipati di wilayah Pengging banyak mmeiliki pengikut. Kebo Kenanga kukuh dalam mempertahankan keyakinannya.

Akhirnya penguasa Demak yang didukung Wali Songo, memutuskan untuk memberikan hukuman mati kepada Kebo Kenanga. Sunan Kudus yang diutus sebagai eksekutornya.

Sunan Kudus disambut baik di Pengging. Hingga kemudian keduanya saling beradu pandangan terkait ajaran Islam.

Sebenarnya Sunan Kudus mengakui bahwa apa yang disampaikan Kebo Kebanga benar. Tapi sebagaimana ajaran Syeh Itu Jenar. Tentu dibutuhkan tingkatan spiritualitas tinggi untuk bisa memahami dengan baik.

Padahal saat itu masyarakat masih dalam tahap awal mengenal Islam. Sehingga justru dipandang membahayakan akidah mereka. Makanya Kebo Kenanga tetap harus dihukum mati. Di Babad Tanah Jawi diceritakan pertemuan Sunan Kudus dan Kebo Kenanga.

Suasana Kadipaten Pengging benar-benar lenggang. Penduduk pergi ke sawah dan ladang masing-masing. Pendapa atau istana Kadipaten tidak kelihatan.

Sunan Kudus memerintahkan tujuh orang pengikutnya menunggu di ujung desa. Dia sendiri berjalan menuju rumah Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging.

Di depan pintu rumah Ki Ageng Pengging ada seorang pelayan wanita setengah baya. Sunan Kudus memberi salam kemudian mengutarakan maksud kedatangannya untuk menemui Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng bersedia menerima tamunya. Sunan Kudus dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya. Istri Ki Ageng Pengging membuatkan minuman untuk menghormat tamu khusus itu. Tinggallah di ruang tamu itu Ki Ageng Pengging dan Sunan Kudus.

"Wahai Ki Ageng, saya diperintahnya oleh Sultan Demak Bintoro. Manakah yang kau pilih. Di luar atau di dalam? Di atas atau di bawah?" tanya Sunan Kudus.

Ki Ageng Pengging menghela nafas, tiga tahun yang lalu dia juga diberi pertanyaan serupa oleh Ki Wanasalam, Patih Demak Bintoro.

"Jawabanku tetap sama dengan tiga tahun yang lalu," kata Ki Ageng Pengging. "Atas-bawah, luar-dalam adalah milikku. Aku tak bisa memilihnya," tuturnya.

Jawaban itu bagi Sunan Kudus sudah sangat jelas. Berarti Ki Ageng Pengging punya maksud ganda. Ingin menjadi rakyat atau bawahan Demak Bintoro sekaligus ingin menjadi penguasa Demak Bintoro. Ia tidak mau mengakui Raden Patah sebagai raja Demak.

Ki Ageng Pengging murid Syekh Siti Jenar, gurunya yang sudah dihukum mati karena kesesatannya. Sunan Kudus ingin mengetahui apakah Ki Ageng Pengging masih meyakini ilmu dari Syekh Siti Jenar itu atau sudah meninggalkan sama sekali.

"Saya pernah mendengar bahwa Ki Ageng bisa hidup di dalam mati dan mati di dalam hidup," ujar Sunan Kudus. "Benarkah apa yang saya dengar itu? Saya ingin melihat buktinya."

"Memang begitu!" jawab Ki Ageng Pengging. "Kau anggap apa aku ini maka aku akan menurut apa yang kau sangka. Kau anggap aku santri memang aku santri, kau anggap aku ini raja, memang aku keturunan raja, kau anggap aku ini rakyat memang aku rakyat, dan kau anggap aku ini Allah aku memang Allah!" lanjut Ki Ageng

Maka jelas Ki Ageng Pengging adalah pengikut Syekh Siti Jenar yang berpaham Wihdatul Wujud atau berfilsafat serba Tuhan. Paham itu adalah bertentangan dengan Islam yang disiarkan para Wali, sehingga Syekh Siti Jenar dihukum mati.

Sunan Kudus tahu murid-murid Syekh Siti Jenar itu mempunyai ilmu-ilmu yang aneh, kadangkala mereka kebal. Maka Sunan Kudus mengorek kelemahan Ki Ageng Pengging dengan jalan diplomasi.

"Seperti pengakuan Ki Ageng bahwa Ki Ageng dapat mati di dalam hidup. Saya ingin melihat buktinya!" ujar Sunan Kudus lagi.

"Jadi itukah yang dikehendaki Sultan Demak?" ujar Ki Ageng dengan suara parau. "Baiklah, tidak ada orang mati tanpa sebab, maka kau harus membuat sebab kematianku. Tapi jangan melibatkan orang lain. Cukup aku saja yang mati," ujarnya.

Sunan Kudus menyanggupi permintaan Ki Ageng. "Tusuklah siku lenganku ini …!" ujar Ki Ageng membuka titik kelemahannya. Sunan Kudus pun melakukannya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini